Amelia

Amelia
Episode 45


__ADS_3

"Mbak Amelia nggak apa-apa?" tanya Fifin.


"Nggak apa-apa, Mba Fifin, terimakasih," ucapnya.


"Dia itu siapa?" tanya Rani.


"Dia suamiku, dan sebentar lagi dia akan menjadi mantan suami," jawab Amelia.


"Kok kasar banget, Mba?" tanya Fifin.


"Dia menolak perceraian, makanya dia memaksa membawaku pulang," jawab Amelia lagi.


"Dia pasti orang yang jahat, sampai-sampai Mba meminta bercerai dengan suami mba," ucap Fifin.


"Sok tahu kamu Fin," cibir Rani. Membuat Amelia tersenyum.


"Sudah, jangan bahas pria itu! Lagian nggak ada faedahnya," ujar Amelia. Eh, kalian membelikan pesanan aku nggak?" tanya Amelia.


"Bawa dong, nih ketoprak istimewa buat ibu hamil," ucap Rani.


"Terima kasih banyak mba Rani," jawab Amelia.


"Sama-sama, Ayo masuk!" perintah Amelia.


Jam kerja sudah selesai, Amelia pun berencana untuk membereskan pekerjaanya dan akan langsung pulang ke rumah Tante Celine. Setelah teman-temannya sudah pulang, Amelia pun tidak lupa mengunci pintu butik itu. Ternyata sopir Tante Celine sudah menjemput. Dia pun langsung naik mobil dan pulang. Sebuah mobil warna hitam mengekor di belakang mobil yang ditumpangi Amelia, dan Amelia tidak menyadari itu.


Mobil melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan, tidak terasa mobil sampai di halaman rumah Tante Celine. Dia masuk ke dalam rumah tersebut. Di depan pintu gerbang, Arga nampak sedang mengamati rumah besar tersebut.


"Rumah siapa ini?" gumamnya. "Apakah rumah ini adalah rumah wanita tua itu?" tanyanya dalam hati. "Jadi wanita tua itu adalah orang kaya," lirihnya.


"Sial, pasti wanita tua itu yang memiliki rencana agar Amelia berpisah dengan ku," ujarnya, Arga berdialog dengan dirinya sendiri.


Kemudian dia pergi, dan melajukan mobilnya untuk kembali ke rumah. Arga tidak henti-hentinya mengumpat dirinya sendiri karena kebodohannya. Mobil sampai di depan rumah, Dahlia sudah menunggu kedatangannya di depan teras.


"Dari mana saja kamu?" ketus Dahlia.

__ADS_1


"Pulang kerja, Bu," jawab Arga.


"Pulang kerja kok jam segini," cibir Dahlia. "Ibu tahu, kau mencari keberadaan Amelia kan? Ratih sudah menceritakan semuanya kepada Ibu," ujar ibunya. Arga menatap tajam ke arah istri keduanya.


"Apakah mulutmu tidak bisa kau kunci? Kenapa kau selalu membawa nama ibuku di rumah tangga kita?" kesal Arga kepada Ratih.


"Apakah aku salah, Mas?" tanya Ratih. "Aku hanya ingin kamu sadar, bahwa aku sedang mengandung darah daging kamu, Mas! Jadi, aku mohon, tolong perhatikan aku dan calon bayi kita," jawabnya panjang lebar.


"Lupakan Amelia, dan ceraikan dia!" perintah Ratih.


"Tutup mulut kamu ya!"marah Arga. "Aku tidak akan pernah menceraikannya, aku sangat mencintainya, dia adalah wanita yang sangat berharga buat ku," sergahnya.


"Arga, untuk apa kau mempertahankan wanita itu? Dia saja sudah melayangkan gugatan cerai buat kamu, kenapa kamu masih mengejar-ngejarnya?" kesal Dahlia. "Apakah karena hutang budi? Kau bisa memberikan uang kepadanya, dan masalah akan beres," tutur Dahlia. "Ibu heran dengan kamu, jika memang kau cinta seharusnya kau tidak tidur dengan wanita lain! Tapi, kau sudah membuat wanita lain hamil anak kamu, seharusnya kamu lebih memperhatikan darah daging kamu sendiri," jelas ibunya panjang lebar.


"Bu, hubungan ku dengan Amelia terjalin saat kami masih duduk di bangku sekolah! Masa aku harus melupakannya begitu saja," ucap Arga.


"Ibu tidak mau tahu, pokoknya kau harus secepatnya meninggalkan Amelia! Jika, teman-teman ibu sampai tahu, bahwa anak yang ada di dalam kandungan Amelia bukan anak kandung kamu, ibu bisa sangat malu," ujarnya. "Bukankah Amelia sendiri yang meminta untuk bercerai?" tanya Dahlia.


"Jadi tunggu apalagi? Ceraikan dia? Dan mulailah hidup bahagia dengan Ratih dan anakmu!" tutur ibunya panjang lebar.


"Mas, kau mau kemana?" tanya Ratih. Namun tidak dijawab oleh Arga, karena hatinya benar-benar sedang kesal.


Hari ini Amelia sedang sibuk dan berkutat di dapur milik Tante Celine. Untuk makan malam, dia ingin memasak sendiri untuk orang-orang di rumah Tante Celine. Hari ini dia membuat soto khas Betawi. Dengan sentuhan terakhir, soto tersebut sudah tertata rapi di meja makan.


"Selamat malam, Sayang!" sapa Tante Celine menuju meja makan bersama dengan Alina dan Sherly.


"Malam, Tan! Silahkan duduk, karena hari ini Amelia memasak soto khas Betawi, Tante dan Alina cobain yah?" pinta Amelia.


"Wah, pasti masakan kamu enak, Sayang! Dulu saja pas Tante makan malam di rumah kamu, masakan kamu enak banget," puji Tante Celine.


"Aku cobain yah? Sepertinya menggugah selera banget," ujar Alina. Malam ini, Alina kembali menginap di rumah Mamanya, karena dia masih ingin memastikan kondisi Mamanya.


"Gimana? Enak nggak, Al?" tanya Amelia penasaran.


"Heum, tidak enak," ujar Alina, membuat Celine memandang ke arah Alina, dan sepertinya Amelia juga kecewa. "Tapi, ini luar biasa lezat," imbuhnya lagi. Terbitlah semburat senyuman di wajah cantik Amelia.

__ADS_1


"Ish, kau sedang menggoda ku, Al," manyun Amelia.


"Ha ... Ha ... Ha." tawa semuanya. Di samping Amelia, Sherly nampak cemberut saja. Entah apa yang membuatnya cemberut.


"Kenapa cemberut?" tanya Amelia.


"Kenapa Oma dan Tante Alina di tawari makanan enak, sedangkan Sherly tidak?" manyun Sherlly. Mereka bertiga saling berpandangan, lalu tertawa terbahak-bahak. Menurut mereka sangat lucu.


"Sherly sayangnya Tante, Apakah mau mencoba untuk menikmati masakan Tante ini?" goda Amelia. Sherly masih bermuka masam.


"Nanti Tante suapi lho?"


"Ehm, boleh deh," jawabnya. Mereka pun menikmati satu mangkok soto buatan Amelia, dan Alina juga menikmatinya sampai habis tidak tersisa.


Selesai makan malam, Amelia menemani Sherly untuk belajar. Alina yang melihat keakraban keduanya merasa sangat senang.


"Apa yang kau lihat?" tanya Celine mengagetkan putrinya.


"Ish, Mama, mengagetkanku saja," manyun Alina. Mamanya terkekeh geli.


"Sherly begitu akrab dengan Amelia, setelah bercerai jodohkan saja dia dengan Kak Thomas," ujar Alina.


"Mama juga sependapat dengan mu, Al! Mama sangat menyukai gadis ini," ujarnya. "Dia wanita yang sangat baik, lembut dan keibuan," tambah Celine.


"Suaminya sangatlah bodoh!" umpatnya. "Membuang berlian demi kerikil tajam," imbuhnya lagi.


"Maksud Mama?" tanya Alina tidak paham.


"Laki-laki itu sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Amelia, padahal selama ini dia berusaha keras menjadi istri dan wanita yang terbaik! Laki-laki itu sudah hilang akal, karena berkat kerja keras Amelia dia bisa menjadi seorang manager! Tapi, sombongnya minta ampun," jelas Tante Celine kepada Alina. "Baru saja menjadi seorang manager, bagaimana kalau dia seorang CEO? Mungkin dia akan menikahi banyak wanita karena jabatan dan uangnya," umpat Celine mengumbar kan kekurangan suami Amelia.


"Oh, jadi begitu," ucap Alina yang baru tahu masa lalu Amelia. "Semoga saja berjodoh dengan Kak Thomas, Ma!"


"Iya, Sayang! Mama juga berharap begitu," ujarnya.


to be continued...

__ADS_1


__ADS_2