
Hari ini Arga mengajak Keyla berjalan-jalan di taman. Kebetulan dia juga ada janji bertemu dengan Ratih di taman. Sebelumnya, Ratih sudah menghubungi mantan suaminya, ingin bertemu Keyla. Dia masih belum berani datang ke rumah karena Dahlia
menolaknya dengan keras.
Taksi berhenti tepat di depan Arga yang sedang duduk di taman. Seorang wanita memakai gamis dan hijab berwarna hijau turun dari taksi tersebut. Dan ternyata wanita itu adalah Ratih.
Hampir saja Arga tidak mengenalinya. Karena Ratih begitu cantik dan anggun dengan balutan gamis dan hijab.
"Ratih?" heran Arga.
"Iya, Mas, ini aku. Apakah kau tidak mengenaliku?" ucapnya sambil tersenyum.
"Hampir saja aku tidak mengenalimu. Kau terlihat sangat cantik," jawab Arga.
"Kau bisa saja!" jawab Ratih malu-malu.
"Hey, anak Bunda yang cantik!" panggil Ratih kepada Keyla. Ratih langsung membopong Keyla dari pangkuan ayahnya, "Lama tidak bertemu. Bunda kangen, Sayang!" Ratih terus menciumi pipi gembil Keyla.
"Duduklah!" Arga mempersilahkan Ratih duduk disebelahnya.
"Terima kasih banyak, Mas. Kamu memperbolehkan aku menemui Keyla," ujarnya.
"Iya. Aku tidak mungkin tega, memisahkan seorang ibu dengan putrinya," jawab Arga.
"Bagaimana kabar kamu, Mas?"
"Alhamdulillah aku baik, Keyla juga baik, semuanya baik. Dan kau, bagaimana? Aku lihat penampilan kamu sedikit berbeda?" tanya Arga penuh selidik.
"Huft." Ratih menghela nafasnya panjang, "Ceritanya panjang, Mas," jawab Ratih menghela nafas.
"Ceritakanlah. Aku siap mendengarkan!" ujar Arga, "Tapi, Ayo kita duduk di sebelah sana! Sepertinya tempatnya cukup nyaman!" Arga menunjuk pada sebuah tempat makan lesehan.
"Baiklah," jawab Ratih.
__ADS_1
Mereka berdua pun duduk di tikar yang sudah disediakan oleh penjualnya.
"Pak, pesan bubur ayam dua ya! Yang satu tidak pakai sambal dan kerupuknya yang banyak!" pesan Arga kepada penjual bubur ayam.
"Baik, Mas. Minumnya apa?" tanya Penjual.
"Teh manis saja, Pak!"
"Baik, di tunggu ya, Mas, Mba!" ujar Penjual tersebut.
Beberapa menit kemudian, pesanan sudah disajikan di atas meja yang tidak terlalu tinggi. Jadi sangat pas untuk duduk lesehan di tikar.
"Makanlah, Ratih! Aku lapar, temani aku makan! Aku belum sempat sarapan!" ujar Arga.
"Terima kasih banyak, Mas. Kamu tahu saja kalau aku tidak suka pedas!" ucap Ratih.
"Aku masih ingat dengan apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka," jawabnya, membuat Ratih tersipu malu.
"Eh, Sayang, Kamu mau?" tawar Ratih kepada putrinya. Anak sepintar Keyla pasti dia ingin mencicipi segala sesuatu yang dia lihat. Terutama makanan yang ada dihadapannya. Ratih sangat gemas dibuatnya.
"Aku di pesantren, Mas," lirihnya, " Aku menimba ilmu agama. Karena selama ini aku tidak pernah mengenal agama. Aku ingin berubah dan bertaubat. Aku yakin bahwa Allah pasti mengampuni dosa seorang pezina seperti aku, Mas," jelas Ratih dengan mata berkaca-kaca, "Seperti ustadzah di pesantren, mengatakan bahwa Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya."
"Maafkan Saya, Ratih. Dulu sebagai suami saya tidak bisa menjadi seorang imam yang benar," sesal Arga.
"Ibarat nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah terjadi tidak perlu disesali. Jalan salah yang kita ambil pasti ada resikonya. Sekarang Ratih hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik. Dan menjalani hidup ini dengan rasa syukur. Ratih sadar selama ini jalan yang Ratih jalani adalah jalan salah. Tapi, Ratih percaya satu hal. Masih ada kesempatan kita berubah. Dan Ratih ingin berubah dan menjadi panutan yang baik untuk Keyla," ujarnya.
Arga melihat sosok lain di diri mantan istrinya. Dia begitu berubah dan sangat berbeda. Entah kenapa hatinya begitu tercubit mendengar penjelasan Ratih. Selama ini memang dia tidak pernah menjadi seorang imam yang baik untuk kedua istrinya. Hingga akhirnya dia harus kehilangan mereka berdua.
Lumayan lama mereka mengobrol, hingga waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Ratih pun memutuskan untuk pulang. Dia berpamitan kepada Arga dan putrinya. Dia terus menciumi pipi Keyla dengan sayang.
"Maafkan Bunda selama ini tidak pernah memberikan ASI Bunda kepadamu, Sayang. Bunda juga sudah mengabaikan mu selama ini. Bunda tidak bisa memberikan apa-apa kepadamu. Hanya do'a yang selalu Bunda selipkan di setiap Dhuha dan tahajud, Bunda. Semoga kamu menjadi anak yang Soleha, berbakti kepada ayah dan nenekmu," ucap Ratih penuh linangan air mata. Bukan air mata kesedihan, melainkan dia merasa sangat bersalah karena waktunya dia buang dengan percuma selama ini. Setelah mengecup pipi Keyla, Ratih pun pergi meninggalkan mantan suami dan anaknya yang masih berdiri di sana.
Ratih berjalan memberhentikan taksi. Dia masuk ke taksi tersebut dan meninggalkan taman. Dia menyuruh Pak Sopir untuk berhenti di masjid depan sana.
"Kita ke Masjid depan ya, Pak. Saya mau sholat dhuhur dulu!"
__ADS_1
"Baik, Neng!" Sampai di depan Masjid, Ratih memberikan uang kepada Pak sopir taksi.
"Terimakasih, Neng!" ucapnya. Di jawab anggukan oleh Ratih. Dia pun melangkahkan kakinya masuk ke Masjid.
Ratih mengambil wudhu, dan mengerjakan kewajibannya sebagai umat Islam yaitu sholat dhuhur. Setelah selesai mengerjakan sholat, tidak lupa dia berdo'a. Selalu memohon ampun atas kesalahannya selama ini.
"Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ampunilah dosaku dan kesalahanku. Dosa zina yang dulu pernah aku lakukan. Berikanlah selalu petunjukmu, agar aku tidak salah langkah lagi, Amin,"
Ratih keluar dari mesjid, dan dia harus bergegas sampai di pesantren sore hari. Karena ba'da Maghrib akan diadakan acara pengajian di pesantrennya.
JERMAN
Hari ini Bram sengaja meliburkan diri untuk menemani Alina berjalan-jalan. Karena sedari malam istrinya terus merengek meminta jalan-jalan.
"Sayang, sudah siap?" tanya Bram.
"Sebentar lagi, Bang!" jawab Alina.
Setelah siap Alina keluar dari rumah, dan suaminya sudah menunggu di dalam mobil.
"Ayo, Bang. Aku sudah siap!" jawabnya.
"Ayo, kita berangkat!" ucap Bram.
"Memangnya kita mau kemana, Bang?"
"Ada deh, pasti kamu sangat menyukainya!" ujarnya, membuat Alina memberengut kesal karena sang suami main rahasia-rahasiaan.
Mobil Bram melaju dengan kecepatan sedang, dia sengaja melakukannya agar istrinya bisa menikmati keindahan kota Jerman dari sudut pandang yang berbeda.
Sampailah mereka di kota Frankfurt. Frankfurt termasuk kota wisata romantis di Jerman. Kota metropolis di Jerman tengah ini merupakan tempat sempurna untuk pasangan mencari tempat ramai namun tetap memberi kesan romantis.
Setelah menikmati kota tersebut, Bram mengajak istrinya menaiki perahu menyusuri Sungai Main. Bram juga mengajak Alina menuliskan nama di gembok Eiserner Steg Bridge. Alina begitu bahagia, apalagi suasana romantis seperti ini baru pertama kali baginya.
Bram mencari penginapan kecil di sana. Agar mereka bisa berlibur sekaligus menikmati honey moon kedua mereka. Di balkon hotel, pihak hotel menyiapkan makan malam berpenerangan lilin dengan cakrawala Kota Frankfurt yang menakjubkan. Alina sangat kagum melihat keindahan Kota tersebut di malam hari.
__ADS_1
to be continued.......