Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Panutan Semasa Hidup


__ADS_3

Seusai mendapatkan kebenaran dari Lion, Andressa langsung memanggil Calvin untuk menghadap padanya. Calvin tampak gelisah ketika mendapat kabar Andressa ingin bertemu dia.


Calvin melangkah penuh keraguan masuk ke ruang pribadi Andressa sambil didampingi Amelia. Entah mengapa, aura Andressa terasa amat mendominasi baginya.


"Nona, saya sudah membawa Calvin," kata Amelia.


"Oh, terima kasih. Kau boleh keluar sekarang. Tinggalkan aku berdua saja bersama Calvin."


Amelia membungkuk lalu pergi sesuai perintah Andressa. Lalu Calvin mencoba mengatur rasa cemas yang mendera dirinya.


"Kenapa Anda memanggil saya kemari, Nona? Mungkinkah saya membuat kesalahan fatal dan Anda ingin menegur saya?" tanya Calvin menerka-nerka.


"Tidak. Mengapa kau beranggapan seperti itu?"


Raut muka Calvin tak karuan. Rasa gelisah masih saja mencoba mencekik dirinya. Seakan-akan ada sesuatu yang terjadi di masa lalu sampai membuatnya cukup trauma sehingga trauma itu masih terbawa hingga ke kehidupannya saat ini.


"Dahulu biasanya saja dipanggil secara pribadi begini ketika saya berbuat kesalahan. Maka dari itu, saya sedikit berdebar dan takut saat Anda membawa saya ke ruangan Anda, Nona."


Calvin tertekan. Dia tertekan karena dulu seringkali dimarahi habis-habisan setiap kali dirinya dipanggil ke ruang atasan. Kini dia berhati-hati dalam setiap tindakan supaya ia tidak mendapatkan perlakuan yang sama seperti dahulu kala.


"Itu hanya masa lalumu. Saat ini kau kan berada di klinikku. Aku takkan menekanmu kecuali kalau kau membuat kesalahan yang menyebabkan nyawa pasien dalam bahaya," tutur Andressa.


Calvin sesaat merasakan kelegaan. Tekanan di dalam dirinya lenyap begitu saja tatkala mendengar suara lembut Andressa.


"Saya paham maksud Anda, Nona. Lalu apa yang hendak Anda bicarakan kepada saya?"


Andressa menopang kedua tangan di dagu. Dia memandangi Calvin dengan tatapan lurus.


"Aku ingin bertanya satu hal padamu. Namun, kau harus menjawabnya dengan jujur."


"Silakan tanyakan apa saja. Saya akan menjawabnya jujur."


Andressa memperlihatkan kembali kepada Calvin hasil dari praktek sebelumnya.


"Aku baru mengajarimu satu kali, tetapi hasil praktekmu sempurna sebagai seorang tabib pemula. Aku mau bertanya, apa kau jiwa yang berasal dari dunia modern?"

__ADS_1


Calvin tersentak. Gelagatnya langsung berubah panik kala Andressa bertanya demikian. Dia bingung harus menjawab apa dan bagaimana.


"Dari mana Anda mengetahuinya? Mungkin Anda juga ...."


Andressa membalas dengan sebuah senyuman. Tanpa dijelaskan lebih lanjut pun Calvin tahu bahwa Andressa juga merupakan jiwa pendatang.


"Bisa dibilang begitu. Aku yakin, di kehidupanmu sebelumnya kau juga seorang dokter kan?"


Entah mengapa, perasaan panik yang dia rasakan sebelumnya langsung menghilang seketika. Saat ini Calvin terlihat lebih santai dibanding sebelumnya.


"Benar, Nona. Saya dulu adalah seorang dokter residen di salah satu rumah sakit ternama di negara saya. Rumah sakit itu bernama Rumah Sakit Wilford," papar Calvin.


Andressa terdiam selama sepersekian detik mendengar penjelasan Calvin. Dia terhening sesaat Calvin menyebut Rumah Sakit Wilford. Dia menyimpan memori tentang rumah sakit tersebut.


"Wilford? Apa itu rumah sakit bedah yang terkenal?"


Calvin mengangguk cepat.


"Iya, mungkinkah Anda juga berasal dari tempat yang sama seperti saya?"


"Bisa dibilang seperti itu. Tampaknya aku sungguh berasal dari dunia yang sama denganmu. Apa kau mengenal seorang dokter bedah muda bernama Andressa?"


Ekspresi Calvin lagi-lagi berubah. Kali ini dia terlihat syok. Sejenak Andressa keheranan melihat pemuda ini mudah sekali bertukar ekspresi.


"Oh tidak! Jangan bilang Anda dokter Andressa? Dokter bedah muda yang terkenal di kalangan medis dunia. Nama itu ada di mana-mana. Semua buku medis mencantumkan nama dokter Andressa," ujar Calvin disertai semangat yang menggebu-gebu.


Andressa tertawa kecil. Tidak disangka dia punya dampak luar biasa begini di kalangan tenaga medis.


"Ya, aku dokter Andressa yang kau maksud. Bagaimana bisa namaku tercantum di buku-buku medis? Memangnya sudah berapa lama aku meninggal di sana?"


"Anda sudah meninggal sekitar dua puluh tahun lalu, Nona. Teknik bedah Anda kini banyak tertulis di buku medis. Dan tidak sedikit orang yang menjadikan Anda sebagai panutannya. Salah satu orang itu adalah saya. Sejak lama saya memimpikan ingin menjadi dokter yang mempunyai bakat bedah layaknya diri Anda."


Calvin mengungkap sesuatu tentang perputaran waktu di dunia modern yang cukup membuatnya pusing. Di sisi lain, dia juga senang sebab dia tidak dilupakan sedikit pun meski sudah menghilang.


"Kau pasti bisa mewujudkan keinginanmu itu melalui kemauanmu dalam belajar. Kau hanya perlu belajar, belajar, dan belajar. Apabila salah, perbaiki kesalahanmu," ujar Andressa memberi nasehat. "Oh iya, bagaimana kau bisa meninggal? Aku sangat penasaran tentang itu." Andressa lanjut bertanya.

__ADS_1


Calvin pun mulai bercerita. Dia berkata bahwa dahulu dia mati setelah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Dia banyak menderita selama menjadi dokter residen di rumah sakit Wilford.


Salah satu masalah yang dia hadapi ialah ketika rekannya salah memberi diagnosa terhadap pasien. Penyakit pasien itu semakin parah dan berakhir meninggal. Namun, malah dia yang dijadikan sebagai kambing hitam. Oleh sebab itulah, dia menjadi depresi.


Selain itu, dia juga sering menjadi sasaran pelampiasan emosi dari seniornya. Terkadang dia dipaksa membereskan pekerjaan seniornya yang tertunda.


"Persaingan di rumah sakit Wilford sangat mengerikan seusai kematian Anda. Semua orang ingin menjadi legenda seperti Anda. Makanya banyak yang menghalalkan berbagai cara demi mewujudkan keinginan mereka itu. Saya masih ingat sebuah cerita mengenai diri Anda. Dulu Anda merupakan pejuang keadilan kan, Nona? Kebaikan Anda dari yang terkecil sampai terbesar masih teringat jelas di ingatan orang-orang yang pernah Anda bantu."


Cerita ini menjadi sesuatu yang berbeda bagi Andressa. Kehidupannya di dunia modern terbilang tidak selalu mulus sebab dia sering sekali menemukan adanya oknum-oknum nakal yang menyalahgunakan posisi mereka. Terkadang dia menemukan kasus besar melalui pemeriksaan terhadap tubuh pasien.


Tidak hanya satu atau dua kasus, melainkan puluhan kasus. Terkadang juga Andressa dianggap dokter pencipta keajaiban. Padahal seluruh kemampuannya itu didapatkan dari dunia yang dipenuhi kekuatan supranatural. Maka dari itulah, tidak ada satu orang pun yang dapat menyaingi kemampuan Andressa dalam bidang kedokteran.


"Begitu rupanya? Aku tidak menyangka sama sekali hal seperti itu terjadi di dunia modern saat ini. Aku juga baru tahu mereka menjadikanku sebagai tolak ukur kemampuan mereka masing-masing dan malah menomorduakan keselamatan pasien."


Kedua mata Calvin berbinar-binar. Ketegangan di dirinya mencair dan berganti menjadi rasa kagum tidak terkira kepada Andressa.


"Saya tidak menyangka bertemu Anda di sini. Saya benar-benar penggemar Anda, Nona. Tolong izinkan saya untuk menjadi murid Anda. Ini adalah bagian dari keinginan saya sejak lama."


Calvin membungkuk sembilan puluh derajat di hadapan Andressa. Dia memohon teramat sangat agar Andressa membimbingnya secara pribadi.


"Kau mau aku ajarkan lebih banyak lagi soal teknik medis terutama pembedahan?"


Calvin mengangguk cepat. Dia mengharapkan hal demikian dari Andressa.


"Benar, Nona. Saya tidak belajar banyak selama menjadi dokter residen karena saya selalu dihalangi oleh berbagai masalah. Sekarang adalah kesempatan saya. Saya mau mewujudkan keinginan terpendam saya selama ini," tutur Calvin memperkuat tekad.


Andressa mengulas senyum bangga. Dia seperti sedang melihat dirinya di masa lalu.


"Baiklah, aku akan mengajarimu langsung. Nanti kau bisa lebih sering ikut serta dalam operasi pasien di klinik bersamaku."


Calvin semringah sesaat. Jantungnya berdegup kencang menantikan belajar dari Andressa.


"Terima kasih, Nona. Saya janji belajar lebih rajin agar tidak mengecewakan Anda."


Sesudah pembicaraan itu, Lion pamit undur diri. Sedangkan Andressa tetap berada di ruangannya. Dia duduk termenung di atas kursi. Terlintas di otaknya apa yang tadi dikatakan Calvin.

__ADS_1


"Di dunia modern aku baru mati sekitar dua puluh tahun lalu? Padahal seingatku, aku hidup di dunia modern pada kehidupan yang ke lima. Bagiku itu sudah berlalu ratusan tahun, tetapi di sana baru dua puluh tahun? Ini pasti dampak dari kacaunya perputaran ruang dan waktu," gumam Andressa.


__ADS_2