
Andressa menghela napas panjang. Tampaknya memang tidak ada pilihan selain menyerahkan masalah ini kepada pihak istana.
"Baiklah, jika ada kesulitan kau bisa menghubungiku. Aku akan membantu sebisaku," ujar Andressa.
"Ya, aku akan mencoba untuk mencari pelakunya secepatnya."
Setelah itu, Andressa pamit pergi dari istana. Sekarang dia berencana untuk kembali ke wilayah Selion. Tugasnya telah usai, Andressa juga sudah menyerahkan beberapa laporan yang mungkin bisa membantu Lorcan dalam penyelidikannya.
Selama berada di kereta kuda, Andressa hanya diam sambil memandang ke luar kaca kereta. Ada sesuatu yang mengganual di kepalanya sejak melakukan pengamatan terhadap tubuh Marchioness Jevano.
'Menciptakan virus sehebat itu, aku yakin dalangnya bukanlah seseorang yang biasa. Dia kemungkinan seorang jenius dalam ilmu pengobatan,' pikir Andressa.
Sesampai di wilayah Selion, Andressa langsung dihadang oleh kedatangan Gibson. Pria yang sudah beberapa waktu belakangan ini tak pernah terlihat, saat ini dia berdiri tepat di hadapan Andressa.
__ADS_1
"Halo, Andressa. Bagaimana kabarmu? Sepertinya kau sangat sehat." Gibson menyapa Andressa dengan senyum manis yang mencoba menggoda dirinya.
"Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk jangan pernah lagi muncul di hadapanku?!" Raut muka Andressa berubah masam.
"Bukan begitu. Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Biasanya kau selalu memulai obrolan, tetapi sekarang aku yang harus memulai lebih dulu."
Gibson benar-benar tidak tahu malu sama sekali. Padahal alasan mengapa si pemilik tubuh mati ialah karena memperebutkan pria yang tidak begitu tampan ini. Sekarang Gibson malah bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa di antara mereka.
"Apa kau kemari hanya untuk mengatakan omong kosong itu? Aku tidak peduli denganmu, jadi aku memilih untuk tidak berbicara sama sekali dengan pria semacammu ini."
"Tunggu dulu, Andressa! Biar aku bicara sebentar. Aku hanya ingin tahu penyebabmu berubah. Aku tidak mau hubungan kita menjadi seperti ini. Bisakah kau memberiku kesempatan untuk berbicara denganmu?"
Andressa berdecak sebal. Dia memutar arah pandangnya menatap Gibson.
__ADS_1
"Kau punya banyak wanita bukan? Kau berbicara saja dengan mereka, jangan berbicara padaku! Aku muak melihat wajahmu yang pura-pura polos itu."
Andressa menatap sini Gibson. Pria itu sungguh tidak diberi kesempatan untuk berpikir sedikit pun.
"Punya banyak wanita? Tidak! Sampai saat ini aku masih sendiri. Mungkinkah kau cemburu padaku? Jadi, benar selama ini kau memendam perasaan kepadaku?"
Gibson sungguh percaya diri sekali sampai membuat Andressa mual.
"Tidak! Aku tidak punya perasaan apa pun padamu. Lebih baik sekarang kau hengkang dari hadapanku! Sungguh menggelikan!"
Gibson tidak menyerah begitu saja meski telah dikasari oleh Andressa. Si pemilik tubuh tertipu habis-habisan karena Gibson selalu memasang topeng untuk mendekati banyak wanita.
"Jangan berbohong! Aku yakin kau masih menyukaiku. Baiklah, aku akan menjauhi semua wanita asalkan kau kembali lagi denganku," kukuh Gibson.
__ADS_1
"Astaga si brengs*k ini." Andressa memandang dingin pria itu. "Aku sudah bilang, aku takkan luluh hanya karena mulut manismu itu. Aku tidak mau ditipu lagi. Jadi, pergilah dari sini! Aku tidak mau melihatmu berkeliaran di depan mataku."