
Lorcan memborbardir Sirius dengan pertanyaan yang tiada hentinya. Wajar saja dia bereaksi demikian sebab selama ini belum pernah sekali pun dia bertemu seseorang dari Kekaisaran Zervian. Bahkan, dia tidak tahu rupa dari orang-orang yang tinggal di sana.
"Saya keluar dari wilayah Kekaisaran Zervian untuk mencari keberadaan seseorang," jawab Sirius.
Lorcan menghela napas panjang.
"Lalu kenapa Anda bisa sampai terluka parah seperti itu? Apakah mungkin Anda dikejar oleh seseorang?"
"Ada sederet kejadian tidak terduga ketika saya melakukan perjalanan ke luar wilayah kekaisaran. Saya terluka karena ada musuh yang sedang mengincar nyawa saya. Mohon maaf karena saya telah masuk ke wilayah kekuasaan Anda tanpa pemberitahuan apa pun."
Sirius membungkukkan badan menunjukkan permintaan maaf secara tulus darinya. Dia merasa tidak enak hati telah merepotkan Andressa maupun Lorcan.
"Anda tidak perlu meminta maaf. Saya mengira Anda adalah penyusup sebab beberapa waktu belakangan ini ada sejumlah masalah terjadi di Emilian. Lalu di mana kesatria pribadi Anda? Apa Anda pergi sendirian ke luar wilayah?"
Lorcan merasa kebingungan seketika tak menemukan siapa-siapa di samping Sirius. Seharusnya seorang Kaisar tak diperbolehkan pergi berkelana sendirian tanpa seseorang di sampingnya.
"Bawahanku terpisah denganku di tengah jalan. Aku harap mereka masih hidup sampai sekarang. Sedikit menyesal aku meninggalkan mereka ketika ada musuh datang menyerang."
__ADS_1
"Baiklah, saya paham situasi Anda. Saya akan membawa Anda ke istana. Bagaimana pun juga Anda merupakan pemimpin dari daerah lain," ujar Lorcan.
"Ya, saya akan pergi ke istana Anda nanti."
Pada hari itu, Lorcan langsung membawa Sirius ke istana atas seizin Andressa seusai memastikan sekali lagi kondisi Sirius. Untung saja tidak ada kondisi yang membahayakan tubuh Sirius.
Sesampainya di istana, Sirius mengajak Lorcan untuk berbicara empat mata kembali. Ada suatu hal yang membuatnya penasaran sedari tadi.
"Apa yang ingin Anda bicarakan?" tanya Lorcan.
Kala itu mereka berbincang di ruang kerja Lorcan.
Lorcan tersentak. Sorot mata Sirius tampak amat dalam.
"Dia adalah tabib berbakat di Kekaisaran Emilian sekaligus tunangan saya."
Sirius meneguk teh yang disajikan para pelayan.
__ADS_1
Sekali lagi Sirius bertanya, "Dari keluarga mana dia berasal?"
Ekspresi Lorcan berubah dalam sekejap. Dia menyorot tajam wajah Sirius.
"Ada urusan apa Anda dengan tunangan saya? Mengapa sepertinya Anda sangat ingin mengetahui identitasnya?"
"Gadis itu terlihat mirip dengan seseorang yang saya cari selama ini." Sirius menjawabnya penuh ketenangan.
"Tetapi, tidak mungkin dia gadis yang Anda cari kan?"
"Mungkin saja begitu karena setahu saya tidak ada orang yang punya rambut perak seperti saya di kekaisaran luar Zervian. Terlebih lagi rambut perak merupakan lambang dari keturunan langsung Kaisar Zervian," jelas Sirius.
Lorcan terdiam. Dia sedang memikirkan dalam-dalam tentang apa yang tengah dibicarakan Sirius.
"Jadi, karena itulah Anda mengira Andressa merupakan seseorang yang Anda cari selama ini?"
"Ya, saya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Andressa. Apakah Anda tahu Andressa selama ini hidup dan tinggal di mana? Apa sebelumnya dia punya keluarga?"
__ADS_1
Lorcan menjawab, "Tidak, gadis itu tumbuh di panti asuhan. Jika saya tidak salah Andressa berada di panti asuhan sejak ia berusia lima tahun. Dia pun tidak punya ingatan tentang dirinya sebelum berada di panti asuhan."