Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Klinik Adista


__ADS_3

Lorcan pun menanggapi, "Lalu apa kau tahu siapa yang menjadi dalangnya? Aku yakin mereka takkan bergerak tanpa ada orang penting di belakangnya."


"Itu yang sedang aku cari tahu. Hanya saja mereka menolak bersuara dan mengaku. Ah, bisakah kau membantuku untuk mengurung mereka di penjara istana? Aku pikir mereka lebih aman berada di penjara istana."


Pada akhirnya, atas persetujuan Lorcan, para pengkhianat itu diseret ke penjara istana. Mereka akan diinterogasi nanti setelah mereka sadarkan diri.


"Lorcan, berhati-hatilah. Aku rasa di istana juga terdapat mata-mata pihak musuh. Maksudku, bukan dari pihak Ibu Suri saja, tetapi dari pihak luar juga." Andressa memberi peringatan kepada Lorcan.


"Iya, aku tahu itu. Akhir-akhir ini suasana istana agak aneh. Aku telah memperketat keamanan dan juga rutin melakukan pemeriksaan. Hanya itu yang bisa aku lakukan sementara waktu," tutur Lorcan.


"Bagus! Setidaknya kau sudah mengantisipasi. Lain kali aku sendiri yang datang untuk mengecek para pekerja di istana. Khawatirnya, ada yang menyamar sampai kau tidak menyadari keberadaannya."


***


Beberapa hari kemudian, seluruh korban luka bakar berhasil diobati. Mereka sudah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing. Namun, mereka belum boleh berhenti mengonsumsi obat dari Andressa dan mereka diwajibkan untuk memeriksakan diri selama dua minggu sekali ke klinik Andressa di wilayah Selion.

__ADS_1


"Nona, lihat di sana!" Amelia tiba-tiba berteriak heboh menunjuk ke luar kereta kuda.


"Ada apa?" Andressa menoleh ke luar untuk melihat apa yang ditunjuk Amelia.


"Klinik kita sudah selesai direnovasi. Sekarang kita sepertinya bisa pindah ke sana."


Andressa tercengang. Kliniknya yang dulu hanya di bangunan tua nan rapuh, kini dia melihat kliniknya berubah menjadi sangat luas seperti bangunan rumah sakit di zaman modern.


"Iya, mari kita turun dan lihat lebih dekat."


"Selamat datang kembali, Nona!" Suara riuh kegembiraan mengisi klinik sekitar. Mereka tampak semringah begitu menyaksikan Andressa melangkah mendekati halaman depan klinik.


"Oh, halo semua." Andressa menyapa balik mereka.


Selepas itu, Andressa pun masuk ke dalam klinik. Dia terlihat terpukau dengan perubahan drastis kliniknya. Lirikan bola matanya amat terpana seolah-olah tatapannya memercikkan seberkas kerinduan terhadap kehidupan masa lalunya di dunia serba modern.

__ADS_1


"Sepertinya semuanya sesuai dengan yang aku inginkan. Haruskah kita pindah hari ini juga kemari?"


Amelia tersenyum lebar sambil mengangguk.


"Iya, Nona. Kita harus pindah kemari secepatnya. Saya semakin tidak sabar menjalankan praktek pengobatan lagi di klinik ini," ucap Amelia.


"Baiklah, kita akan pindah nanti."


"Nona, apa Anda belum memutuskan nama klinik kita?"


Andressa menepuk kening secara perlahan. Pantas saja dia rasa ada yang kurang, rupanya dia belum menetapkan nama kliniknya.


"Ya ampun, aku lupa. Aku sudah memikirkan nama klinik ini sejak lama. Aku berencana memberi nama klinik ini dengan nama Adista. Nama ini berarti matahari. Aku harap klinik kita bisa menjadi matahari bagi orang-orang yang kehilangan semangat hidupnya."


"Wah, sangat bagus! Saya menyukainya, Nona. Klinik Adista ya? Saya yakin kita bisa menyembuhkan semua penyakit di dunia ini sehingga orang-orang tidak perlu khawatir soal penyakitnya lagi."

__ADS_1


Andressa mengangguk. Hal itu juga menjadi harapan yang sama dengannya selama ini.


__ADS_2