
Lorcan benar-benar marah. Pria itu kesal karena niat buruk Camille. Lorcan tak rela bila Camille berhasil mengotori pakaian Andressa.
Seketika Andressa terdiam di tempat. Baru kali ini dia merasa dilindungi oleh pria. Padahal ini hal sederhana, bahkan jika dia terkena siram sekali pun, Andressa masih punya cara untuk membalasnya.
'Apa yang dia lakukan? Dia melindungiku? Aku jadi merasa tidak enak hati,' batin Andressa.
Seluruh atensi berpusat kepada mereka bertiga. Aksi Lorcan barusan menuai berbagai tanggapan dari para bangsawan.
"Apa kau baik-baik saja? Gaunmu tidak basah kan?"
Lorcan memalingkan sejenak fokusnya kepada Andressa. Dia tampak amat mengkhawatirkan kondisi Andressa. Padahal seharusnya dia lebih mencemaskan badannya.
"Seharusnya kau khawatirkan dirimu sendiri. Bagaimana kau bisa mencemaskan aku di saat-saat begini?"
Andressa berceloteh memarahi Lorcan. Kemudian dia membantu mengelap setelan pakaian Lorcan menggunakan sapu tangan.
"Aku refleks melakukannya. Aku tidak rela kau disiram dan gaun indahmu menjadi kotor. Lebih baik aku saja yang kena. Jadi, tidak ada yang paling penting dari dirimu saat ini."
__ADS_1
Andressa mengembuskan napas kasar. Dia tidak suka dilindungi seperti ini.
"Lain kali kau tidak perlu melindungiku. Aku bisa melindungi diriku sendiri. Dasar kau ini!"
Andressa memuluk gemas punggung lebar Lorcan. Sejujurnya, di sisi lain Andressa merasakan perasaan malu sekaligus senang. Bagaimana pun dia masih belum menyadari perasaannya nan rumit itu.
Muka Camille bertambah masam. Lorcan mengabaikannya, dia tidak punya kesempatan untuk masuk ke tengah-tengah hubungan Andressa dan Lorcan.
"Apa yang Anda lihat dari wanita ini, Yang Mulia? Tidakkah Anda berpikir bahwa saya lebih dari dia?"
"Andressa lebih cantik darimu. Aku harap kau bisa sadar diri. Atau perlukah aku membelikan cermin biar kau bisa melihat bagaimana rupamu? Ah, aku rasa itu tidak perlu."
Lorcan menggenggam tangan Andressa. Lalu ia menarik Andressa dari kerumunan orang.
"Hei, mau ke mana? Kita baru saja sampai beberapa yang lalu," ujar Andressa.
"Kita pulang sekarang. Tidak ada gunanya kau berada di tempat yang tidak bisa menghargai keberadaanmu," kata Lorcan memaksa.
__ADS_1
Pada akhirnya, Andressa terpaksa mengikuti Lorcan. Tidak ada satu pun yang berkomentar, mereka membiarkan keduanya beralih meninggalkan aula pesta.
'Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana cara mengalahkan wanita bernama Andressa itu? Pokoknya, aku tidak boleh sampai kehilangan kesempatan menjadi Permaisuri. Kaisar harus bersamaku, apa pun yahh terjadi,' gerutu Camille dalam hati.
Jason sudah menanti di luar aula. Dia langsung sigap menghampiri Lorcan. Namun, dia keheranan melihat pakaian Lorcan yang bercampur warna dan aroma alkohol.
"Yang Mulia, ada apa dengan pakaian Anda? Apa ada sesuatu yang terjadi di dalam sana?" tanya Jason.
Lorcan melirik Jason lalu ia menghela napas perlahan.
"Aku baru saja melalui momen yang sangat menyebalkan. Cepat bawakan pakaian ganti untukku. Aku tidak suka mencium aroma pakaianku saat ini."
Lorcan tak menjawabnya secara jelas. Dia segera memberi perintah kepada Jason.
"Baiklah, Yang Mulia. Saya akan kembali membawakan pakaian ganti untuk Anda."
Untung saja pelayan pribadi Lorcan selalu menyediakan pakaian ganti untuk Lorcan di kereta kuda sehingga dia bisa mengganti pakaiannya yang kotor kala itu juga tanpa terkendala.
__ADS_1