
Calvin datang menghampiri Andressa begitu ia baru menginjakkan kakinya di klinik.
"Baiklah, aku segera ke sana."
Tanpa banyak tanya, Andressa langsung melangkah cepat ke ruang operasi. Sebelum masuk ruangan, terlebih dahulu para asisten tabib membantu Andressa mengenakan pakaian operasinya. Selepas itu, baru dia masuk melihat kondisi pasien terlebih dahulu.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Andressa sebelum ia melihat tubuh sang pasien.
"Pasien mengalami luka di bagian perut dan leher. Pendarahannya tidak bisa berhenti dan juga organ dalamnya juga ikut terluka parah. Lalu Nona, bagian terparahnya ada di kepala," jelas Calvin.
"Kepala? Ada apa dengan kepalanya?"
"Kepalanya seperti terkena benturan dahsyat. Luka yang tergurat sangat dalam."
__ADS_1
Andressa memeriksa sendiri pasien itu untuk memastikan keadaannya. Tatkala kedua mata Andressa melihat jelas wajah sang pasien, betapa terkejutnya ia kala itu. Sesosok pria muda berwajah tampan rupawan terbaring di atas ranjang operasi. Namun, bukan rupanya yang membuat Andressa kaget, melainkan rambut berwarna perak milik si pasien.
"Rambut perak?" Andressa terperangah bukan main.
"Anda terkejut, bukan? Kami juga awalnya terkejut karena melihat rambut pasien ini punya warna yang sama dengan Anda," ucap Amelia.
"Di mana kalian menemukannya? Kenapa dia bisa sampai seperti ini?"
Andressa lekas membuang jauh-jauh pikiran yang mengganggu konsentrasi. Saat ini ada nyawa yang lebih penting menunggu pertolongan darinya.
"Aku paham. Sekarang abaikan semua pikiran yang mengganggu. Ayo segera kita mulai operasinya."
Operasi berjalan selama kurang lebih satu setengah jam. Akibat banyaknya luka di sekujur tubuh pria itu sehingga Andressa serta para tabib butuh waktu cukup banyak dari operasi biasanya.
__ADS_1
"Tolong jahit lukanya dan pindahkan dia ke ruang rawat. Sepertinya dia takkan sadarkan diri sementara waktu karena luka yang mendera kepalanya sangat parah," ujar Andressa keluar dari ruang operasi.
Gadis itu menyerahkan sisanya kepada para tabib lain. Akhirnya dia bisa bernapas lega seusai keluar dari sana. Namun, pikiran yang terkubur di kepalanya kembali mencuat mengganggu dirinya.
'Rambut perak? Ini sungguh menggangguku. Padahal di kekaisaran Emilian maupun kekaisaran lain tidak ada yang punya rambut perak selain diriku. Kemudian hari ini aku menemukan seseorang berambut perak. Aku tidak mengerti sama sekali,' batin Andressa berpikir.
Sesudahnya, Andressa pergi ke kediamannya untuk mencari suasana tenang supaya dia bisa berpikir dengan baik. Dia mengacak-acak seluruh buku yang ada di rak buku. Andressa kala itu tengah mencari tahu soal orang-orang yang mempunyai rambut perak layaknya dirinya.
"Aku sudah lama mencurigai hal ini. Si pemilik tubuh ini mungkinkah dia bukan berasal dari kekaisaran Emilian? Dia punya rambut berbeda dan warna kulit lebih putih dari orang biasa pada umumnya. Sial! Kenapa masalah ini jadi beban pikiran tersendiri bagiku?"
Sesaat Andressa sedang sibuk mengacak-acak buku, tiba-tiba Lion datang dan menjawab gerutuan Andressa.
"Percuma saja kau mencarinya karena takkan kau temukan informasi apa pun tentang kaum manusia berambut perak. Jadi, sebaiknya kau hentikan pencarianmu itu sebelum kau menggerutu tidak dapat menemukan apa pun," celetuk Lion membuat Andressa kembali bingung.
__ADS_1