
Mendengar jawaban Andressa tersebut, timbul rasa khawatir yang kian menyerang hati. Namun, selagi wabah itu belum terjadi, Lorcan berupaya untuk tidak menyerah.
"Bahan apa saja yang kau butuhkan? Mungkin aku bisa membantumu mencarikannya." Lorcan menawarkan bantuan terhadap Andressa.
"Aku butuh kelopak teratai bulan dan daun embun malam. Kedua bahan itu tumbuh di dua tempat yang berbeda. Kelopak teratai bulan tumbuh di telaga kaki gunung selatan, sedangkan daun embun malam tumbuh di tepi tebing perbatasan Emilian. Untuk menuju ke sana butuh waktu beberapa hari, ditambah lagi sekarang cuaca sedang buruk, jadi perjalanan ke sana akan bertambah sulit," tutur Andressa memberi penjelasan.
Terdengar banyak tantangan yang harus mereka hadapi. Memang benar apa yang dikatakan Andressa. Menuju ke dua tempat tersebut butuh waktu yang tidak sedikit. Perubahan cuaca yang tak menentu menjadi faktor utama penghambatnya.
"Apa Anda tidak bisa membuat obat tanpa kedua bahan itu? Maksud saya, setidaknya Anda bisa membuat obat untuk mencegah wabah tersebut supaya tidak menyebar lebih jauh di tengah penduduk," tanya Jason.
"Aku tidak bisa membuatnya. Wabah ini sangat ganas. Kedua bahan ini tidak bisa diracik sembarangan. Butuh teknik khusus dalam meraciknya. Oleh sebab itulah, kemungkinan yang dapat membuat obat ini hanyalah aku seorang. Tabib lain tidak dapat melakukannya begitu saja."
"Ternyata tidak ada harapan ya? Jikalau begitu, mau tidak mau aku saja yang pergi mengambilkan bahan-bahan yang kau maksud itu."
Andressa dan Jason tercengang. Bagaimana bisa Lorcan menawarkan diri membantu Andressa pergi ke tempat yang cukup jauh? Apabila para bangsawan mendengarnya, maka akan terjadi kericuhan di istana.
"Tidak, kau tidak bisa melakukannya. Aku sendiri yang akan pergi ke sana. Kau harus berada di istana karena aku yakin pekerjaanmu masih banyak yang terbengkalai."
Andressa menolak bantuan dari Lorcan. Tampaknya Lorcan kecewa mendengar penolakan dari Andressa.
"Padahal kau bisa bergantung padaku," ucap Lorcan dengan nada suara kecil.
"Apa yang kau katakan?" tanya Andressa, ia tak mendengar ucapan Lorcan barusan.
"Tidak, tidak ada. Lupakan! Baiklah, kau saja yang pergi ke sana mengambil bahan obat itu." Lorcan mengelak sambil tersenyum.
"Ya, aku akan berangkat besok."
Tatkala obrolan mereka hampir selesai, tiba-tiba seorang kesatria datang ke ruangan Lorcan.
__ADS_1
"Yang Mulia, Viscountess Kaidan datang ingin menemui Anda dan Nona Andressa. Beliau sekarang sedang menunggu di ruang tamu. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan."
"Viscountess Kaidan? Tumben sekali, biasanya yang datang Viscount Kaidan," gumam Lorcan. "Tolong minta beliau untuk menunggu sebentar. Aku dan Andressa akan segera ke sana," lanjut Lorcan berucap.
Lorcan dan Andressa lekas pergi menemui Viscountess Kaidan. Kedatangan wanita tersebut sedikit mengejutkan mereka berdua. Pasalnya, Viscountess Kaidan biasanya tidak pernah ke istana kecuali ada undangan dari sang kaisar. Namun, hari ini dia malah datang secara mendadak tanpa pemberitahuan melalui surat.
"Nyonya, kaisar sudah datang," ujar kesatria berbisik kepada Viscountess Kaidan.
Viscountess Kaidan langsung berdiri begitu Lorcan muncul di ruang tamu bersama Andressa.
"Salam kepada Yang Mulia Kaisar. Mohon maafkan kelancangan saya ingin bertemu Anda di tengah malam begini tanpa surat pemberitahuan kedatangan ke istana."
"Tidak apa-apa, Nyonya. Duduklah kembali, saya yakin Anda kemari karena ingin hal genting. Sekarang bisalah Anda menceritakan kepada saya apa yang gerangan tengah terjadi?"
Viscountess Kaidan tak langsung berbicara, dia terlihat masih tenggelam di pikirannya sendiri. Baik Andressa maupun Lorcan menyadari sikap Viscountess Kaidan yang tidak tenang seperti biasanya.
"Tadi sebelumnya saya pergi ke klinik Nona Andressa, tetapi tabib di sana mengatakan Nona sedang berada di istana. Jadi, saya memutuskan kemari untuk bertemu Nona Andressa sekaligus Anda, Yang Mulia. Saya ingin meminta tolong untuk menyelamatkan suami saya."
"Apa yang terjadi dengan Viscount Kaidan?"
Andressa dan Lorcan semakin ingin tahu apa yang menimpa pasangan suami istri tersebut. Kini mereka berdua malah terkejut seusai Viscountess Kaidan meminta tolong menyelamatkan sang suami. Apa yang sebenarnya tengah terjadi?
"Suami saya selama satu bulan terakhir berada di wilayah barat daerah kekuasaannya."
"Wilayah barat? Bukankah itu wilayah yang paling dekat dengan laut? Apa yang dilakukan Viscount di sana?" tanya Andressa.
Viscountess Kaidan tak kuasa membendung air mata. Dia menangis sebelum sempat menjelaskan kondisi Viscount Kaidan kepada mereka berdua.
Viscountess Kaidan kembali menjelaskan, "Dia mengurus pembangunan wilayah dan dia kembali kemarin ke mansion. Akan tetapi, setelah kembali, suami saya langsung jatuh sakit dan tidak sadarkan diri. Demamnya tinggi, dia juga muntah darah, muncul ruam di seluruh badan, mimisan, kesulitan bernapas dan menelan, telinganya sakit, serta dia menggigil kedinginan."
__ADS_1
Kedua pupil mata Andressa membulat sempurna ketika Viscountess Kaidan memberi penjelasan terkait kondisi suaminya. Muncul raut takut di garis wajah Andressa.
"Nyonya, benarkah itu semua gejala yang dirasakan Viscount?"
"Benar, Nona, saya kemari ingin meminta bantuan Anda untuk menyelamatkan suami saya. Entah mengapa, saya berfirasat penyakitnya kali ini sangat parah. Tolong bantu suami saya, Nona. Saya mohon selamatkan dia."
Lorcan menyadari raut terkejut dan takut Andressa.
"Ada apa? Kenapa ekspresimu seperti itu?" Lorcan berbisik bertanya kepada Andressa.
"Lorcan, sepertinya ini sangat gawat. Seluruh gejala yang disebutkan Viscountess barusan merupakan gejala awal dari wabah yang sebelumnya aku bicarakan kepadamu. Wabah ini disebut sebagai wabah maut hitam."
Lorcan tidak kalah terkejut. Dia bahkan tak sanggup berkata-kata.
"Hah? Kau serius? Kau tidak sedang bercanda kan? Sial! Haruskah aku memberi perintah untuk melakukan karantina massal?"
Andressa mengangguk.
"Lakukan segera! Sekarang kau harus menutup semua pintu masuk ke ibu kota. Lalu aku sendiri akan mengecek kondisi Viscount," ujar Andressa.
Kemudian Andressa bangkit dari tempat duduk.
"Nyonya, ayo kita kembali ke kediaman Anda. Untuk seluruh orang yang ada di sini dan melakukan kontak fisik dengan Viscountess, aku mohon untuk mengurung diri di dalam kamar masing-masing. Lorcan, tolong jelaskan situasinya kepada mereka. Aku tidak punya banyak waktu lagi."
Andressa menarik paksa Viscountess Kaidan pergi dari sana. Wanita itu kebingungan dengan kecemasan beserta perintah yang digaungkan Andressa barusan.
"Nona, apa maksud perkataan Anda? Mengapa Anda menyuruh semua orang yang berkontak fisik dengan saya mengurung diri mereka di kamar masing-masing?"
"Mohon maafkan saya, Nyonya. Viscount tampaknya telah membawa penyakit berbahaya ke ibu kota. Mungkin sekarang beberapa orang penghuni mansion Anda telah tumbang karena penyakit yang sama seperti suami Anda."
__ADS_1