Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Ketakutan Marchioness Jevano


__ADS_3

Marchioness Jevano tak bisa berkata-kata. Raut mukanya tak karuan karena tidak menyangka Andressa nekat menyelinap ke kediamannya. Bahkan, para kesatria yang berjaga hari itu telah ditumpaskan dengan sempurna olehnya.


"Kenapa kau menyelinap ke kediamanku? Apa kau tahu sesuatu mengenai perbuatanku?"


Andressa pun tertawa. Wanita itu masih memasang topeng tebal untuk menutupi setiap perbuatannya.


"Ya, aku tahu. Kau adalah pelaku utama di balik terjadinya wabah penyakit di wilayah Selion. Dasar serakah! Apa kau pikir kau bisa bebas seusai melakukan hal kotor ini? Selama aku hidup di dunia ini, maka perbuatan kotormu bisa langsung aku lacak, sialan!"


Andressa marah besar. Sesaat tubuh Marchioness Jevano bergetar hebat. Intimidasi nan sangat kuat dia rasakan dari Andressa. Pertama kali baginya merasakan hal tersebut dari seorang gadis yang umurnya masih remaja.


"Kau berusaha menekanku? Ya, aku tidak peduli. Aku memang orang yang mengirim penyakit itu! Lalu kenapa? Apa kau mau membunuhku? Kau pikir kau bisa selamat setelah membunuhku? Ingatlah siapa dirimu, rakyat jelata!"


Sungguh menggelikan. Di detik-detik akhir hidupnya, wanita itu masih bisa menghina Andressa. Lagi pula gadis itu tidak peduli. Dia tak memikirkan tentang penghinaan dari Marchioness Jevano sebab keberadaannya sebagai rakyat jelata memang benar adanya.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku kemari tanpa mempersiapkan apa pun? Kau salah, brengs*k! Kaisar telah memberi kebebasan padaku untuk melakukan apa pun yang kau mau terhadapmu."


Andressa memperlihatkan selembar kerta yang berisi mengenai pembebasan kepada Andressa melakukan apa pun sesuka hatinya.


"Bagaimana? Kau terkejut bukan?" Andressa melihat Marchioness Jevano tak lagi berdaya dan kehilangan kata-kata.


Perlahan wanita itu mundur ke belakang. Dia tidak percaya Kaisar telah memberi sesuatu yang besar terhadap Andressa.


"Kau ... bagaimana ini terjadi? Kenapa Kaisar memberimu kebebasan? Apa yang terjadi sebenarnya?" Marchioness Jevano masih tidak terima dan tak percaya.


Aura Andressa benar-benar berbeda seratus persen. Saat ini ia tak bisa mengontrol aura membunuhnya. Tersirat perasaan mengerikan di hati Marchioness Jevano. Dia sungguh tidak menyangka hidupnya berada di ujung jurang penderitaan.


"Jangan ... jangan mendekat! Aku akan membunuhmu jika kau berani mendekat!" gertak Marchioness Jevano meraih satu botol alkohol kosong.

__ADS_1


"Membunuhku? Justru kau yang akan aku bunuh!"


Andressa menerjang cepat ke arah Marchioness Jevano. Pergerakan tangannya yang seperti kilat dalam sekejap mampu merebut botol alkohol di tangan wanita itu.


"Tidak! Aku tidak mau mati! Pergi kau dari sini!" Marchioness Jevano melarikan diri ke luar kamar.


Dia semakin syok tatkala melihat para kesatria bergelimpangan di atas lantai. Semua itu hanya dilakukan oleh seorang gadis biasa.


"Kau takkan bisa kabur dariku!" Andressa menarik rambut Marchioness Jevano.


Wanita itu pun berhenti berlari. Rintihan kesakitan mulai terdengar dari mulutnya.


"Ampuni aku ... tolong jangan bunuh aku. Aku akan memberimu berapa pun asalkan kau melepaskanku. Aku yakin kau takkan bisa menolak uang dariku kan?"

__ADS_1


Marchioness Jevano mencoba menyuap Andressa. Dia pikir uang adalah segalanya. Namun, itu saja tidak cukup untuk menghentikan tindakan Andressa.


"Aku tidak butuh uang, yang aku butuhkan hanyalah kematianmu. Itu saja, tidak lebih dari itu."


__ADS_2