
Amelia menaruh di atas meja seluruh bahan-bahan untuk meracik obat. Amelia melirik Andressa tengah sibuk berkutat dengan alat-alat medisnya. Amelia memutuskan tidak menegur Andressa. Sekarang dia langsung bergerak membersihkan bahan-bahan utama peracikan obat tersebut.
"Oh, Amelia. Apa kau sudah mendapatkan semuanya?" Andressa pun menyadari kedatangan Amelia.
"Sudah, Nona. Saya akan segera membersihkannya. Jadi, nanti Anda tinggal meraciknya saja."
Andressa menepikan sementara alat-alat medis di tangannya. Dia berdiri dari tempat duduk lalu bergerak mendekati Amelia.
"Biar aku yang melanjutkannya. Sekarang kau pergilah mengecek kondisi para pasien yang terkena luka bakar itu. Lihat bagaimana reaksi dari obat oles yang sebelumnya aku racik. Seharusnya sekarang obat itu mulai bereaksi dan menunjukkan tanda-tanda pemulihan," tutur Andressa.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi."
Berselang beberapa menit setelahnya, Andressa dikejutkan oleh suara gaduh dari lantai bawah. Dia juga mendengar seseorang berteriak kepada para tabib. Lekas saja ia bergerak menuruni anak tangga menuju ke sumber suara.
__ADS_1
"Aku tidak mau dirawat di sini! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi! Jangan coba-coba untuk menahanku!"
Sesosok pria yang masih berada dalam masa penyembuhan tiba-tiba tersadar seusai koma selama tiga hari. Dia mengamuk dan melukai beberapa orang asisten tabib. Ditambah lagi seluruh benda yang berada di dekatnya dihempaskan ke arah pasien lain dan orang-orang yang berada di sekitarnya.
"Ada apa? Kenapa dia bisa menggila seperti ini?!"
Andressa buru-buru menengahi keributan tersebut. Dia bertanya terlebih dahulu kepada seorang tabib untuk memastikan situasi itu.
"Nona, kami tidak tahu apa-apa. Begitu dia sadar, dia mengamuk meminta untuk dikeluarkan dari ruang rawat. Padahal dia baru saja terjaga dari koma, tetapi dia malah bersikap aneh," jelas sang tabib.
Beberapa orang langsung menahan pergerakan pria itu. Mereka sekuat tenaga menekan keras supaya si pria berbadan besar itu menghentikan penyerangannya.
Andressa dengan sigap menancapkan jarum suntik ke tubuh pria itu. Namun, anehnya, dia tak kunjung tenang dan semakin mengamuk.
__ADS_1
"Sial! Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa cairan penenang ini tak bekerja padanya?" Andressa mulai kebingungan. "Tolong tingkatkan dosisnya!" Andressa secara tegas meminta tabib wanita di dekatnya untuk memberikan penenang dalam dosis tinggi.
Sesudah suntikan yang keenam, akhirnya pria itu berhasil dilumpuhkan. Dia pun menjadi lebih tenang dan tidak sadarkan diri.
"Tampaknya ada yang aneh dari pasien itu," celetuk Amelia.
Andressa melirik Amelia. Sedari tadi Amelia telah memperhatikan pasien tersebut. Dia menduga bahwa mungkin ada hal yang tidak mereka sadari kemudian membuat pria itu bertingkah aneh selepas tersadar dari koma.
"Aku pikir juga begitu. Tolong bantu aku melakukan pemeriksaan. Lalu jika ada di antara kalian yang terluka, segera obati."
Andressa dan Amelia mengecek dengan seksama tubuh pria yang terkapar di atas ranjang rawat.
"Tidak ada yang aneh. Semuanya normal." Kedua mata Andressa tiba-tiba melebar tatkala menatap cairan infus. "Amelia! Turunkan cairan infus itu dan ganti dengan yang baru! Cepat!"
__ADS_1
Amelia bergegas mencabut cairan infus dan mengganti dengan yang baru. Dia menyerahkan cairan infusnya kepada Andressa.
"Ternyata benar, yang membuat pasien ini mengamuk adalah cairan infusnya. Siapa yang mengganti cairan infus ini tadi?"