Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Mata-mata


__ADS_3

Para penduduk menghimbau seluruh penduduk lainnya untuk langsung bergerak ke halaman depan klinik. Mereka sudah tidak sabar lagi mendapatkan pengobatan dari Andressa.


"Silakan berbaris! Jangan ada yang menyerobot barisan! Tenang saja, kalian semua pasti mendapatkan bagian!" seru Amelia menertibkan jumlah penduduk yang tidaklah sedikit.


Andressa duduk di atas sebuah kursi dan di depannya ada meja berisikan segala jenis obat-obatan. Selain obat menghilangkan racun di tubuh mereka, Andressa juga memberikan obat oles untuk mengeringkan luka di tubuh mereka.


"Tolong gunakan obat olesnya sehari dua kali. Lalu minum obat pil ini secara teratur dalam tiga kali sehari. Nanti kau akan sembuh maksimal jika rutin meminum obat selama satu minggu," tutur Andressa menjelaskan.


"Sungguh saya akan sembuh kalau meminum obat?"


Andressa mengangguk seraya tersenyum lembut. Tidak sedikit dari pasien yang menangis harus ketika Andressa menjamin mereka akan kembali sehat seperti sedia kala. Mereka menggantungkan harapan hidup mereka di tangan Andressa. Tiada lagi orang yang mampu memberi mereka harapan hidup selain gadis itu.


"Nona, ini adalah pasien terakhir," ucap Amelia kala langit sudah larut malam.


"Baiklah. Setelah ini aku akan beristirahat."


Seusai menangani pasien terakhir, Andressa segera menuliskan surat untuk dikirimkan ke kediaman Marquess Gencio. Dia butuh bantuannya untuk mengirim beberapa makanan serta air bersih ke wilayah Selion.


Begitu surat itu sampai ke tangan Marquess Gencio, betapa terkejutnya dia membaca surat dari Andressa. Dia sampai tidak bisa berkata-kata atau melontarkan segala jenis komentar apa pun.


"Apa?! Nona Andressa berhasil menemukan penyebab wabah penyakit di wilayah Selion?!"


Seketika rasa kantuk yang dirasakan Marquess Gencio lenyap dalam sekejap. Sejenak ia kagum oleh kemampuan Andressa dalam mengatasi penyakit yang bahkan sulit disembuhkan para tabib.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka. Wabah yang memakan wilayah Selion dalam waktu enam tahun ini ditangani dengan baik hanya dalam kurun waktu tidak cukup satu minggu. Apa-apaan ini? Kemampuannya sungguh mengerikan. Aku harus memastikan sendiri ke wilayah Selion."


Sesuai yang dikatakan Marquess Gencio, di pagi-pagi buta, dia dan beberapa kesatria di bawahnya membawa banyak makanan dan air bersih untuk wilayah Selion.


"Tuan, saatnya kita berangkat," ujar seorang kesatria.


"Baik, ayo kita berangkat sekarang."


Melalui jalan berliku-liku, Marquess Gencio dan pada bawahannya menerobos segala hambatan yang muncul. Hingga pada akhirnya, mereka berhasil tiba di wilayah Selion. Kedatangan mereka disambut secara baik, tiada satu pun penolakan karena sebelumnya Andressa telah memberi tahu mereka bahwa akan ada bangsawan yang membawa makanan dan air bersih untuk mereka.


Andressa menunggu di depan klinik. Marquess Gencio berhenti tepat di hadapan Andressa.


"Salam saya haturkan kepada Tuan Marquess Gencio." Andressa dan Amelia membungkuk memberi salam kepada Marquess Gencio.


Marquess Gencio mengedarkan pandangannya. Kondisi di wilayah Selion tampak jauh membaik dari sebelumnya.


"Ternyata benar, Anda berhasil memperbaiki situasi mengerikan di tempat ini," lanjut Marquess Gencio berucap.


"Ya, ini bukanlah apa-apa bagi saya, Tuan. Semua berkat Anda yang telah bersusah payah memberi saya izin untuk mendirikan klinik di wilayah ini," tutur Andressa.


"Itu bukanlah apa-apa dibanding pencapaian Anda, Nona. Sekarang bisakah Anda menjelaskan kepada saya terkait penyebab munculnya wabah ini? Saya sangat ingin mengetahuinya."


"Baiklah. Sebelum itu, mari kita masuk terlebih dahulu. Saya akan menjelaskan semuanya di dalam."

__ADS_1


Andressa membawa Marquess Gencio ke dalam klinik. Di sana dia dijamu dengan teh dan beberapa kudapan. Andressa pun langsung menceritakan detail penyebabnya kepada Marquess Gencio.


Sepanjang bercerita, Marquess Gencio memasang beragam ekspresi. Dia tidak menyangka jika wilayah Selion menghadapi masalah semacam itu. Sekarang dia harus mengambil tindakan penyelidikan lebih lanjut atas bantuan Andressa.


"Pantas saja pihak istana tidak menemukan apa pun di sini. Rupanya penyebab wabah ini disembunyikan dengan baik," kata Marquess Gencio.


"Tuan, tampaknya ada seseorang yang menjadi dalang dari kekacauan ini. Saya yakin pelakunya sedang berkeliaran di Emilian saat ini."


"Ada seseorang yang menjadi dalang? Saya tidak memungkiri hal itu karena wilayah Selion dahulunya adalah wilayah paling subur dan mempunyai banyak tumbuhan langka yang tumbuh di sini. Ditambah lagi banyak yang mengatakan bahwa air di Selion dapat mencegah penuaan. Akan tetapi, wilayah ini tidak milik bangsawan mana pun karena penduduk di sini menolak bergabung dengan wilayah kekuasaan para bangsawan."


Andressa paham sepenuhnya mengenai situasi terkait saat ini. Dia dapat membaca sebuah skenario yang bisa saja terjadi.


"Saya mengerti sekarang. Pelakunya memang di antara para bangsawan. Mereka yang tamak dan penuh keinginan untuk menguasai. Saya pikir Anda harus mengirim mata-mata untuk mengawasi setiap bangsawan," saran Andressa.


"Mungkin memang itu jalan satu-satunya sekarang. Saya akan mengikuti saran Anda, Nona. Saya juga berencana melaporkan masalah ini kepada Kaisar. Bagaimana pun juga beliau harus tahu masalah ini."


Di saat mereka tengah berbicara serius, mendadak saja Andressa merasakan ada mata yang menatap ke arahnya. Pandangan tajam dan penuh hati-hati. Seketika itu pula Andressa langsung sadar bahwa ada mata-mata pihak musuh di sekitar sana.


"Maaf, Tuan. Saya rasa di sini ada tikus. Tolong Anda berdiri sebentar."


Tanpa menanyakan lebih lanjut, Marquess Gencio langsung berdiri. Andressa menjangkau sebuah tongkat kayu. Kemudian dia memukul langit-langit ruang menggunakan kayu tersebut.


Langit-langit ruang nan rapuh itu hancur. Sesosok pria jatuh dari atas sana.

__ADS_1


"Benar rupanya ada tikus yang mencoba memata-mataiku. Sayang sekali, hidupmu berakhir di sini detik ini juga. Dasar kau parasit!"


__ADS_2