
Mimik muka Andressa tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Dia sudah tahu sedari awal bahwasanya ada seseorang yang juga mengincar kristal lonceng. Dan orang itu kemungkinan juga merupakan dalang di balik percobaan pembunuhan terhadap dirinya.
"Ya, aku tahu, tetapi aku tidak tahu siapa orang yang mengincar kristal lonceng ini. Apa kau tahu orangnya?" tanya Andressa balik.
Lion berpikir sejenak. Dia tidak mau memberi informasi sembarangan kepada Andressa.
"Aku mungkin tahu, hanya saja mungkin ini sedikit sulit. Aku tidak diperbolehkan membantumu lebih jauh dan mencampuri urusan dunia manusia. Bisakah kau cari tahu sendiri?" ujar Lion seraya tersenyum polos.
Andressa benar-benar tidak paham jalan pikir Lion. Makhluk itu sangat misterius. Lion seperti sengaja menyiram minyak ke api kecil sehingga apinya terus membesar kian hari. Akan tetapi, Andressa tidak punya bukti untuk menuding Lion.
"Baiklah, biar aku cari tahu. Lalu mengapa para bajing*n ini bisa tahu aku ada di sini? Padahal aku kemari menggunakan teleportasi. Mustahil sekali mereka mengikutiku."
Hal ini menjadi beban pikiran tersendiri bagi Andressa. Segala kejanggalan berkumpul menjadi satu di otaknya.
__ADS_1
"Aku juga tidak paham, tetapi perlu kau ketahui, kemungkinan besar di dunia ini tidak hanya kau saja yang bisa menggunakan sihir."
"Ah, aku mengerti. Bisa jadi ada seseorang yang juga memakai sihir teleportasi untuk mengikutiku kemari. Bukankah itu dugaan yang paling mendekati?"
Lion mengangguk pelan.
"Ya, seperti apa katamu. Sebaiknya, kau segera bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan menimpamu. Aku tidak bisa selalu membantumu keluar dari masalah," kata Lion.
"Kalau begitu, aku harus bergerak dalam bayangan mulai sekarang. Siapa pun itu, aku tidak boleh sampai jatuh ke perangkapnya. Pertama-tama, aku akan menyelidiki dalang di balik permasalahan ini."
"Kemudian apa yang harus aku lakukan dengan kristal lonceng ini? Apa kau punya solusinya, Lion?" lanjut Andressa bertanya kepada Lion.
Lion menjawab, "Biar aku saja yang menyimpannya. Benda ini apabila disalahgunakan akan memakan lebih banyak korban lagi. Aku tidak mau itu terjadi. Lebih aman bila aku menaruhnya di tempat yang bukan dunia manusia."
__ADS_1
"Baik, ini aku berikan kepadamu. Jangan lupa segel kembali benda ini. Percuma saja kau simpan, tetapi tidak kau segel. Kekuatannya cukup kuat menghancurkan sebuah wilayah. Untungnya aku datang lebih cepat untuk mengambilnya."
Andressa menyerahkan kristal lonceng beserta petinya kepada Lion. Dia tidak sanggup menyimpan benda tersebut untuk saat ini sebab sihirnya belum pulih sepenuhnya. Hanya Lion satu-satunya orang yang dapat dipercaya menyimpan keberadaan kristal lonceng agar tak disalahgunakan.
"Tenang saja, aku pastikan benda ini tersegel rapat seperti sedia kala."
Selepas itu, Andressa kembali ke klinik. Tidak butuh waktu lama baginya menyelesaikan semua ini.
Begitu sampai di kediamannya, Andressa langsung merebahkan diri di atas tempat tidur.
"Sangat melelahkan. Namun, aku tidak bisa memejamkan mata. Pikiranku terganggu karena masalah yang kian hari menerjangku. Dari mana aku memulai untuk mencari tahu tentang orang yang menjadi dalang penyeranganku sekaligus orang yang mengincar kristal lonceng?"
Andressa menarik napas dalam-dalam lalu bangkit dari tempat tidur.
__ADS_1
"Tidak bisa begini! Aku tidak boleh berdiam diri terlalu lama. Aku— ukhh!"
Andressa tiba-tiba saja merasakan sengatan kuat dan menyakitkan di jantungnya.