
Andressa terkurung di sebuah gubuk tua tak berpenghuni di ujung hutan yang tidak pernah terjamah tangan manusia. Tangan dan kaki Andressa terikat tali, mulutnya dibekap sapu tangan.
'Aku sengaja berpura-pura pingsan agar aku bisa menjebak orang yang menculikku. Apa dia pikir obat bius dapat membuatku pingsan? Tentu saja tidak. Dasar manusia bodoh!' pikir Andressa.
Gadis itu telah membodohi para penculik. Dia sengaja membiarkan dirinya sekelompok orang yang tidak dia lihat rupanya. Hanya ini yang bisa dia lakukan demi menjebak balik dalang di balik penculikannya ini.
Bola mata Andressa mengitari ruangan tempatnya dikurung. Hanya ada pencahayaan dari lampu yang sudah redup. Tidak ada yang spesial di sana selain ruangan berdebu dan kosong.
Tiba-tiba saja saat itu terdengar derap kaki melangkah masuk ke dalam gubuk. Andressa langsung memejamkan mata berpura-pura pingsan sembari memasang telinga supaya bisa menguping pembicaraan mereka.
"Silakan masuk, Yang Mulia. Kami sudah memastikan kalau gadis itu takkan bisa kabur dengan mudah."
Tiga orang pria berbadan besar berbicara pada seorang wanita. Andressa mengintip wajah wanita itu menggunakan sihir. Dia tidak terkejut lagi, wanita yang telah menculiknya ialah Leyna. Persis seperti dugaannya semalam.
"Kerja bagus! Aku puas dengan hasil kerja kalian. Aku pikir kalian takkan becus mengurus gadis ini seperti orang-orang yang aku sewa sebelumnya," kata Leyna.
"Sebelum menculiknya, kami telah membiusnya terlebih dahulu. Jadi, dia kami bawa kemari dalam keadaan tidak sadarkan diri. Masalah sepele begini hal yang amat mudah kami lakukan."
Ketiga pria penculik itu tertawa puas. Mereka berbangga diri sebab rencana penculikan mereka berhasil. Padahal sebelumnya ada sedikit rasa takut karena ia mendengar dari rekan yang lain bahwasanya Andressa sukar ditaklukkan. Ternyata mereka salah, justru Andressa mudah ia seret ke tempat ini.
"Ternyata begitu. Kalian membawanya kemari dalam keadaan pingsan. Pantas saja dia tidak berontak. Syukurlah, dia saat ini masih pingsan. Kalau tidak, mungkin saja nyawa kalian berada dalam bahaya."
__ADS_1
Leyna mendudukkan diri di atas kursi kosong. Dia memperhatikan Andressa yang tampak tak berdaya di matanya.
"Ya sudah. Kalian pergi sana! Tinggalkan aku sendiri di sini. Jangan lupa tingkatkan pengawasan kalian karena aku khawatir kaisar bisa menemukan tempat ini," lanjut Leyna berucap mengusir ketiga penculik tersebut.
"Siap, Yang Mulia! Kami pastikan tidak akan ada orang yang bisa menemukan keberadaan gadis ini."
Mereka bertiga buru-buru keluar dari gubuk. Kemudian Leyna mengeluarkan alat komunikasi sihirnya bersama Thales. Dia ingin mengabarkan Thales bahwasanya ia sudah memastikan bahwa Andressa berhasil ia sekap.
"Walaupun aku terlambat menggagalkan pertunangan mereka, setidaknya sekarang aku bisa memberi pelajaran gadis ini supaya mau meninggalkan Lorcan dan memutus pertunangan mereka."
Andressa dalam diam tercengang tatkala melihat alat komunikasi sihir yang dibawa oleh Leyna. Seketika dia pun kebingungan.
'Alat komunikasi sihir? Bagaimana wanita tua bangka ini bisa mendapatkannya dan mengetahui kegunaannya? Aku harus pasang telinga baik-baik dengan siapa gerangan dia berhubungan.'
"Bagaimana? Apa kau berhasil menggagalkan pertunangan putramu dengan gadis yang kau benci dan kau anggap sebagai penghambat itu?" tanya Thales langsung pada intinya.
"Tidak, aku terlambat, tetapi tenang saja. Aku berhasil menculik gadis itu. Rencananya aku akan memaksanya supaya memutus pertunangan dengan Lorcan. Dengan begitu, aku bisa lebih leluasa mewujudkan rencanaku untuk menguasai Emilian."
"Jangan sampai kau bunuh gadis itu. Aku berencana untuk menjadikannya sebagai tumbal. Sudah lama aku tidak mendapatkan tumbal gadis kuat seperti dia. Awas saja kalau kau sampai membunuhnya," tekan Thales.
Leyna masih belum terbiasa mendengar Thales menekan perkataannya dan mengintimidasi Leyna secara tidak langsung. Wanita itu hanya bisa menurut sebab dia kalah dari segi kekuatan dan pengaruh. Jadi, ia hanya bisa mengangguk serta menjalankan segala perintah dari Thales.
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak sebodoh itu membunuh gadis ini sembarangan. Tolong jangan lupakan janjimu, itu sudah cukup bagiku."
"Ya, aku tidak lupa dengan janjiku. Kau tak perlu takut aku akan kabur tanpa membuat Emilian jatuh ke tanganmu."
Andressa hanya bisa mendengar suara pria itu, tetap ia tak bisa melihat wajahnya karena alat komunikasi sihirnya merupakan alat komunikasi yang punya sistem yang cukup lemah.
'Siapa dia? Aku butuh informasi lebih. Tolong siapa pun katakan kepadaku siapa pria itu,' batin Andressa.
Tak lama sesudah itu, Leyna mengakhiri panggilannya dengan Thales. Kini ia tampak sedikit lebih lega dan tidak lagi takut maupun resah rencananya akan gagal.
"Untung saja kaisar Dorton berada di belakangku. Apabila aku sendiri yang bergerak, aku takkan mampu melakukan apa pun."
Andressa terkejut bukan main. Dia tidak salah dengar. Kaisar Dorton ialah orang yang telah mengirim undangan pertemuan tabib kepadanya. Tidak salah lagi, ia mendengar nama sekutu Leyna secara jelas.
'Ah, sekarang aku paham maksud undangan yang dikirim kepadamu. Ternyata seperti itu? Dia mau menjadikan aku sebagai tumbal. Tumbal apa memangnya? Jangan-jangan tabib yang menghilang seluruhnya dijadikan tumbal oleh kaisar bajing*n itu? Tidak bisa begini. Aku harus mengorek lebih jauh lagi informasi mengenai kaisar Dorton. Namun, sebelum itu aku harus keluar dari tempat ini sebelum terlambat.'
Leyna bersenandung ria. Suasana hatinya gembira dan penuh aura kebahagiaan. Bayangan kehancuran kekaisaran Emilian memenuhi isi kepala.
Leyna pun bergumam, "Jika kekaisaran Emilian berhasil jatuh ke tanganku, itu artinya pembalasan dendamku berhasil. Ini adalah salah mereka yang membantai habis keluargaku. Aku takkan pernah lupa bagaimana wajah ayah dan ibuku yang menangis di panggung eksekusi. Setelah aku membunuh kaisar sebelumnya, aku akan membunuh Lorcan sesudah ini. Tunggulah sebentar lagi, aku harus mengurus Andressa terlebih dahulu."
Andressa berpikir bahwa kejiwaan Leyna telah rusak sepenuhnya. Wanita itu tidak dapat diselamatkan karena jiwanya telah dikuasai oleh iblis.
__ADS_1
'Bukankah katanya keluarganya yang mendalangi pemberontakan di masa lalu? Sekarang dia menuntut balas dendam. Betapa naifnya dia. Tidak merasa bersalah setelah membuat Emilian nyaris berada dalam kehancuran. Dan dia menganggap apa yang dilakukan keluarganya merupakan sebuah kewajaran. Aku pikir otaknya sudah rusak sedari dulu.'
Andressa terus menggerutu dalam hati. Tidak ada lagi yang lebih mengherankan dibanding motif balas dendam Leyna. Sedikit lucu dan dibubuhi lelucon. Bagi Andressa, Leyna mungkin punya kelainan di dirinya. Bahkan, orang gila sekali pun paham mengenai kesalahannya. Akan tetapi, Leyna mewajarkan kesalahan fatal keluarganya. Apabila orang lain mendengar ini, mungkin Leyna akan menjadi bahan tertawaan mereka.