
Tanpa menjawab pertanyaan Lorcan, Andressa langsung bergerak menutup portal tersebut hanya dengan sebuah sentuhan dari telapak tangannya. Portal itu cukup ditutup memakai sedikit mana yang sudah diperkuat. Tentu saja kala itu Lorcan tidak dapat melihat bentuk mana yang keluar dari tangan Andressa.
"Semudah itu?!" Lorcan terperanjat kaku tatkala Andressa tampak begitu mudahnya menutup portal.
"Ya, tetapi tidak sembarang orang yang bisa melakukannya karena jika tidak berhati-hati, mungkin saja kau bisa terserap ke dalamnya," ujar Andressa.
Akhirnya, seluruh kekhawatirannya telah usai sementara waktu. Walaupun masih ada daerah lain yang perlu dia kunjungi dan melakukan hal yang sama seperti saat ini.
"Terdengar membahayakan. Namun, Andressa, apakah ada tempat lain yang mengalami hal serupa?" tanya Lorcan.
Andressa mengeluarkan kertas berisi catatan daerah mana saja yang didatangi para monster.
"Tidak, masih ada beberapa. Akan tetapi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena mungkin semuanya dapat berakhir sesegera tanpa menimbulkan korban. Jadi, kau harus memperhatikan baik-baik setiap wilayah di Emilian. Jangan sampai kau lengah dan tidak sadar oleh kehadiran makhluk layaknya monster-monster ini."
Lorcan mengangguk. Dia sangat menurut sekali terhadap apa pun yang dikatakan Andressa.
__ADS_1
"Aku mengerti. Sekarang ayo kita pulang. Tampaknya seluruh kesatria sudah menyelesaikan tugasnya. Aku masih punya banyak pekerjaan lain yang perlu diselesaikan." Lorcan mengajak Andressa kembali bersama.
"Baiklah, ayo kita kembali."
Malam itu mereka bersama-sama menempuh perjalanan ke kediaman masing-masing. Mereka tiba di kediamannya pada saat pagi hari. Lorcan melanjutkan pekerjaannya yang terbengkalai, sedangkan Andressa beristirahat sebentar sebelum ia pergi ke luar lagi.
"Amelia, sekarang sudah pukul berapa?" Andressa bertanya sembari terus menulis resep obat.
"Sekarang sudah jam dua belas siang, Nona. Apa Anda mau istirahat makan siang sekarang?" tanya Amelia balik.
Amelia menggeleng pelan.
"Tidak, Nona. Saya rasa Anda boleh pulang dan serahkan kepada kami urusan di klinik."
"Ya, terima kasih."
__ADS_1
Setelah menyelesaikan pekerjaan terakhirnya, Andressa pun meninggalkan klinik. Gadis itu berencana untuk pergi ke wilayah-wilayah yang dijamah monster magis. Untung saja seluruh monster magis yang kala itu muncul berada pada tingkat paling mudah untuk dibunuh. Dan untungnya juga para monster magis belum sempat mengacau di pemukiman penduduk.
Andressa terus menerus berpindah tempat dalam sekejap selama lebih dari dua belas jam. Cukup menyulitkan baginya bergerak sendirian, tetapi hanya inilah yang dapat dia lakukan dan dirinya tak ingin melibatkan orang lain, apalagi harus melibatkan Lorcan.
"Sangat merepotkan harus menyembunyikan sihirku setiap saat. Apa aku tidak bisa menggunakannya secara bebas dan sembarangan seperti dahulu?" Andressa menghela napas kasar. "Aku rindu kehidupan masa laluku."
Andressa mengeluhkan segala kerumitan hidup yang dia jalani saat ini. Rasanya ingin sekali dirinya memamerkan ilmu sihir yang lebih hebat daripada energi aether.
Tanpa terasa, di sela-sela gerutuannya, dia pun menyelesaikan tugasnya dengan baik. Seluruh portal yang menyebar di dunia ini berhasil ia singkirkan.
"Akhirnya selesai! Saatnya aku pulang! Aku rindu kasurku yang empuk."
Andressa kembali ke klinik. Akan tetapi, bukannya beristirahat, Andressa malah dihadapkan lagi dengan pasien darurat.
"Nona, Anda harus ke ruang operasi sekarang! Ada pasien darurat yang butuh pertolongan Anda!"
__ADS_1