
Tibalah hari dimana upacara dan pesta pertunangan dilaksanakan. Ada banyak sekali tamu undangan yang datang dari berbagai wilayah serta perwakilan dari kekaisaran maupun kerajaan yang diundang khusus oleh Lorcan.
Dekorasi aula utama istana tampak sangat indah. Terlihat jelas bahwa para pekerja istana mendekorasinya sepenuh hati dan jiwa. Bahkan, dekorasi aula ini dipuji oleh seluruh tamu undangan yang datang.
"Sepertinya kaisar Emilian mempersiapkan ini secara hati-hati."
"Ya, bisa dilihat dengan jelas semuanya. Aku mendengar kalau wanita yang menjadi tunangan kaisar merupakan penyelamat hidup beliau."
"Wah aku tidak sabar ingin melihat calon tunangan kaisar. Aku juga mendapat info bahwa calon tunangannya punya wajah yang sangat cantik dan warna rambut yang unik."
"Mari kita lihat nanti, benarkah secantik itu atau hanya dilebih-lebihkan saja oleh orang lain."
Sementara para tamu undangan sedang bercengkerama ria, Andressa masih berada di salah satu kamar di istana. Dia menginap di istana sejak kemarin untuk melakukan persiapan. Kini ia baru saja selesai dirias oleh penata rias terbaik yang dipersiapkan Lorcan untuk Andressa.
"Wah, Nona. Anda sangat cantik."
Seluruh mata di sana tercengang melihat Andressa. Mereka tidak menyangka kecantikan Andressa malah semakin bersinar. Padahal riasannya tidak begitu tebal dan hanya memberi warna saja di wajahnya karena Andressa sendiri tidak suka riasan yang terlalu berlebihan.
Andressa berdiri menatap dirinya di depan cermin rias besar. Sesekali ia berputar melihat belakang gaun yang mempertontonkan punggung polosnya.
"Sudah lama sekali aku tidak melihat riasan sebagus ini dan juga gaunnya sangat cantik bila dipadukan dengan riasannya. Sepertinya kalian sudah bekerja keras. Terima kasih, nanti aku akan memberi kalian bonus," ujar Andressa sangat puas atas hasil kerja keras dari beberapa orang.
"Sebenarnya ini karena Anda pada dasarnya sudah cantik, Nona. Jadi, apa pun yang Anda kenakan jadi terlihat bersinar di tubuh Anda. Sungguh, saya baru kali ini melihat ada wanita secantik Anda. Bahkan, nona Camille tidak ada apa-apanya bila disandingkan dengan Anda."
Semua orang mengangguk setuju kala penata busana memuji Andressa. Sejak dulu dia sudah sering mendengar pujian serupa.
"Bagaimana pun aku menghargai hasil kerja keras kalian. Dengan begini aku bisa lebih nyaman dan tidak perlu mengkhawatirkan apa pun."
Tidak lama kemudian, Amelia ikut mengintip ke dalam kamar. Dia tercengang mendapati Andressa berbalut gaun mewah beserta riasan wajah yang memancarkan aura kecantikannya.
"Nona, Anda adalah wanita paling cantik malam ini! Kaisar tidak salah memilih Anda sebagai tunangannya. Sayang sekali, mengapa kaisar tidak langsung menikahi Anda saja? Apa beliau tidak khawatir Anda dirampas oleh pria lain?"
__ADS_1
Andressa menyorot datar Amelia. Bagaimana bisa gadis itu berpikir demikian? Dia sendiri tidak punya pikiran untuk menikahi Lorcan. Ya walaupun tanpa sadar setelah Amelia berucap seperti itu ada kesenangan tersendiri di hatinya. Ah, Andressa sungguh tidak peka terhadap perasaannya sendiri.
"Berhentilah membicarakan omong kosong. Aku tidak punya pikiran untuk menikah. Sementara waktu biarlah berjalan seperti ini," ujar Andressa.
Ekspresi Amelia tampak kecewa ia menjawab begitu.
"Padahal kaisar terlihat sangat mencintai Anda," tutur Amelia bersuara kecil.
"Ya? Apa yang kau katakan?" tanya Andressa meminta Amelia mengulangi perkataannya.
"Tidak! Saya tidak mengatakan apa-apa. Saya hanya sedang berbicara sendiri," dalih Amelia takut dimarahi Andressa.
Beberapa menit berselang, Lorcan mengetuk pintu kamar. Amelia membukakan pintu kamar agar Lorcan bisa masuk.
"Apa Andressa sudah selesai berdandan?" tanya Lorcan kepada Amelia.
"Sudah, Yang Mulia. Silakan Anda lihat sendiri, pasti Anda terpesona oleh kecantikan nona."
Lorcan benar-benar menjadi lupa diri. Seolah-olah tersihir keindahan diri Andressa, ia sampai tidak ingat bahwa upacara pertunangan segera dilaksanakan.
"Kau sudah datang? Bagaimana? Apa aku cocok dengan riasan seperti ini?" Andressa mendekati Lorcan, ia tersenyum manis dan begitu polosnya.
Lorcan buru-buru menyadarkan dirinya dari lamunan panjang.
"Y-Ya, s-sangat cocok." Lorcan mendadak gugup, degup jantungnya kencang dan sulit dikontrol.
"Sungguh? Kenapa kau menjadi gugup begini?"
Wajah Lorcan merona sempurna. Segera ia alihkan pandangannya ke arah lain. Dia benar-benar malu saat itu.
"Aku tidak gugup. Ya sudah, ayo kita pergi sekarang. Semua orang sudah menunggu kita sedari tadi."
__ADS_1
Lorcan mengulurkan tangannya. Andressa langsung menerima uluran tangan Lorcan dan menggandeng pria itu menuju ruang aula utama.
Padahal Andressa terlihat biasa saja, sedangkan Lorcan benar-benar tidak bisa menatap gadis itu sedikit pun sebab kecantikan Andressa malam ini sangat tidak wajar sama sekali.
"Kaisar Lorcan Emilian dan Viscountess Andressa Erriel memasuki ruangan."
Begitu para kesatria penjaga pintu masuk aula mengucapkan nama Lorcan dan Andressa, seluruh atensi langsung memusat ke arah mereka berdua. Suara bising di aula pun mendadak hening.
Seisi aula ketika itu terpukau oleh pasangan yang akan bertunangan malam ini. Mereka tidak percaya kalau wanita yang bersanding dengan Lorcan secantik itu. Bahkan, lebih cantik dari yang dirumorkan.
"Ya ampun, apa-apaan itu? Apa calon tunangan kaisar sungguh seorang manusia?"
"Wah, aku sampai tak bisa berkata-kata saat melihatnya. Meskipun warna rambutnya sedikit unik, tetapi itu menjadi daya tarik tersendiri baginya."
"Pantas saja kaisar bersikeras ingin bertunangan dengannya. Calon tunangannya saja lebih indah dari bunga di taman."
Berbagai reaksi ditunjukkan oleh tamu undangan saat itu. Andressa bisa mendengar dengan jelas apa saja jenis pujian yang melayang untuknya.
'Aku masih belum terbiasa menerima pujian sebanyak ini. Walau di kehidupan lalu aku bosan mendengarnya, tetapi tetap saja aku tidak terbiasa,' batin Andressa berusaha menutup telinga.
Lorcan dan Andressa berdiri di hadapan para tamu undangan. Semua orang terlihat menunggu Lorcan untuk berbicara.
"Terima kasih telah menghadiri pesta pertunanganku dan Andressa malam ini. Mungkin sebaiknya kita segera memulai upacara pertunangannya," seru Lorcan.
Kemudian seseorang muncul, orang itu yang akan memimpin upacara pertunangannya. Tidak berlangsung lama sampai keduanya saling bertukar cincin. Suara riuh tepuk tangan menggelegar di aula istana serta suara teriakan selamat dari beberapa orang juga bergaung di sana.
Lorcan tampak amat bahagia, meski ini hanyalah pertunangan kontrak. Untung saja ia masih bisa mengontrol perasaan bahagianya karena dia takut Andressa merasa tidak nyaman dengan kebahagiaannya hari ini.
"Lorcan, apa kau tidak melihat ibu suri hari ini?" bisik Andressa bertanya.
"Aku tidak melihatnya dari tadi. Sebelumnya aku sudah menyuruh bawahanku untuk memeriksa ke kediamannya, tetapi dia tidak ada di sana."
__ADS_1