
Ancaman Gibson tidak sekedar main-main belaka. Ancaman tersebut membuat Miria jantungan. Isi kepalanya kini dipenuhi oleh imajinasi-imajinasi buruk bila ia sungguh batal menjadi nyonya rumah kediaman duke Fidel.
"Jangan batalkan pertunangan kita! Aku tidak mau itu terjadi," ucap Miria.
Gibson berdecih kesal karena tingkah Miria. Wanita itu tiada henti membuatnya jengkel. Setiap tindakannya selalu merugikan orang lain. Padahal sebenarnya dia juga sama seperti Miria, selalu merugikan orang sekitar. Hanya saja Andressa merupakan pengecualian bagi Gibson.
"Berikan ganti rugi kepada klinik Andressa. Kliniknya baru dibangun beberapa waktu belakangan ini, tetapi kau mengacaukannya. Apa kau punya uang untuk memperbaiki klinik Andressa? Jangan bilang kau tak memilikinya?"
Miria terdiam sepersekian detik. Menyaksikan sang tunangan mengatup mulut, tampaknya dugaan dia barusan itu besar adanya.
"Dasar tidak berguna!" Gibson mengacak-acak rambut, ia terlihat frustrasi. "Apa keluargamu sekarang terancam bangkrut?! Ah, sial! Aku akan membantumu membayar ganti rugi, tetapi setelah itu kau tidak boleh mencari masalah lagi dengan Andressa. Kau paham itu?!"
Miria mengangguk lemah. Sejujurnya, ia tak menyangka kalau Gibson yang selalu bersikap lembut kepada setiap perempuan bisa berperilaku kasar. Bahkan, dia tidak segan-segan mengumpati Miria. Gadis itu hanya tidak tahu sifat asli yang disembunyikan Gibson selama ini di belakang semua orang.
'Apa dia menjadi kasar hanya karena aku mengusik Andressa? Sungguh tak bisa dipercaya. Mungkinkah pria ini mulai menempatkan perasaannya untuk Andressa?' pikir Miria membatin.
***
Saat ini Andressa dijemput oleh Lorcan untuk mempersiapkan gaun pertunangan. Untung saja mempersiapkan gaun tidak memakan waktu lama sehingga ia bisa langsung kembali ke klinik.
__ADS_1
"Apa kau tidak mau masuk dulu ke dalam?" tanya Andressa menawarkan Lorcan singgah ke klinik.
Lorcan pun menjawab, "Tidak, pekerjaanku masih menumpuk. Aku harus ke istana sekarang sebelum pekerjaan lain datang merundungku."
"Oh, begitu? Baiklah. Terima kasih sudah mengantarku pulang."
Andressa tersenyum manis hingga membuat Lorcan tersipu malu kala melihatnya.
"Ya, nanti aku akan menghubungimu lagi."
Tatkala Lorcan hendak melangkah pergi, seorang bawahan Andressa bergegas berjalan ke arah Andressa. Dia membawa sebuah amplop surat di tangannya.
"Nona, ada surat untuk Anda."
"Surat dari siapa ini?"
"Saya juga tidak tahu. Sebaiknya Anda periksa sendiri."
Lorcan menunda sejenak kepulangannya ke istana. Dia penasaran dengan surat yang diterima Andressa sebab warna amplopnya berbeda dari surat-surat yang dia terima selama ini.
__ADS_1
Andressa membuka surat itu. Ternyata setelah ia amati, ada ukiran lambang kekaisaran Dorton.
"Rupanya dari kekaisaran Dorton."
Sepasang netra Lorcan membulat sempurna.
"Apa? Kekaisaran Dorton? Mengapa mereka menghubungimu? Apa kau kenal dengan mereka?" Lorcan melontarkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Aku tidak mengenal siapa pun di sana dan aku tidak pernah berhubungan dengan kekaisaran Dorton selama ini. Biar aku baca dulu suratnya, sepertinya ini surat penting."
Andressa membaca setiap detail tulisan di surat tersebut. Ternyata surat itu merupakan surat undangan yang ditujukan kepada Andressa.
"Oh, ini adalah undangan menghadiri pertemuan para tabib di seluruh kerajaan dan kekaisaran. Mereka memintaku untuk hadir."
"Kapan itu?"
"Satu bulan dari sekarang."
"Hmm, ini aneh sekali." Lorcan merasakan kejanggalan dari surat undangan itu.
__ADS_1
"Aneh? Kenapa?"
"Selama ini pihak kekaisaran Dorton selalu mengirim undangan pertemuan tabib itu ke istana. Namun, mengapa tiba-tiba mereka mengirimnya langsung padamu?"