
Penginapan terbesar di kekaisaran Emilian mengalami kebakaran. Insiden ini terjadi ketika semua orang sedang melakukan aktivitas seperti biasa.
Masih belum diketahui penyebab terjadinya kebakaran. Saat ini korban kebakaran pun mencapai jumlah lebih dari lima puluh orang. Itu semua adalah pengunjung penginapan hingga pekerja di penginapan tersebut.
Mereka terlambat menyadari adanya api sehingga mereka terjebak di tengah-tengah api yang menyambar ke mana-mana. Tidak diketahui apakah ada korban yang meninggal dunia atau tidak. Yang jelas sekarang situasinya memburuk dan api sedang berusaha dipadamkan oleh para kesatria sekaligus penduduk sekitar.
"Sial! Menambah-nambah pekerjaanku saja. Jika bukan karena kita adalah klinik terdekat dari sini, aku takkan mau membantu mereka."
Niana sang kepala klinik Glory menggerutu sebab waktu istirahatnya terganggu. Begitu pula dengan Chris yang juga dipanggil untuk dimintai bantuan menangani korban terluka.
"Sudahlah, Nyonya. Tidak ada gunanya kita protes. Saat ini reputasi klinik Glory sedang memburuk. Kita bisa memanfaatkan momen ini demi meningkatkan reputasi kita di mata penduduk," ucap Chris.
"Iya, aku tahu itu. Nona Miria juga mengomeli kita setiap hari. Beliau menekan kita untuk memikirkan cara mengembalikan reputasi baik klinik Glory."
Niana dan Chris pun menyudahi percakapan mereka. Kemudian keduanya bergegas memeriksa para korban yang mengalami luka bakar tingkat ringan, sedang, hingga luka berat sekaligus.
__ADS_1
Sementara itu, sekitar satu jam setelahnya, Andressa beserta para tabib kliniknya tiba di lokasi kejadian. Mereka langsung dituntun ke tempat di mana para korban berada.
"Apa masih belum ditemukan penyebab kebakaran ini?" tanya Andressa, ia cukup kaget menyaksikan kobaran api melenyapkan penginapan yang sangat luas itu.
"Belum, Nona. Kami masih mencari tahu penyebabnya," jawab salah satu kesatria.
"Warna api dan tingkat panasnya sedikit berbeda. Mungkin memang ada sesuatu yang menjanggal di sini." Andressa bergumam sembari berpikir.
Sesampai di tempat para korban dibaringkan, Andressa terperangah kaget sesaat dirinya mendengar teriakan dari dalam.
"Apa yang sedang kau lakukan, Chris?! Kenapa luka pasien ini malah bertambah parah?"
"Tidak tahu, Nyonya. Saya hanya memberikan resep obat oles untuk luka bakar yang kita racik biasanya di klinik."
Terlihat juga Niana dan Chris dilanda kepanikan ketika menyaksikan obat mereka bereaksi lebih buruk di luka tubuh pasien. Andressa yang melihat hal itu pun buru-buru mendekat ke pasien tersebut.
__ADS_1
"Apa yang sudah kalian lakukan?! Menyingkirlah!"
Andressa mendorong kasar kedua orang itu. Mereka tampak kesal begitu Andressa datang.
"Kenapa kau bisa ada di sini?! Kamilah yang ditugaskan mengurus—"
"Diam!" Andressa meneriaki mereka sampai terdiam. "Aku yang akan mengambil alih pasien ini."
Andressa mengalihkan fokusnya kepada pasien itu. Dia mengecek dengan seksama luka di tubuh sang pasien.
'Dia punya daya tahan tubuh yang kuat. Separuh dari tubuhnya terbakar, tetapi dia masih sadarkan diri. Akan tetapi, anehnya lukanya bertambah buruk ketika kedua orang bodoh ini mengobatinya. Obat apa yang mereka oleskan ke tubuh pasien ini?'
Kemudian indera penciuman Andressa tanpa sengaja mencium aroma daun hirloen. Andressa mengendus sekali lagi obatnya langsung dari wadah obat oles tersebut.
Raut muka Andressa seketika berubah merah padam akibat amarah.
__ADS_1
"Dasar tabib tidak berguna!" Sekali lagi Andressa meneriaki Niana dan Chris. "Apa kalian berencana untuk membunuh para pasien di sini?!"