Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Luka Parah Mematikan


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya bisa seperti ini?!"


Hanya dalam penglihatan sekilas, Andressa langsung paham bagaimana kondisi putra dari Baroness Yerland. Kala itu, seisi kamar seketika memusatkan atensinya ke arah Andressa.


Baron dan Baroness Yerland sedikit terkejut menemukan seorang gadis yang tak dia kenal di sana. Mereka tidak menyadari kedatangan Andressa sebelumnya.


"Siapa kau? Kenapa tiba-tiba kau masuk ke sini?" tanya Baroness Yerland dengan tatapan penuh selidik.


"Mohon maaf, Nyonya, Tuan, beliau adalah Nona Andressa. Beliau tabib yang akhir-akhir ini sangat terkenal di Emilian karena telah berkontribusi besar dalam memulihkan wilayah Selion," jelas sang pelayan yang membawa Andressa kemari.


"Dia tabib Andressa?" Baron Yerland bertanya sekali lagi untuk memastikan.


"Benar, Tuan."


Tanpa berucap apa pun, Andressa buru-buru mendekati ranjang Tuan Muda Yerland. Putra satu-satunya keluarga bangsawan ini tengah sekarat di atas tempat tidur.


"Sejak kapan dia seperti ini?" tanya Andressa memasang ekspresi panik.


"Sudah beberapa minggu berlalu. Awalnya dia baik-baik saja, tetapi akhir-akhir ini kondisinya memburuk dan nyaris tidak bisa bangkit dari tempat tidur," jelas Baron Yerland.

__ADS_1


Andressa mengamati serta meraba-raba luka di bagian lutut anak laki-laki itu. Ada sesuatu mengganjal yang ia rasakan.


"Bisakah kalian perlihatkan kepadaku obat yang diracik tabib klinik Glory? Aku ingin memastikan sesuatu."


Baroness Yerland bergerak cepat menyerahkan obatnya kepada Andressa. Gadis itu langsung mengecek kandungan obat tersebut.


'Aroma ini ... aroma tumbuhan hartar. Mereka sudah melakukan sesuatu yang besar kali ini.'


Melihat raut muka Andressa yang tak baik, Baroness Yerland seketika diterpa firasat buru.


"Nona, putra saya bisa diselamatkan kan?"


"Jawab pertanyaanku dengan jujur jika kalian ingin nyawa anak kalian selamat," ucap Andressa.


"B-Baik ...."


Andressa telah mempersiapkan sejumlah pertanyaan yang dapat membantu pengobatannya.


"Apakah putra kalian sering demam beberapa waktu belakangan ini? Dan apa nafsu makannya juga turun?"

__ADS_1


Baron dan Baroness Yerland mengangguk serentak mengiyakan pertanyaan Andressa.


"Dia sering kehilangan kesadaran, mengalami insomnia, sering berhalusinasi, dan tidak jarang mengeluhkan setengah badannya mati rasa. Benar begitu?"


"Benar. Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"


Andressa menatap tubuh Baroness Yerland kembali.


"Sudah aku duga. Tampaknya nyawa putra kalian sedang berada di ujung tanduk," ujar Andressa terang-terangan.


Ketika itu, seluruh telinga yang mendengar sangat syok begitu Andressa berkata seperti itu. Bak petir menyambar di langit terang, Baron dan Baroness Yerland nyaris pingsan detik itu juga.


"Nyawa anak kami berada di ujung tanduk? Apa maksudnya itu? Bukankah luka di kakinya hanya sekedar luka biasa? Bagaimana bisa lukanya merambat ke nyawa?" Baron Yerland tidak terima penjelasan Andressa.


"Kalian pikir ini luka biasa? Biar aku tanya, luka ini apakah didapatkan setelah tidak sengaja terjatuh dan menggores duri wern? Bentuk durinya sedikit besar disertai ujung tajam seperti jarum lalu berwarna putih kehitaman?"


Andressa terdengar marah. Nada suaranya meninggi dan mimiknya seolah-olah sedang menekan marah.


"Benar. Waktu itu putra saya menggores sebuah duri. Saya pikir itu duri biasa," jawab Baroness Yerland terisak.

__ADS_1


"Ini bukan duri biasa, melainkan duri yang mematikan. Ditambah lagi obat yang diracik klinik Glory terbuat dari tanaman hartar. Obat ini hanya memperburuk keadaannya. Sekarang lukanya perlahan menggerogoti tubuhnya sebab efek luka duri wern akan menjadi racun dan merenggut nyawanya bila luka itu tersentuh tanaman hartar."


__ADS_2