Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Kuatkan Hatimu, Lorcan


__ADS_3

Andressa masih terdiam sambil menyuap makanan ke mulutnya. Sedangkan Lorcan menanti sampai Andressa siap untuk berbicara.


"Lorcan, setelah ini mari kita bicara serius. Hanya kita berdua. Selepas kau mengetahui semuanya dariku, kau boleh menceritakan kepada orang-orang terpercaya di sisimu," ujar Andressa.


"Baiklah. Selesaikan dulu makanmu, kita akan berbincang nanti."


Seusainya, Lorcan langsung mengajak Andressa ke ruang tamu sekaligus menyuruh orang-orang yang ada di sana untuk keluar dan meninggalkan mereka berdua di ruang tersebut.


"Apa yang hendak kau bicarakan? Aku tahu, kau pasti bermaksud untuk menjelaskan masalah kematian ayahku kan?"


Andressa menganggukkan kepala pelan. Memang itulah yang ingin dibicarakan kala itu.


"Dengar aku baik-baik, inilah yang aku ketahui dari kematian ayahmu."


Secara perlahan, Andressa menjelaskan dengan amat terperinci kepada Lorcan. Bagaimana sang ayahnya mati serta penjelasan lebih lanjut tentang balas dendam ibunya.

__ADS_1


Lorcan kehabisan kata-kata. Dalam sesaat, pikirannya mulai bercabang ke mana-mana. Dia syok bukan main, hatinya terasa tercabik-cabik mata pisau nan tajam.


"Bagaimana mungkin semua itu terjadi? Padahal ayahku sangat mencintainya. Mengapa ibuku begitu tega?" Lorcan tampak frustrasi.


Andressa hanya duduk diam di hadapan Lorcan sembari mengusap punggung tangan sang tunangan.


"Aku mengerti kau sulit menerima semua fakta ini. Akan tetapi, kau harus menguatkan hatimu. Mulai detik ini, mungkin kaisar Dorton akan melakukan penyerangan lebih gencar lagi. Tidak hanya dirimu, rakyatmu juga sedang berada dalam bahaya," tutur Andressa memberi dorongan.


Lorcan tersenyum pilu. Sesak di hatinya nyari tak bisa dia kontrol.


"Aku setuju. Kau memang harus bertindak secara tegas. Kemudian jangan lupa tingkatkan keamanan di sekitar penjara supaya tidak ada penyusup dari Dorton untuk membawa keluar ibu suri."


"Baiklah, aku akan melakukan sesuai yang kau katakan."


Di hari yang sama, tepatnya di tengah malam gelap gulita, Egran menginjakkan kakinya di tanah istana kekaisaran. Dia bergerak lebih berhati-hati demi mencegah keributan.

__ADS_1


'Hal pertama yang aku lakukan adalah membawa wanita itu keluar dari penjara. Terlalu banyak rahasia yang perlu diamankan dari mulut ibu suri,' batin Egran.


Egran pun mengendap-endap menuju penjara bawah tanah. Sialnya, ada banyak sekali kesatria yang mengawasi pintu masuk ke penjara. Namun, hal itu bukanlah hambatan besar bagi Egran.


'Sepertinya aku harus menggunakan benda ini agar aku dapat menyelinap masuk dengan aman tanpa ketahuan.'


Egran mengeluarkan sebuah benda berbentuk kelereng kecil. Setelah itu, dia melempar benda tersebut ke atas lantai. Dalam sekejap, dia menghilang dari tempat itu dan berhasil masuk ke penjara.


Tepatnya, kini dia berada di depan tubuh Leyna yang tengah terlilit besi.


"Menyedihkan sekali." Egran menatap rendah Leyna.


Mendengar suara Egran, kesadaran Leyna pun kembali. Samar-samar penglihatannya menangkap keberadaan Egran. Bola matanya terbelalak tatkala ia memastikan Egran memang ada di sana.


"Egran! Apa kau kemari untuk menyelamatkanku?" Pandangan keputusasaan yang semulanya menyelimuti matanya mencair.

__ADS_1


"Ck." Egran berdecak kesal sebab Leyna tidak sengaja meninggikan nada suaranya. "Kecilkan suara Anda, Yang Mulia. Apa Anda mau kesatria sadar dengan kedatangan saya?" Tatapan Egran diliputi rasa jengkel.


__ADS_2