
Sungguh sangat lega mendengar hal itu dari Andressa. Anak mereka berhasil diselamatkan hanya dalam waktu singkat.
"Bagaimana kami harus membayar Anda?" Baroness Yerland menggenggam kedua tangan Andressa dengan mata berkaca-kaca.
Andressa hanya mengulas senyum tipis sembari menjawab, "Tolong bayar saya."
"Bayar? Berapa yang Anda butuhkan? Sepuluh gold? Lima puluh gold? Ataukah dua ratus gold?"
Andressa menggeleng pelan sambil mengangkat dua jarinya.
"Aku hanya butuh segini," ucap Andressa.
"Berapa? Dua puluh gold? Dua ratus gold? Atau lebih dari itu?" Baron Yerland mencecar Andressa dengan pertanyaan perihal jumlah yang mesti dibayarkan.
Andressa kembali menggeleng.
"Tidak. Maksudku, dua silver saja."
Mereka berdua tercengang ketika Andressa hanya meminta dua silver sebagai bayarannya.
"D-Dua silver? Apa Anda bercanda? Tidakkah itu terlalu murah?"
__ADS_1
"Bahan-bahan peracikan obatnya kan dari kalian. Biasanya aku memintanya empat silver bila bahan obatnya dariku. Jadi, itu sudah harga yang sewajarnya."
Baron Yerland masih syok mendengar biaya yang harus dia keluarkan untuk membayar Andressa.
"Baiklah. Tolong terima ini, Nona."
Baron Yerland menyerahkan satu kantong koin gold kepada Andressa. Gadis itu langsung mengecek jumlah koin gold di kantong tersebut.
"Ini lebih dari lima puluh gold. Terlalu banyak, saya tidak bisa menerimanya." Andressa mengembalikan lagi uangnya.
"Tidak apa-apa, Nona. Anggap saja ini bonus untuk Anda yang sudah menyelamatkan putra saya."
"Aku tidak bisa mengambil untung dari pasienku. Rasanya—"
Baroness Yerland memaksa Andressa untuk menerimanya. Dia terlihat marah karena Andressa terlalu memurahkan biaya pengobatannya.
"Bagaimana Anda bisa menawarkan jasa pengobatan Anda yang sangat hebat dengan uang senilai dua silver saja?! Klinik Glory yang tidak sehebat Anda saja menyuruh pasiennya membayar lima gold sekali berobat. Saya tidak bisa menerima ini," omel Baroness Yerland.
Andressa menghela napas panjang. Memang klinik Glory senang sekali menjadikan pasiennya sebagai ladang bisnis untuk mempercayai diri sendiri.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menerima uang yang kalian berikan ini."
__ADS_1
Terpaksa Andressa menurut dan menyimpan uangnya ke dalam kotak obat.
"Oh iya, lalu jika putra kalian sudah sadar dan membaik nantinya, tolong bawa dia ke klinikku untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut sekaligus memastikan bagaiamana kondisi tubuh bagian dalamnya," lanjut Andress berkata.
"Baiklah, kami akan mengingatnya. Terima kasih, Nona. Sekali lagi terima kasih. Anda adalah penyelamat putra kami."
"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang tabib. Ini hal yang sangat wajar bagiku."
Tanpa disadari Andressa, sedari tadi ada seseorang yang memperhatikannya. Orang itu adalah mata-mata yang dikirim Miria ke kediaman Baron Yerland. Wanita itu masih tidak puas terhadap penolakan Baroness Yerland serta kata-kata yang menyinggungnya.
"Aku harus melaporkan hal ini kepada Nona Miria. Wanita itu sudah melewati batas. Dia mengambil pasien-pasien yang seharusnya ditangani oleh klinik Glory."
Pada saat itu pula, Miria menerima surat laporan dari mata-matanya. Ekspresinya langsung kusut seketika. Padahal kala itu, dia sedang makan malam dengan Gibson di kediamannya.
"Dasar wanita kurang ajar! Beraninya dia merampas pasienku," gumam Miria menggerutu.
Gibson pun menatap heran Miria. Dia tidak sengaja membaca isi surat tersebut.
"Apa Andressa membuatmu kesal?" tanya Gibson.
"Iya. Apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya tidak bisa membiarkan masalah ini terus berlanjut."
__ADS_1
Gibson tersenyum. Terlintas rasa bangga di hatinya karena Andressa kembali membuatnya terpukau.