Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Kecemburuan


__ADS_3

Daun-daun pintu menuju aula terbuka lebar. Dalam sekejap suara bising berubah hening. Seisi ruangan mengarahkan atensi mereka pada satu titik yang sama.


Dari balik pintu masuk, Andressa datang sembari menggandeng tangan Lorcan. Semua tamu undangan seolah-olah terhipnotis oleh pesona mereka berdua.


Suasana ini membuat Andressa sedikit tidak nyaman. Dia tidak berharap menjadi sorotan tatkala berada di pesta tersebut. Akan tetapi, aura mendominasi yang dikeluarkan Andressa dan Lorcan sungguh mencuri perhatian.


"Aku tidak suka tatapan mereka," gumam Andressa mengeratkan gandengannya.


Lorcan tersentak karena lengannya diapit terlalu kuat oleh Andressa.


"Haruskah aku mencolok mata mereka agar tidak menatapmu? Bertahanlah sebentar. Kita akan segera keluar dari aula setelah menyelesaikan ini," ucap Lorcan.


"Ya, aku akan mencoba untuk menahannya."


Andressa dan Lorcan menghampiri bintang utama malam ini. Gibson dan Miria memberi tatapan berbeda kepada mereka. Terutama Gibson terlihat terpana oleh kecantikan Andressa. Dia lupa bahwa di sebelahnya ada Miria.

__ADS_1


'Wanita itu ... dia mengalihkan perhatian Gibson. Keberadaannya sungguh mengganggu. Sekarang dia menjadi pusat perhatian,' pikir Miria menggerutu dalam hati.


Andressa tersenyum tipis menatap Gibson dan Miria. Dia benar-benar membuat suasana hati menjadi lebih panas. Pasalnya, Andressa tidak melepaskan gandengan tangannya dari Lorcan.


"Selamat atas pertunangan kalian. Aku harap kalian bisa bertahan sampai ke jenjang pernikahan," tutur Andressa mewakili Lorcan yang malas berbicara.


"Terima kasih. Semoga kau juga segera punya tunangan dan menikah."


Miria sengaja membalas perkataan Andressa dengan ramah sebab dia takut terhadap sorot mata Lorcan. Pria itu seakan-akan mengancam Miria lewat tatapannya.


"Tentu saja. Oh iya, aku dan Kaisar punya hadiah untuk kalian. Harap diterima dengan sepenuh hati."


Penjuru ruang aula heboh karena hadiah mereka berdua. Hadiah tersebut disebut sebagai hadiah yang sangat mewah. Harganya juga bukan main mahalnya. Bahkan, banyak di antara mereka yang tidak mampu untuk membelinya.


"Astaga, bukankah ini barang-barang yang sangat mahal? Kami akan menerimanya. Sekali lagi terima kasih."

__ADS_1


Miria berujar sembari melirik Gibson yang masih terpaku diam. Miria pun memberi kode kepada Gibson untuk membuyarkan lamunannya.


"Oh ... ah iya, terima kasih." Gibson terdengar gugup.


"Kalau begitu, silakan nikmati hidangan pestanya. Saya harap Anda berdua menyukainya," kata Miria, mengusir secara halus.


"Baiklah. Ayo kita ke sana sekarang."


Andressa berjalan berbarengan dengan Lorcan. Namun, kala itu tanpa sadar, seseorang sedang memantau mereka menggunakan mata penuh kebencian dan kedengkian.


Orang itu adalah Camille. Wanita tersebut sebenarnya menaruh rasa benci kepada Andressa. Sebelumnya, dia telah berulangkali mengirim surat kepada sang Kaisar. Akan tetapi, tiada satu pun surat yang mendapat balasan.


Hingga Camille mendengar rumor dari pekerja istana bahwasanya Lorcan sering bertukar surat dengan Andressa. Rumor itu membuat hati Camille menjadi meradang cemburu.


'Awas saja kau! Aku akan mempermalukanmu setelah ini.'

__ADS_1


Camille melangkah ke meja tempat disediakannya minuman. Dia menjangkau segelas wine lalu segera menuju ke lokasi keberadaan Andressa. Kebetulan saat itu Andressa dan Lorcan berpisah. Mereka berdua memutuskan berpencar untuk menyapa orang-orang yang sedari tadi berkerumun hendak mengobrol.


"Viscountess Erriel, apa Anda menggunakan trik licik untuk mendapatkan hati Kaisar?"


__ADS_2