Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Semuanya Ulah Ibu Suri


__ADS_3

Andressa langsung kembali melakukan pekerjaannya seusai berbicara dengan Lion. Dia memutuskan untuk memikirkan semuanya nanti setelah pekerjaannya selesai.


"Nona, apa tidak ada cara untuk menyembuhkan bekas luka bakar di tubuh seluruh pasien? Kasihan sekali mereka bila hidup dengan bekas luka bakar yang hampir menyelimuti tubuh mereka," ujar Amelia.


"Menyembuhkan bekas luka bakar ya? Coba aku pikir sebentar."


Andressa menggali isi pikirannya yang menumpuk. Dia rasa pernah membaca tentang resep menghilangkan bekas luka bakar sampai tidak bersisa.


'Apa di dunia ini ada bahan-bahannya?'


Andressa menjangkau selembar kertas. Jemarinya bergerak menggambar dua jenis bahan utama pembuatan resep obat tersebut.


"Apa kau pernah melihat dua jenis bahan obat ini?" Andressa bertanya pada Amelia sembari menunjukkan gambarnya.


Di permukaan kertas putih itu, tergambar tanaman dengan batang berwarna ungu serta sebuah akar tanaman berwarna hitam.

__ADS_1


"Bukankah itu tumbuhan liar yang biasa tumbuh di tepi sungai? Mungkinkah tumbuhan liar itu bahan obat?"


Andressa tertegun. Tidak disangka kedua bahan obat itu rupanya tidak langka di dunia ini. Berbeda dari dunia tempat tinggalnya sebelumnya yang menjadikan kedua bahan obat itu sebagai bahan super langka.


"Benarkah? Kalau begitu, bisakah kau mengambilkannya untukku? Aku akan meracikkan obat untuk menghilangkan bekas luka bakar di tubuh pasien," kata Andressa memerintah Amelia.


Amelia yang awalnya murung dan sedih memikirkan nasib para pasien, sekarang raut mukanya mendadak semringah. Dia lega karena Andressa bisa memecahkan permasalahan tersebut.


"Baiklah, Nona. Saya akan pergi sekarang karena di sekitar sini ada sebuah sungai yang ditumbuhi tumbuhan liar itu."


Amelia mempercepat langkah kakinya menuju ke arah sungai berada. Sedangkan di waktu bersamaan, Marquess Gencio menghampirinya.


Tanpa berpikir panjang, Andressa menjawab, "Ya, saya akan pergi menemuinya."


"Kalau begitu, silakan. Saya sendiri yang menuntun jalan Anda untuk bertemu dengannya."

__ADS_1


Marquess Gencio membawa Andressa ke ruangan yang ditempati pemilik penginapan. Andressa sudah mencari tahu bahwasanya pemilik penginapan ini adalah Count Wain. Dia dulunya seorang rakyat biasa dan berakhir sukses menjalankan penginapan besar sehingga dia bisa membeli gelar bangsawan sendiri.


"Oh, apakah Anda yang bernama tabib Andressa?"


Sesampainya di ruangan Count Wain, dia menyambut Andressa dengan sangat baik dan ramah. Meskipun ia tak bisa bangkit dari tempat tidur, setidaknya dia masih bisa berbicar dan tersenyum kepada Andressa.


"Benar, Tuan, saya tabib Andressa," jawab Andressa.


Andressa melihat Count Wain terlihat gusar dan mengalami tekanan teramat dalam akibat insiden ini.


"Sebenarnya, ada sesuatu yang ingin saya bicarakan. Namun, sebelum itu saya benar-benar berterima kasih kepada Anda karena Anda telah menyelamatkan nyawa para korban kebakaran ini," tutur Count Wain.


"Anda tidak perlu berterima kasih karena ini merupakan kewajiban saya sebagai seorang tabib."


"Begitukah?" Count Wain mengulas senyum sekali lagi. "Saya menyesalkan terjadinya tragedi ini. Semuanya terjadi ketika saya menolak tawaran Ibu Suri untuk menjadi salah satu pendukungnya yang setia alias anj*ng yang menurut pada perintahnya setiap saat."

__ADS_1


Andressa tidak terkejut lagi mendengar hal itu. Firasatnya tidak salah bahwa ini semua ada hubungannya dengan Ibu Suri.


'Wanita itu sangat gila. Dia lebih gila dari yang aku bayangkan,' batin Andressa.


__ADS_2