
Andressa bertanya sambil mengarahkan tatapannya kepada satu per satu tabib yang berada di ruang tersebut. Mereka mengedikkan bahu menandakan bahwa mereka juga tidak tahu.
Kemudian seorang tabib pria pun mengangkat tangan.
"Saya, Nona. Apakah ada salah dari cairan infusnya?" tanya tabib tersebut.
"Kau yang menggantinya? Di mana kau mengambil persediaan cairan infus ini? Apa sebelumnya kau ada mencampurkan infusnya dengan obat-obatan lain?"
Pandangan bola mata Andressa terlihat tenang. Dia tidak langsung menghakimi bawahannya.
Tabib itu menjawab, "Saya mengambilny dari tempat biasa dan tidak ada obat-obatan apa pun yang berada di tempat penyimpanan infus."
"Begitukah? Baiklah. Silakan lanjutkan kembali pekerjaan kalian. Dan tolong awasi pasien ini, jika dia kembali mengamuk, kalian segera panggil aku."
Andressa beranjak pergi dari sana. Dia membawa cairan infus itu ke ruangannya. Andressa mencoba mengamati baik-baik apa yang membuat cairan infus itu menjadi penyebab dari kegilaan pasien.
"Aku harus mengeceknya."
Andressa mengambil satu tetes cairan infusnya. Dia memakai mana healer yang berada di tubuh untuk memeriksa infus itu secara teliti.
__ADS_1
"Huh? Apa ini? Kenapa cairan infusnya mengandung obat terlarang? Siapa yang mencampurkan ke dalam ini?"
Andressa terkejut bukan kepalang. Cairan infus itu mengandung salah satu jenis obat terlarang. Obat itu sudah dibasmi oleh Lorcan penyebarannya. Akan tetapi, kali ini sepertinya semua orang terkecoh.
"Apa mungkin ada pengkhianat di antara para tabib didikanku? Aku harus mencari tahunya. Masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja."
***
Pada malam harinya, di saat suasana mulai sepi, seorang tabib wanita menyelinap masuk ke ruang rawat pasien. Dia berjalan mengendap-endap ke dalam seraya memastikan kondisi sekitar.
Kemudian Amelia yang masih terjaga tanpa sengaja menemukan keberadaan tabib tersebut. Dia menepuk pundaknya hingga membuat tabib wanita itu terperanjat kaget.
"Ria, apa yang kau lakukan di sini?" Amelia bertanya tanpa menaruh curiga sedikit pun.
"Aku mau memeriksa pasien. Tadi kebetulan aku lewat di sini. Sebelumnya Nona Andressa juga menyuruhku untuk mengecek pasien," jawab Ria tergagap.
"Oh, begitu. Ya sudah, aku kembali dulu. Jangan lupa amati baik-baik cairan infus pasien."
"Ya, baiklah. Serahkan saja padaku."
__ADS_1
Amelia mengulas senyum tipis sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Ria sendiri. Sejenak Ria menghela napas panjang. Ketegangan di dirinya lenyap tatkala Amelia menghilang dari pandangan.
'Untung saja dia tidak curiga. Aku harus cepat menyelesaikannya sebelum ada orang yang mencurigaiku. Setelah itu, aku bisa langsung kabur dari klinik tabib Andressa,' batin Ria.
Di saat bersamaan, Amelia melangkah menuju ruangan tempat Andressa masih terjaga sepanjang malam untuk menyelesaikan racikan obatnya.
"Anda belum tidur, Nona?" tanya Amelia masuk ke ruangan Andressa.
"Sebentar lagi. Ada beberapa racikan obat yang masih belum selesai." Andressa menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.
"Oh iya, Nona, apa Anda menyuruh Ria untuk mengecek pasien? Tadi saya bertemu dengannya di lorong ke arah ruang rawat pasien."
Tangan Andressa berhenti bergerak di saat Amelia melontarkan pertanyaan itu.
"Ria? Aku tidak menyuruhnya mengecek pasien. Beberapa menit sebelumnya aku sudah memeriksa pasien dan kondisinya semuanya— ahh, sial!"
Andressa tiba-tiba menyadari sesuatu. Tanpa menunggu lama, dia langsung berlari ke luar ruangan.
"Nona, apa yang terjadi?!" Amelia kebingungan kala melihat Andressa mendadak panik dan berlari kencang.
__ADS_1
Andressa tidak merespon. Gadis itu terus berlari menuju ruang perawatan pasien.
'Pengkhianat ... penyusup ... rupanya wanita itu yang menyuntikkan obat terlarang ke dalam cairan infus pasien.'