
'Rasanya aneh sekali. Apa mungkin ada sesuatu yang buruk terjadi nanti? Firasatku tak bisa tenang beberapa hari ini,' batin Andressa.
Melihat Andressa yang gelisah, Lorcan mencoba menepuk pundaknya untuk membantu menyadarkan gadis itu dari lamunannya.
"Sepertinya pikiranmu sedang kacau. Apa ada sesuatu yang mengusikmu?" tanya Lorcan.
Andressa tersentak seraya menggeleng pelan, ekspresinya meluruh.
"Maafkan aku, aku sedang memikirkan tentang pasien wanita yang baru saja dibawa kemari. Apa kau mau melihat mereka?"
Andressa segera mengalihkan fokusnya dan fokus Lorcan.
"Boleh. Kebetulan aku masih ada waktu sebelum kembali ke istana. Aku ingin melihat kondisi mereka dengan mata kepalaku sendiri."
"Ya sudah. Ayo ikuti aku. Aku akan mengantarmu ke ruang tempat mereka menjalani perawatan."
Sesampainya mereka berdua di ruang rawat, Lorcan amat tercengang melihat ada banyak sekali alat medis melekat pada tubuh para pasien tersebut. Selain itu, sejumlah tabib sangat berhati-hati melakukan perawatan sesuai apa yang diajari Andressa selama ini.
"Apa mereka bisa disembuhkan?" Lorcan bertanya disertai nada kasihan.
"Bisa, butuh waktu sekitar enam bulan untuk mengembalikan kondisi tubuh mereka seperti sedia kala. Mereka harus meminum obat yang aku racik dan tidak boleh melewatkannya sekali pun. Ini adalah kunci supaya mereka bisa sembuh seutuhnya," jelas Andressa.
__ADS_1
"Aku benar-benar tidak menyangka di wilayah kekuasaanku ada rumah bordir ilegal. Aku sudah menyeret semua orang yang terlibat. Sekarang semua kesatria aku perintahkan untuk menyisir wilayah terpencil guna menghindari kejadian serupa."
Senyum bangga melengkung di bibir Andressa. Dia menyukai cara Lorcan memimpin rakyatnya. Tidak ada satu pun yang mau dia lewatkan begitu saja.
"Apa ada bangsawan yang terlibat dalam pendirian rumah bordir ini?"
"Syukurnya tidak ada. Tampaknya ini hanyalah kerjaan orang-orang biasa yang butuh uang."
Andressa turut lega mendengarnya. Jika ada campur tangan para bangsawan, maka urusannya akan lebih runyam daripada ini.
Kemudian setelah itu, Lorcan pamit kembali ke istana sebab masih banyak pekerjaan yang menantinya. Sementara Andressa melanjutkan aktivitasnya memeriksa sekaligus mengobati pasien.
Di daratan yang jauh dari Kekaisaran Emilian, lebih tepatnya di Kekaisaran Zervian, kini Sirius telah berada di istananya. Dia melewati banyak jalan nan panjang untuk sampai dengan selamat di wilayah kekuasaannya. Ditambah dia selalu dikejar oleh musuh yang mengincar nyawanya.
"Yang Mulia, Duke Valentine ingin bertemu dengan Anda. Sekarang beliau sedang menunggu Anda di ruang tamu," ujar salah seorang pelayan.
"Paman ingin menemuiku? Baiklah, aku segera ke sana menemuinya."
Sirius buru-buru keluar dari ruangannya.
'Mungkin saja paman ingin berbicara mengenai Andressa. Aku yakin dia sudah membaca surat dariku,' gumam Sirius dalam hati.
__ADS_1
Duke Erno Valentine tampak diam dalam hati resah menanti Sirius. Dia berencana memastikan kabar yang dia dapat dari Sirius sebelumnya.
"Paman, bagaimana kabar Anda?" tanya Sirius begitu memasuki ruang tamu.
Erno lekas berdiri memberi salam.
"Salam kepada Yang Mulia Kaisar."
"Sekarang hanya ada kita berdua di sini, Paman tidak perlu bersikap formal kepadaku."
Erno menegakkan badan kembali.
"Baiklah kalau begitu."
Sirius pun mendudukkan badan di atas sofa.
"Apa Paman mau bertanya mengenai Andressa?" Sirius langsung membahas Andressa tanpa basa-basi.
"Benar, apa kau sungguh sudah bertemu dengan Andressa?"
"Ya, Paman, aku benar-benar bertemu dengan Andressa di Kekaisaran Emilian."
__ADS_1