
Andressa menginjak punggung mata-mata itu, di mana posisi tubuhnya saat ini menelungkup di lantai. Kemudian Andressa membuka paksa topeng yang menutup wajahnya.
"Sial! Bisa-bisanya aku tertangkap!"
Pria itu mencoba menggelinjang sekuat tenaga. Dia berusaha lepas dari kekangan Andressa. Akan tetapi, tenaga gadis itu jauh lebih kuat dari dugaannya.
"Hei, lepaskan aku! Apa kau tidak tahu siapa aku?!"
Andressa dengan begitu kejamnya memukul sekuat tenaga kedua kaki pria itu menggunakan balok kayu. Terdengar bunyi retakan tulang dari sepasang kaki si pria.
"Arrghhh! Dasar jal*ng! Berani-beraninya kau mematahkan kakiku," teriak pria itu.
"Tentu saja aku berani, aku hanya memperlakukanmu sesuai bentuk mukamu yang jelek itu."
Andressa menekan punggung pria itu menggunakan ujung balok kayu.
"Dengar! Aku tidak peduli siapa pun kau, jika kau berani masuk ke wilayahku, maka kau harus bersiap untuk mati," lanjut Andressa penuh tekanan.
Amelia dan Marquess Gencio yang berada di ruang yang sama hanya berdiam diri menyaksikan kebrutalan Andressa. Gadis itu amat menyeramkan ketika marah. Apabila pria itu salah bertingkah sedikit saja, mungkin kepalanya bisa pecah akibat pukulan Andressa.
"Dasar wanita gila! Cepat lepaskan aku sebelum kau menyulut kemarahan—"
"Kau masih sanggup berbicara? Bukankah kau sekarang harus memberi tahuku siapa yang mengutusmu kemari? Jawab dengan jujur!"
Pria itu merintih pedih karena sekujur badannya seakan-akan remuk karena ulah gadis itu. Dia tidak bisa melakukan perlawanan. Segala arah geraknya dikunci oleh Andressa.
"Aku takkan menjawabnya! Meskipun aku mati, aku tidak akan pernah memberi tahumu siapa yang mengirimku kemari," kukuhnya.
Andressa menatap dingin pria itu. Semakin lama tatapannya kian tajam dan penuh aura kematian.
"Kau menolak menjawabku? Memang tidak ada alasan lagi membiarkanmu hidup. Kau sudah siap bertemu neraka, bukan? Bagaimana kalau aku mengirimmu sekarang?"
__ADS_1
Jemari Andressa merogoh saku roknya. Dia mengeluarkan sebuah jarum suntik.
"K-Kau ... apa yang ingin kau lakukan padaku?"
"Apa yang mau aku lakukan? Tentu saja membunuhmu. Tenanglah, aku akan mengirimmu ke neraka dengan cara yang paling lembut. Kau pasti bisa mati dengan damai, percayalah kepadaku."
Andressa tersenyum polos tak berdosa. Di dalam jarum suntik tersebut terisi cairan pembunuh yang dia siapkan setiap saat di dalam kantong pakaian. Kala itu, kali pertama Andressa menggunakannya semenjak tiba di dunia ini.
"Selamat sampai tujuan, bajing*n. Semoga Raja neraka langsung menyambut baik kedatanganmu."
Andressa menancapkan jarum suntiknya lalu memasukkan cairan tersebut sampai tak bersisa. Pada awalnya, si mata-mata itu menggeliat karena rasa panas mencabik-cabiknya dari dalam. Perlahan, rasa panas itu merenggut segalanya hingga dia mati tanpa harus memercikkan darah.
"Apa yang Anda lakukan barusan, Nona?" tanya Marquess Gencio.
"Saya baru saja melakukan suntik mati. Mata-mata itu mati seusai saya mencampurkan cairan ini ke tubuhnya. Tidakkah menurut Anda ini kematian yang menyenangkan?"
Marquess Gencio tak langsung memberi respon. Dia merasa pusing sesaat Andressa menjelaskan perihal suntik mati. Dia tidak menyangka ada sesuatu hal seperti ini di tangan Andressa.
"Saya tidak paham jalan pikiran Anda, Nona. Lalu sekarang apakah saya harus membantu Anda menyingkirkan mayatnya?"
Marquess Gencio membuang napas kasar. Dia langsung memerintahkan para kesatria menyingkirkan mayat itu dari hadapan mereka.
"Ya sudah, karena sekarang saya telah mengetahui semuanya, saya izin pamit untuk kembali ke ibu kota. Makanan dan air bersih untuk penduduk Selion, silakan Anda bagikan sendiri. Tampaknya penduduk di sini menjaga jarak dari saya," kata Marquess Gencio.
"Baiklah.Terima kasih, Tuan. Nanti kapan-kapan mampir lagi kemari."
Andressa mengantar kepulangan Marquess Gencio. Tidak lupa Andressa mengingatkan Marquess Gencio bahwa dia harus melakukan penyelidikan secara menyeluruh kepada bangsawan yang patut dicurigai. Dia harus memberi keadilan kepada para penduduk wilayah Selion.
'Mari kita tunggu kabar berikutnya.'
Setelah itu, Andressa bergegas membagikan makanan dan air bersih untuk penduduk wilayah Selion. Mereka tampak sangat senang ketika mendapatkan bantuan dari Marquess Gencio. Seusainya, Andresaa pun merebahkan badan untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1
"Aku mau tidur, tetapi entah mengapa masalah ini menyulitkanku untuk tidur. Sekarang aku harus pergi lagi ke hutan untuk mencari cara memulihkan kondisi tanah dan air di Seluin."
Andressa mengangkut senjatanya menuju ke luar klinik. Segera saja dia menuju ke hutan untuk melakukan penelitian terhadap masalah utamanya. Kemudian sebelum melangkah lebih jauh, Andressa dikagetkan oleh seorang pemuda yang berdiri di halaman depan klinik. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan.
"Nona, bisakah kita bicara sebentar?"
Andressa menjeda langkah. "Ya? Apa yang mau kau bicarakan denganku?"
Pemuda itu mengedarkan pandangan untuk memastikan apakah di sekitar mereka ada orang lain atau tidak. Sesudah tahu kalau hanya mereka yang ada di sana, pemuda itu pun mengambil napas untuk berbicara..
"Sebenarnya saya pernah melihat ada penyusup dari luar yang menabur sesuatu di hutan. Saya pikir itu bukan masalah besar. Namun, setelah mengetahui penyebab dari wabah ini, mungkin mereka adalah orang yang membantu menyebar penyakitnya."
Bola mata Andressa melebar begitu mendengar penjelasannya. Dia sudah menduga hal seperti ini terjadi di wilayah Selion.
"Kau yakin melihat mereka?"
Pemuda itu mengangguk. "Saya yakin, Nona. Mereka menabur sesuatu yang mirip garam."
Andressa berpikir keras, satu persatu masalah terpecahkan. Sekarang dia hanya perlu mencari bukti yang lebih akurat terkait pelaku di balik kekacauan di wilayah Selion.
"Apa kau melihat jelas wajah orang-orang itu?" tanya Andressa dengan tatapan penuh selidik.
"Saya tidak begitu mengingat wajahnya, tetapi yang pasti salah satu di antara mereka mempunyai luka goresan di pipi serta bibirnya juga punya bekas luka," jawab si pemuda.
"Baiklah itu lebih dari cukup. Terima kasih telah memberi tahuku. Biar sisanya aku yang mengurus. Kau cukup diam mendengar kabar baik dariku," tutur Andressa.
"Tolong selamatkan wilayah Selion, Nona. Saya ingin Selion kembali berjaya seperti di masa lalu. Hanya Anda satu-satunya orang yang dapat saya andalkan."
Andressa tersenyum lebar seraya menepuk pundak pemuda itu.
"Ya, aku pastikan kalian bisa hidup nyaman setelah ini. Tolong bertahanlah sebentar lagi sampai aku berhasil menemukan pelakunya."
__ADS_1
Andressa telah menjanjikan sesuatu yang cukup sulit. Akan tetapi, janji itu akan segera terwujud sebab Andressa berada satu langkah lebih dekat dengan identitas pelaku. Hanya perlu menunggu waktu sampai pelakunya terungkap.
"Aku harus pergi mengecek ke hutan lagi. Semoga ada petunjuk baru yang dapat aku gunakan sebagai alat bukti," gumam Andressa.