Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Membeku


__ADS_3

Andressa langsung menuju ke kamar rawat Lorcan seusai mengusir Ibu Suri dari klinik. Suasana menjadi lebih damai dibanding beberapa menit sebelumnya.


“Dasar wanita tua bangka itu. Dia datang hanya untuk memancing amarahku. Mungkin aku harus memasang papan pengumuman di depan bahwasanya klinik ini tak menerima kunjungan dari wanita gila seperti dia,” gumam Andressa menggerutu.


Andressa menutup perlahan pintu masuk kamar rawat Lorcan seraya menghela napas kasar.


“Apa yang membuatmu kesal? Mungkinkah ada seseorang yang mengganggumu selama kau tidak sadar?”


Andressa tersentak kala mendengar suara Lorcan. Bertepatan saat itu Lorcan baru saja sadar.


“Astaga, kau sudah bangun? Bagaimana tubuhmu? Apa masih ada yang dirasa sakit?” tanya Andressa segera bergerak mendekati ranjang Lorcan.


“Aku baik-baik saja sekarang. Justru aku terkejut karena aku berhasil selamat dari peristiwa itu. Bagaimana dengan yang lain?”


Lorcan tak terlalu mengkhawatirkan dirinya sendiri, dia lebih khawatir terhadap bawahannya yang juga tertimpa masalah yang sama.


“Mereka saat ini masih sedang berada dalam masa perawatan. Jason juga baru sadar. Untung saja kalian dibawa ke sini tepat waktu. Jadi, aku bisa menangani luka kalian sebelum menjadi lebih parah.”


Lorcan berupaya bangkit dari posisi berbaring. Andressa lekas membantu Lorcan karena pria itu tampak kesulitan mengubah posisi.


“Syukurlah kalau begitu. Waktu itu sangat mengerikan, mungkin bawahanku telah menceritakan kejadiannya kepadamu. Sampai saat ini aku masih penasaran, sebenarnya kilatan cahaya apa yang menyerangku dan bawahanku? Aku ingin mencari tahunya,” tutur Lorcan.

__ADS_1


Andressa tak langsung merespon. Ia diam selama sepersekian detik menjelang memberikan jawaban.


“Nanti saja kau cari tahu. Sementara waktu, kau tidak boleh memikirkan hal yang rumit-rumit. Tolong pikirkan saja kesehatanmu.”


“Baiklah, aku akan mematuhimu.”


Andressa melanjutkan melakukan pengecekan terhadap tubuh Lorcan serta memeriksa aliran mana di tubuh Lorcan. Kemudian Andressa mengganti cairan infus dan menyiapkan obat untuk Lorcan. Dikarenakan Lorcan merupakan seorang Kaisar sehingga Andressa tidak perbolehkan orang selain dirinya merawat Lorcan.


“Tadi Ibu Suri kemari,” ucap Andressa.


Lorcan perperangah sedikit tatkala mendengarnya.


“Dia punya niat buruk terhadapmu. Aku sengaja tidak membiarkan dia masuk karena aku khawatir—”


“Yang Mulia!”


Lorcan dan Andressa terperanjat kaget kala pintu masuk dibanting oleh Jason. Pria tersebut datang secara mendadak seusai mendengar Lorcan telah sadarkan diri.


“Yang Mulia … Yang Mulia … Yang Mulia!”


Jason berlari menghampiri Lorcan. Ekspresi Andressa dan Lorcan tercengang melihatnya berlinang air mata.

__ADS_1


“Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba datang dan menangis?” Lorcan menanggapi Jason dengan amat dingin seperti biasa.


Jason menghambur memeluk Lorcan.


“Yang Mulia, saya takut Anda tidak bangun lagi. Maafkan saya tidak bisa melindungi Anda,” ujar Lorcan terisak.


Lorcan mencoba menjauhkan Jason darinya.


“Aku masih hidup dan baik-baik saja. Cepat lepaskan aku, jangan membuatku malu.”


“Tidak, Yang Mulia—”


“Lepaskan aku! Jangan sentuh aku, sialan! Aku tidak suka dipeluk pria.”


Andressa terkikik kecil menyaksikan tingkah laku Jason. Mereka merupakan gambaran atasan dan bawahan yang sempurna. Lalu tak berselang lama, secara mengejutkan terjadi sesuatu yang menyebabkan mereka semua syok berat.


“Aghhh! A-Apa ini?!”


Tatkala Lorcan sedang menyentuh tepian ranjang, separuh dari ranjang Lorcan berubah menjadi es. Andressa tak kalah terkejutnya, apalagi dia dapat melihat jelas bahwa mana di tubuh Lorcan sedang bergejolak tak menentu.


“K-Kenapa muncul es begini di ranjangku? Apa yang terjadi?”

__ADS_1


__ADS_2