Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Pelayan dan Kesatria Tumbang


__ADS_3

Viscountess Kaidan membeku di tempat tatkala mendengar penuturan Andressa. Dia tahu bahwa suaminya sakit parah, tetapi memangnya separah itu? Sampai-sampai Andressa meminta tolong kepada Lorcan untuk melakukan karantina terhadap orang-orang yang berkontak fisik dengannya.


"Nona, mengapa Anda seolah-olah tahu penyakit suami saya tanpa diperiksa terlebih dahulu? Apalagi Anda bersikap seperti penyakit suami saya juga membawa kematian terhadap orang lain di sekitarnya."


Andressa menghela napas panjang. Sepenuhnya dia paham tentang kekhawatiran Viscountess Kaidan perihal kondisi sang suami. Meski begitu, dia tak bisa menyembunyikan terkait wabah tersebut.


"Maaf, Nyonya, berdasarkan gejala-gejala Viscount yang tadi Anda sebutkan, semua itu merujuk pada wabah maut hitam. Tidak ada penyakit yang lebih berbahaya daripada wabah ini," ucap Andressa secara tegas.


"Lalu apa kecil kemungkinan suami saya untuk bertahan? Apa tidak ada harapan bagi saya sembuh dari penyakit mematikan itu?"


"Bersabarlah sebentar, saya pasti akan mengusahakan yang terbaik. Untuk sekarang Anda harus membawa saya ke kediaman Anda. Saya sendiri yang akan memeriksa langsung kondisi Viscount dan juga penghuni mansion lainnya," tutur Andressa berusaha menenangkan Viscountess Kaidan.


"Baiklah, saya akan membawa Anda ke mansion, tetapi, Anda melakukan kontak fisik dengan saya saat ini. Apa Anda tidak takut tertular juga?"

__ADS_1


Viscountess Kaidan tampak mengkhawatirkan Andressa.


"Tidak masalah, saya punya kekuatan melawan penularan penyakit ini. Mari kita berangkat sekarang, Nyonya."


Benar, Andressa punya mana di tubuhnya sehingga dia bisa bertahan melawan segala macam penyakit yang hendak menyerangnya. Oleh sebab itu, tidak heran mengapa Andressa tidak takut memegang tangan Viscountess Kaidan.


Selepas itu, mereka berdua berangkat ke kediaman Viscount Kaidan. Cuaca pada saat itu hujan deras sehingga ada beberapa hambatan di jalan yang membuat mereka memakan lebih banyak waktu untuk tiba di mansion.


"Di mana yang lain?" tanya Viscountess Kaidan kepada salah seorang pelayan.


"Nyonya, beberapa orang pelayan dan kesatria tumbang tidak sadarkan diri. Mereka sakit mendadak dan punya gejala yang sama seperti Tuan Viscount."


"Apa? Mereka semua tumbang?!"

__ADS_1


Pelayan itu mengangguk.


Andressa berdecak frustrasi sambil berkata, "Tampaknya wabah ini menyebar lebih cepat dari perkiraan saya. Nyonya, tolong biarkan saya memeriksa tubuh Anda terlebih dahulu. Saya ingin memastikan apakah Anda juga sudah terjangkit penyakit yang sama seperti Viscount atau belum."


"Baiklah."


Andressa mengecek kondisi tubuh Viscountess Kaidan. Di tangannya sudah mulai muncul ruam yang menandakan penyebaran wabah tersebut mulai menyerang tubuh Viscountess Kaidan.


"Nyonya, Anda harus mengurung diri Anda di kamar tersendiri. Jangan buat kontak fisik dengan orang selain saya. Sepertinya Anda juga tertular penyakit yang sama seperti Viscount. Untung saja ini masih gejala awal, jadi saya masih bisa membantu menyembuhkannya."


Dengan berat hati, Viscountess Kaidan menuruti perkataan Andressa. Dia segera pergi ke kamar kosong untuk mengurung diri. Sebelum itu, Andressa meminta seorang pelayan membuatkan teh jahe untuk menghangatkan diri Viscountess Kaidan.


Kemudian barulah Andressa bekerja memeriksa kondisi Viscount Kaidan. Dia juga meminta seluruh pelayan dan kesatria menjauhi kamar pria itu sementara waktu demi mencegah penularan wabah maut hitam lebih jauh lagi.

__ADS_1


__ADS_2