Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Berhasil Mendapatkan Bunga Lonceng


__ADS_3

Sesampai di dalam hutan Rovas, Andressa sedikit terkesan karena hutan itu benar-benar menjebak jika dari luar. Nuansa hutan tersebut amat asri dan indah. Jika seseorang yang tidak tahu, mungkin akan terpana lalu masuk begitu saja ke dalam hutan tanpa adanya persiapan.


"Sangat menipu! Hutan dengan segudang hewan mematikan ini bisa membunuh lebih banyak orang. Sial! Untung saja aku tahu soal hutan ini."


Andressa pun mulai melangkah masuk ke dalam. Pada awalnya tampak biasa saja, tetapi semakin dalam maka semakin banyak halangan. Baru saja Andressa hendak diserang oleh kawanan monyet. Namun, monyet-monyet itu berhasil disingkirkan oleh Andressa dalam sekejap.


"Di sebelah utara kan? Mari lihat, ke mana aku harus melangkah berikutnya."


Andressa berjalan ke arah utara. Akan tetapi, tepat menjelang ia tiba di sebuah tebing, Andressa didatangi oleh berbagai jenis hewan buas.


"Oh kalian baru muncul. Beraninya kalian menghadang langkahku. Kalian sudah bosan hidup kah?"


Andressa menyunggingkan senyum miring. Dia menggenggam erat sebuah belati di tangannya. Dia lebih suka melawan mereka menggunakan senjata tajam yang lebih kecil seperti belati daripada pedang.


"Ayo sini maju. Aku akan menunjukkan kepada kalian seperti apa itu neraka," tantang Andressa.

__ADS_1


Para hewan buas itu merasa tertantang oleh Andressa. Mereka secara asal-asalan menyerang Andressa, tetapi tiada satu pun serangan mereka mengenai tubuh Andressa.


"Kalian bukanlah tandinganku! Jangan karena jumlah kalian lebih banyak, kalian bisa seenaknya denganku!"


Andressa mengerahkan serangan beruntun tanpa ampun hingga ujung belatinya sukses melayangkan nyawa para hewa buas tersebut.


"Sudah aku katakan, kalian takkan bisa mengalahkanku."


Andressa menyeka percikan darah di wajahnya. Napasnya terengah-engah karena terlalu banyak bergerak ke sana kemari. Di sela itu, dia masih saja mengutuk Dewa yang telah mengirimnya ke dunia ini.


"Sekarang saatnya aku memetik bunga lonceng merah. Mungkin aku akan memenuhi tasku untuk meracik obat lebih banyak."


"Sudah selesai! Mari kita pulang!"


Andressa mengemasi barang-barangnya. Setelah itu, ia segera bergerak meninggalkan hutan. Tatkala dia tengah berjalan menuju luar hutan, Andressa terperanjat kaget menemukan ada seorang pria tidak sadarkan diri di sebuah batu besar.

__ADS_1


Pria bersurai pirang itu tampak terluka parah di kepala dan punggung tangannya. Andressa bersegera menghampiri pria itu lalu mengecek denyut nadinya.


"Dia masih hidup. Dia hanya terluka karena sayatan senjata tajam. Bersyukurlah kau bertemu denganku di hutan ini," gumam Andressa.


Gadis itu mengeluarkan perban dan obat yang dia bawa dari klinik. Andressa memang sengaja membawa itu ke mana-mana karena tidak ada yang tahu musibah seperti apa yang mungkin menghampirinya nanti.


"Aku harus membersihkan lukanya."


Andressa menggunakan sedikit aliran mana di tubuhnya untuk membantu proses pengeringan luka. Seusai mengoleskan obat, dia langsung membalut perban ke kepala dan tangan pria tersebut.


"Sekarang dia akan baik-baik saja."


Tatkala Andressa membereskan kembali obat-obatannya, ia mendengar langkah kaki manusia dari arah berlainan.


"Yang Mulia! Yang Mulia! Di mana Anda? Tolong jawablah panggilan saya!"

__ADS_1


Andressa terkejut mendengar suara seorang pria yang menunggangi kuda.


"Aku harus pergi sekarang! Mungkin mereka sedang mencari keberadaan pria ini. Ingatlah! Nanti ketika kau bertemu aku, kau harus berterima kasih padaku," ucap Andressa kepada pria yang pingsan itu lalu dia lekas menghilang segera dari harapan si pria.


__ADS_2