Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Penculikan Andressa


__ADS_3

Andressa menepuk pundak Camille seraya merekahkan senyum seringai. Camille tampak emosi karena Andressa benar-benar meremehkannya.


Kini Andressa pergi beralih ke tamu yang lain. Dia membiarkan Camille merasakan kejengkelan terhadap dirinya.


"Wanita angkuh! Dia pikir dia sudah menang dariku? Lihat saja nanti. Aku akan menunjukkan kepadanya bahwa aku bisa merebut kaisar darinya. Tinggal tunggu waktu yang tepat bagiku bergerak," gumam Camille.


Beberapa menit seusai Andressa berbicara dengan Camille, ia pamit sebentar untuk ke kamar mandi. Namun, ia pergi tanpa pengawalan dari pelayan maupun kesatria karena dia pikir dia tidak membutuhkan pengawalan kala itu.


Kemudian saat Andressa keluar dari kamar mandi, tangan seseorang membekap mulutnya dari belakang. Andressa memberontak minta dilepaskan.


"Diamlah sialan!" Orang itu ternyata seorang pria. Dia akhirnya membuat Andressa tidak sadarkan diri lalu menyeret gadis itu entah ke mana.


Selama kurang lebih tiga puluh menit, Andressa tak kunjung menampakkan diri. Hal ini membuat Lorcan dan semua orang bertanya-tanya.


"Ke mana Andressa? Mengapa aku tidak bisa menemukannya? Bukankah sebelumnya Andressa ada di sini?" tanya Lorcan kepada salah satu kesatria.


"Tadi nona Andressa pamit ke kamar mandi, tetapi beliau tak kunjung kembali," jawab sang kesatria.


"Ya sudah, kalau begitu coba kau cek ke kamar mandi. Bawa seorang pelayan wanita bersamamu, laki-laki tidak boleh masuk ke dalam kamar mandi wanita."


"Baik, Yang Mulia."


Lorcan menunggu dengan hati gelisah. Firasat buruk menyesakkan dadanya. Firasat tersebut mengarah pada Andressa. Akan tetapi, ia berusaha untuk terus berpikir positif.


Tidak lama selepas itu, kesatria yang tadi ia perintahkan kembali bersama seorang pelayan. Mereka berdua berlari ke arah Lorcan membawa raut muka yang tidak bagus.


"Yang Mulia! Yang Mulia, gawat!" Melihat reaksi sang kesatria dan pelayan tersebut semua orang memusatkan fokus serta memasang telinga untuk mendengar apa yang gerangan terjadi.


"Ada apa?" Lorcan masih berupaya tenang dan tidak panik.

__ADS_1


"Nona ... nona tidak ada di kamar mandi. Kami juga sudah mencari ke beberapa ruangan, tetapi kami tidak menemukan nona di mana pun. Lalu kami mendapati gelang nona putus di depan pintu kamar mandi."


Lorcan terkejut bukan main. Seisi aula sontak gaduh mendengar penuturan kesatria dan pelayan.


"Apa?! Kalian sudah memastikan dengan jelas kalau Andressa benar-benar tidak ada di istana?"


"Kami telah memastikannya berulang kali. Kami mengecek setiap ruangan dan lorong. Namun, hasilnya nihil."


Lorcan termakan rasa panik yang begitu dahsyat. Pikirannya ke mana-mana karena mengkhawatirkan tunangannya.


"Cepat kalian pergi ke gerbang utama! Berpencar dan carilah Andressa! Aku yakin Andressa dibawa pergi oleh seseorang."


Perintah Lorcan menggema ke seluruh ruang istana. Mendadak situasi menjadi bising dan ricuh. Para kesatria bergegas menyusuri setiap tempat terdekat. Beberapa orang bangsawan pendukung Andressa juga turut membantu pencarian.


"Yang Mulia, mungkinkah nona diculik oleh ibu suri? Beliau kan sejak tadi tidak menunjukkan diri di aula. Saya jadi curiga terhadap beliau," kata Jason.


"Aku juga berpikir seperti itu. Tolong sekarang kerahkan semua orang yang ada. Aku tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Andressa. Sudah aku duga wanita gila itu takkan berdiam diri menyaksikan pertunangan ini berjalan sempurna. Aku takkan membiarkan dia bersenang-senang sesuka hatinya dan melukai Andressa."


Pada malam itu, terpaksa pestanya dibubarkan. Hampir semua orang yang hadir malam itu menawarkan bantuan untuk mencari Andressa.


Seketika berita menghilangnya Andressa atas dugaan penculikan menggemparkan kekaisaran Emilian. Terutama orang-orang yang pernah berhubungan langsung dengan Andressa, mereka tampak jauh lebih syok.


Selama semalaman, Lorcan tidak tidur sama sekali memikirkan nasib Andressa. Dia masih belum menemukan titik terang di mana keberadaan Andressa. Ditambah lagi sang ibu suri juga menghilang di istana memperkuat dugaan bahwa Leyna punya hubungan atas menghilangnya tunangan Lorcan.


"Apa kalian masih belum menemukan jejak atau tanda-tanda keberadaan Andressa?" Lorcan bertanya kepada para kesatria yang bertugas mencari Andressa.


"Kami tidak menemukan apa pun, Yang Mulia. Penculik nona tidak meninggalkan jejak. Tampaknya komplotan penculik ini sangat pandai menghapus jejak mereka."


Lorcan mengacak-acak rambut, ia sangat frustrasi. Jason mencoba menenangkannya, tetapi tidak berhasil sama sekali. Rasa khawatir Lorcan jauh lebih besar dari dugaannya.

__ADS_1


"Lanjutkan pencariannya. Aku juga akan membantu pencariannya. Jangan lewatkan satu pun jejak mencurigakan. Segera laporkan kepadaku kalau kalian menemukan tanda-tanda keberadaan Andressa."


"Siap, Yang Mulia!"


Para kesatria buru-buru kembali ke luar istana mencari Andressa. Sedangkan Lorcan bersama Jason menyusuri tepian wilayah yang belum dijamah oleh para kesatria.


Setelah seharian di luar mencari petunjuk keberadaan Andressa, Lorcan kembali ke istana. Pikirannya kacau, suasana hatinya buruk, dan dia menolak untuk makan. Padahal wajahnya pucat karena tidak beristirahat sedari malam.


"Yang Mulia, tolong makan ini sedikit saja. Bagaimana jika Anda sakit nantinya? Anda jadi tidak bisa mencari nona. Tolong perhatikan tubuh Anda juga, saya mohon." Jason mencoba membujuk Lorcan, ia sungguh mengkhawatirkan Lorcan.


"Aku tidak berselera. Bawa saja makanan ini keluar. Aku bahkan tidak tahu apakah Andressa sudah makan atau belum," ujar Lorcan menolak makanan dari Jason.


Jason tidak bisa berbuat apa pun lagi. Bujukannya tidak berhasil menyentuh hati Jason. Pada akhirnya, Jason meninggalkan makanannya di ruang Lorcan dan tak membawanya keluar dari sana.


"Bagaimana? Apa kaisar mau makan makanannya?" tanya seorang pelayan kepada Jason.


"Tidak." Jason menggeleng pelan. "Beliau menolak untuk makan. Tampaknya kaisar benar-benar terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri atas menghilangnya nona. Aku akan pergi ke luar sebentar, kalian tolong perhatikan kaisar di ruangannya."


"Ya, baiklah."


Jason beranjak keluar dari istana. Dia menanyakan kepada kesatria apakah mereka menemukan petunjuk baru. Ternyata sama saja, tidak ada petunjuk apa pun meski mereka telah menyisir setiap tempat.


"Di mana lagi aku harus mencari keberadaan nona? Ke mana para penculik itu membawa beliau?" Jason menghela napas lelah.


Dia terduduk di bawah pohon besar di hutan dekat istana. Tiba-tiba saja ia menemukan sesuatu tersangkut di semak belukar.


"Eh? Bukankah ini potongan gaun nona Andressa? Tidak salah lagi. Ini memang potongan gaun beliau."


Jason menemukan sepotong kain berwarna biru yang diduga milik gaun Andressa. Dia bahkan bisa mencium aroma khas Andressa dari potongan gaun tersebut.

__ADS_1


"Aku harus segera melaporkan hal ini kepada kaisar. Aku yakin penculik itu membawa nona ke arah dalam hutan ini. Semoga nona baik-baik saja."


__ADS_2