
Miria dipanggil secara tiba-tiba oleh ayahnya. Dia khawatir akan dimarahi lagi karena masalah klinik yang belum terselesaikan sampai detik ini.
"Ayah, kenapa Ayah memanggilku?" Miria terlihat tegang. Ketika marah sang ayah tampak amat menyeramkan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Tuan Muda Fidel?"
Miria sedikit lega sang ayah tidak bertanya soal klinik kepadanya.
"Hubunganku dan Gibson baik-baik saja. Walaupun kami sering bertengkar, tetapi dia pasti akan meminta maaf kepadaku lalu berusaha membujuk dan menghiburku," jawab Miria.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang ada sesuatu yang ingin aku berikan kepadamu."
Count Ewald mengeluarkan sebuah botol kecil berisi bubuk berwarna putih. Dia menyerahkan botol tersebut kepada Miria.
"Gunakan ini agar kau lekas hamil anak Tuan Muda Fidel."
Sepasang netra Miria melebar. Dia benar-benar tidak salah menangkap perkataan Count Ewald barusan.
"Kenapa aku harus cepat hamil? Kami belum menikah, bagaimana jika para bangsawan mengolok-olokku ketika mereka tahu aku hamil di luar nikah?"
"Dengar, Miria." Count Ewald mempertajam sorot matanya. "Kau tidak paham situasimu saat ini? Tuan Muda Fidel masih berusaha berhubungan dengan gadis rakyat jelata itu. Kau sering bertengkar karena masalah ini kan? Jadi, kau harus mengikatnya dengan kehamilanmu. Jangan sampai kau melepaskan posisimu kepada gadis itu. Tenang saja, Duke Fidel sudah berjanji akan segera mengurus pernikahan kalian. Sekarang tugasmu hanyalah mengandung anak Tuan Muda Fidel."
__ADS_1
Alangkah gembiranya hati Miria. Senyumnya langsung semringah begitu mengetahui Duke Fidel akan mengurus pernikahannya dan Gibson.
"Baiklah, aku akan menuruti perkataan Ayah. Apa ada hal lain lagi yang perlu aku lakukan?"
"Tidak, untuk sekarang hanya itu yang harus kau lakukan."
Miria menatap senang botol bubuk putih pemberian sang ayah.
"Kalau aku boleh tahu, apa isi botol ini?" tanya Miria.
"Itu adalah obat penyubur kandungan. Kau akan langsung hamil setelah berhubungan dengan Tuan Muda Fidel. Buatlah rencana agar tunanganmu jatuh ke dalam perangkapmu. Paham?"
"Paham, Ayah."
***
Camille — puri Duke Fidel mengunjungi istana. Dia datang bersama ayahnya untuk melancarkan rencana mereka supaya Lorcan bisa jatuh ke rayuannya.
"Kau harus melakukannya dengan hati-hati," ucap Duke Fidel.
"Baik, Ayah. Serahkan saja kepadaku."
__ADS_1
Camille berpisah dari ayahnya di persimpangan lorong istana. Sebelumnya dia mengamati baik-baik situasi di saja terlebih dahulu menjelang melancarkan aksinya.
Kemudian dia melihat Lorcan tengah berjalan ke arahnya. Hingga Lorcan akhirnya hampir tiba di depannya, Camille pun berpura-pura tidak sengaja menabrak Lorcan.
Tentu saja kala itu Lorcan secara refleks menangkap tubuh Camille.
"Maaf, Yang Mulia. S-Saya t-tidak sengaja." Camille berakting, padahal di sana tidak hanya ada Lorcan saja, tetapi ada beberapa bangsawan lain.
"Kau—"
"Lorcan!"
Tepat di saat bersamaan, Andressa muncul dari arah berlawanan. Gadis itu mematung tatkala menyaksikan pemandangan tersebut.
"Andressa, kau di sini?" Lorcan langsung melepaskan Camille hingga membuat tubuh gadis itu terhempas ke lantai.
"Ya, tadi aku mau berbicara denganmu, tetapi sepertinya kau sedang sibuk. Nanti saja aku hubungi kau kembali."
Perasaan aneh menekan jantung Andressa. Rasa gelisah, marah, dan panas bercampur menjadi satu. Dia pun berbalik badan, ia tidak mau berbicara dengan Lorcan saat ini.
"Tunggu dulu, Andressa! Biar aku jelaskan kepadamu. Ini hanya salah paham!" Lorcan berteriak sambil mengejar Andressa yang kian menjauh dari pandangannya.
__ADS_1