Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Viscountess Andressa Erriel


__ADS_3

Dua hari kemudian, Andressa dikagetkan oleh kedatangan rombongan utusan dari istana kekaisaran. Dia yang baru saja selesai mengobati pasien terpaksa keluar dari klinik untuk mempertanyakan alasan kemunculan mereka di klinik.


“Ada apa ini? Kenapa kalian kemari beramai-ramai?” tanya Andressa.


Saat ini seluruh atensi mengarah kepadanya. Semua orang penasaran terhadap kehadiran pihak istana kala itu.


“Mohon maaf karena kami mengganggu waktu berharga Anda. Sekarang saya kemari membawakan pesan berharga untuk Anda dari Kaisar. Beliau menitipkan sebuah penghargaan atas kerja keras Anda selama ini,” ujar salah satu utusan istana.


“Hah? Penghargaan? Aku tidak butuh itu. Kalian bawa saja kembali ke istana karena sebab apa pun yang aku lakukan di Emilian merupakan kewajibanku sebagai seorang tabib.”


Ekspresi muka Andressa tampak tidak baik dalam menyambut penghargaan dari sang Kaisar. Akan tetapi, Lorcan telah melakukan sesuatu yang menjerat Andressa.


“Saya minta maaf, tetapi penghargaan ini telah tertulis di dalam surat resmi, yang mana segala sesuatu yang tertera di surat resmi tidak bisa diganggu gugat. Artinya, Anda mau tidak mau harus menerimanya.”


Mimik muka Andressa tidak karuan. Terdengar suara decakan kejengkelan karena Lorcan berhasil mengikatnya.


“Baiklah, katakan padaku, apa penghargaannya? Cepat jelaskan supaya aku bisa melanjutkan lagi pekerjaanku yang tertunda karena kalian.” Andressa mendesak mereka. Kedua tangannya melipat di dada sembari menyorot sebal ke arah utusan istana.


“Saya akan membacakan isi suratnya.”


Utusan Kaisar membuka gulungan surat yang dia bawa. Dia bersiap-siap membacakan pesan dari Lorcan.


“Tabib Andressa telah mengukir jasa yang tak terlupakan di hati rakyat Emilian. Segala permasalahan di kekaisaran Emilian dengan sangat mudah terpecahkan. Ada ratusan hingga ribuan nyawa terselamatkan. Maka dari itu, aku sebagai Kaisar pemimpin Emilian menganugerahi penghargaan berupa gelar bangsawan Viscountess Erriel sekaligus wilayah kekuasaan meliputi daerah Selion beserta daerah-daerah besar di sekitarnya yang tak bertuan kepada tabib Andressa. Mulai hari ini, engkau mengemban gelar Viscountess Andressa Erriel. Aku menunggu hasil kinerjamu sebagai Tuan tanah.”


Setiap telinga yang mendengar isi surat tersebut langsung heboh. Mereka ribut karena senang Andressa menerima penghargaan setimpal sesuai apa yang mereka inginkan. Meskipun semua orang senang, Andressa tidak terlihat demikian. Justru sebaliknya, dia merasa diberatkan oleh beban gelar bangsawan yang dianugerahkan kepadanya.


“Ini tidak salah kan? Kaisar memberiku gelar bangsawan? Tidak bisakah aku menolak hadiah ini? Akan sangat merepotkan bila aku menjadi bangsawan,” kata Andressa berupaya menolak.


“Maaf, Nona, Anda tidak bisa menolaknya. Sebagaimana penjelasan saya sebelumnya, apa pun yang tertulis di surat resmi bersifat permanen. Anda tak bisa mengembalikannya kepada Kaisar. Ditambah lagi ini juga hasil dari kesepakatan antar para bangsawan. Mereka ingin Anda bisa menjaga diri lebih baik lagi menggunakan gelar kebangsawanan ini.”


Andressa membuang napas kasar. Dia benar-benar kesal dengan Lorcan yang tidak mendiskusikan sebelumnya mengenai penghargaan tersebut.


“Kalau begitu, aku menerimanya.” Andressa dengan berat hati menerima gelar itu. “Hanya itu saja kan? Tidak ada yang lain lagi?”


“Oh, maaf. Masih ada satu lagi yang diberikan Kaisar kepada Anda.”


Sejumlah kesatria mengangkat sebuah peti besar dan ditaruh di bawah kaki Andressa. Gadis itu semakin bingung dibuatnya.

__ADS_1


“Apa lagi ini?” Sekali lagi Andressa bertanya.


“Ini adalah uang. Silakan gunakan semua uangnya untuk membangun wilayah kekuasaan Anda sekaligus memperkuat keamanan sekitar. Tolong diterima karena ini juga bagian dari penghargaan atas gelar yang Anda dapatkan.”


Andressa memijit pelan pelipis kepalanya yang tidak sakit. Rasanya seperti mimpi baginya mendapatkan sesuatu yang amat berharga.


“Terima kasih. Aku menerima uangnya. Sekarang silakan kalian pergi dari sini. Aku masih harus melanjutkan pekerjaanku.” Andressa mengusir secara halus para utusan dari istana.


“Baik, selamat atas naiknya status Anda sebagai seorang bangsawa, Viscountess.”


Andressa tersentak mendengar dirinya dipanggil Viscountess. Dia masih belum terbiasa. Walaupun di kehidupan sebelumnya dia selalu menerima gelar bangsawan di atas Viscountess, tetapi ia terlanjur nyaman dengan kehidupannya sebagai rakyat biasa.


‘Apa yang harus aku lakukan mulai saat ini? Aku rasa aku sungguh akan berubah menjadi gila. Bagaimana bisa Lorcan memberiku penghargaan yang begitu merepotkan.’ Andressa menggerutu di dalam hati tiada henti. Dia masih belum bisa menerima seutuhnya kenyataan bagaimana ia menjadi seorang bangsawan.


Berbanding terbalik dari Andressa, seluruh penduduk wilayah Selion senang bukan main mendengar Andressa menjadi Tuan tanah mereka. Bahkan, berita ini juga sampai ke telinga penduduk dari sejumlah daerah yang menjadi bagian wilayah kekuasaan Andressa.


Tidak hanya sampai di sana saja, kabar ini pun dibawa angin ke kalangan para bangsawan. Berbagai reaksi ditimbulkan akibat kemunculan Andressa menjadi bangsawan.


“Apa?! Kaisar menghadiahi gelar bangsawan Viscountess kepada wanita itu?! Bagaimana bisa? Kenapa Ayah membiarkan ini semua terjadi?! Klinik kita menjadi sepi dan punya reputasi buruk karena ulah si jal*ng itu!”


Miria memarahi ayahnya yang dianggap tidak becus dalam bekerja. Kedengkian semakin membesar di hati Miria. Kecemasan pun berdatangan menggebuki perasaan Miria. Ada banyak sekali hal yang membuatnya takut terhadap apa yang akan terjadi ke depannya.


Miria mendudukkan badan di atas sofa. Dia menggigit ujung jarinya seraya memikirkan kemungkinan terburuk yang menimpanya nanti.


“Ayah, aku khawatir. Bagaimana bila Tuan Muda Gibson terpikat kembali oleh gadis itu? Aku sudah bersusah payah menggodanya sampai dia setuju bertunangan denganku. Dia pasti berubah pikiran nantinya seusai mendengar berita ini.”


Itulah yang utama dikhawatirkan Miria. Dia takut disaingi Andressa dan takut gadis itu merampas Gibson darinya. Meskipun itu mustahil terjadi, tetapi prasangka buruknya telah menguasai dia sepenuhnya.


“Tenang saja, itu takkan pernah terjadi. Kau cukup berdiam diri saja sambil merawat tubuhmu sebaik mungkin. Sebentar lagi kau akan bertunangan dengan ahli waris utama kekayaan Duke Fidel. Percayalah kepada Ayah, takkan ada satu pun orang yang bisa menghalangimu dalam menjadi seorang Duchess.”


Count Ewald berupaya menenangkan perasaan sang putri. Keserakahannya membawa keberhasilan terhadap rencana busuknya dalam menjadikan Miria sebagai tunangan Gibson.


“Benarkah? Aku bisa mempercayai Ayah?” Miria tersenyum semringah. “Aku tidak perlu khawatir karena Ayah akan mengurus semuanya jika sewaktu-waktu Tuan Muda Gibson berniat meninggalkanku?”


Count Ewald mengangguk pelan.


“Benar, sejak kapan Ayah berbohong kepadamu? Selama ini Ayah telah mempersiapkan masa depanmu sebagai seorang Duchess. Tenang dan perhatikan saja bagaimana Ayah akan bekerja.”

__ADS_1


“Baiklah, Ayah. Aku mencoba untuk menaruh kepercayaanku kepada Ayah seutuhnya.”


***


Pada hari yang sama, Camille dan Duke Fidel mendatangi istana kediaman Ibu Suri. Sebagai orang yang berada di bawah perintah Leyna, mereka berencana untuk membahas apa yang saat ini menjadi perbincangan hangat di kalangan rakyat Emilian.


Mereka bertiga duduk di ruang yang senyap. Leyna sengaja menyuruh para pelayan maupun kesatria keluar dari ruangannya agar dia bisa berbicara lebih leluasan. Segala pembicaraan mereka juga bersifat rahasia.


"Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Gadis itu kini tidak lagi seorang rakyat jelata. Dia berhasil naik menjadi bangsawan yang punya wilayah kekuasaan yang kaya akan sumber daya alam," ujar Duke Fidel.


Camille juga tampak amat gelisah atas pemberitaan tersebut. Andressa mendaki ke puncak yang lebih jauh darinya. Walaupun dia putri Duke, tetap saja Andressa sebagai Viscountess kedudukannya dianggap lebih dipandang oleh orang lain. Selain punya gelar bangsawan, Andressa punya wilayah kekuasaan yang mungkin nanti akan menjadi salah satu wilayah termakmur di Emilian mengalahi wilayah kekuasaan ayahnya.


"Sejujurnya saya juga khawatir, Yang Mulia. Hubungan Kaisar dengan wanita itu sangat dekat. Mereka sering berbincang berdua dan Kaisar juga sering mendatanginya. Bukankah Anda berjanji kepada saya untuk menjadikan saya sebagai Permaisuri?" Camille mengutarakan kegusaran hatinya.


Leyna sangat santai. Dia tidak khawatir sama sekali terhadap pemberitaan soal Andressa. Bagaimana pun kedudukannya masih jauh di atas Andressa. Jadi, dia tidak mengambil hati tindakan Lorcan menjadikan gadis itu sebagai bangsawan.


"Kenapa kalian terlalu sibuk memikirkan hal yang tidak berguna? Kalian adalah orangku. Tidak mungkin aku membiarkan kalian kalah dari rakyat jelata itu. Sekarang kalian hanya perlu menunggu sampai aku berhasil menyingkirkan wanita itu," ucap Leyna sembari meneguk secangkir teh.


"Bagaimana dengan rumor kedekatan wanita itu dengan Kaisar? Saya tidak bisa menerimanya jika itu benar-benar terjadi," kata Camille bersikeras.


"Rumor tetaplah rumor. Tidak perlu kau ambil hati. Aku telah menetapkan kau sebagai calon Permaisuri. Mana mungkin kau bisa digantikan oleh rakyat jelata yang baru naik menjadi bangsawan. Bisa-bisa nama baik kekaisaran tercoreng hanya karena gadis tidak tahu diri itu."


Duke Fidel dan Camille saling bertemu pandang. Kegelisahan di dadanya hilang begitu saja mendengar penuturan Leyna.


"Baiklah, saya mempercayakan sepenuhnya kepada Anda mengatur putri saya menjadi Permaisuri. Namun, Yang Mulia, saya masih belum tenang. Saya ingin menghancurkan gadis itu lebih cepat. Tidak adakah yang dapat saya lakukan untuk menghancurkannya?"


Duke Fidel memutuskan membantu Ibu Suri untuk menyingkirkan Andressa. Sekarang dia butuh perintah dari Leyna untuk melakukan aksinya.


"Bagaimana ya? Aku sendiri juga bingung harus memberimu perintah seperti apa. Akan tetapi, aku punya ide untukmu menghancurkan gadis itu."


Tersirat kelegaan bersama kesenangan kala mendengar perkataan Leyna. Duke Fidel memasang telinga baik-baik.


"Apa yang harus saya lakukan, Yang Mulia?" tanya Duke Fidel bersemangat.


"Kau tahu? Di seberang daerah Selion terdapat daerah Arklik yang punya hasil hutan luar biasa. Daerah itu menjadi bagian dari wilayah kekuasaan tabib sialan itu. Sebagai bangsawan baru, dia pasti belum paham cara mengelola wilayah. Maka dari itu, aku memerintahkanmu untuk menghancurkan hutannya supaya penduduk Arklik marah besar terhadap Tuan tanahnya. Dia akan dianggap tidak becus dan dituntut ganti rugi. Bagaimana? Perintah dariku sangat mudah kan?"


Penjelasan rencana tersebut membuat Duke Fidel semakin berbangga diri dan angkuh.

__ADS_1


"Saya paham, Yang Mulia. Tolong serahkan kepada saya, saya akan menghancurkan hutan Arklik."


__ADS_2