
Dua hari selepas itu, atas bantuan dari beberapa orang, Andressa membongkar makam kaisar sebelumnya bersama Lorcan yang mengawasi di sana. Di tempat ini, seluruh keluarga kekaisaran dimakamkan.
Tanah makam sangat luas dan setiap makam dihiasi oleh keramik serta ukiran nama yang indah.
"Andressa, petinya sudah tampak. Apa mau langsung diangkat saja ke atas?" tanya Lorcan.
"Ya, langsung angkat saja ke atas."
Sebuah peti putih yang warnanya tidak pudar sama sekali di angkat ke atas dari dalam makam. Di peti tersebut terbaring mendiang ayah Lorcan yang sangat dia cintai seumur hidup.
Terlihat jelas kedua mata Lorcan berkaca-kaca mengingat bagaimana kenangan indahnya dahulu bersama ayahnya. Ketika ia disiksa oleh Leyna, sang ayahlah yang turun tangan menyelamatkannya dari penyiksaan itu.
Andressa membuka perlahan penutup petinya dan benar kalau hanya ada kerangka manusia yang tersisa. Lorcan tak bisa menyaksikannya, dia pun memilih mundur ke belakang dan menyerahkan sisanya kepada Andressa.
"Bisakah Anda semua sedikit menjaga jarak? Saya tidak bisa berkonsentrasi jika Anda semua mengerumuni saya," pinta Andressa.
Tanpa protes, para bangsawan yang hadir di sana memilih menjaga jarak dari Andressa. Mereka tidak ingin mengganggu konsentrasi sang gadis. Kini Andressa bisa lebih leluasa karena mata orang lain takkan bisa melihat pergerakan tangannya di dalam peti.
'Baiklah, saatnya aku memulainya. Aku telah menyimpan mana yang lumayan banyak untuk melakukan hal ini.'
Andressa meraba kerangka tangan sang kaisar. Sekilas bisa dia rasakan seberapa baik ayah Lorcan semasa hidup. Tidak heran mengapa banyak sekali rakyat yang mencintainya dan menangis selama berhari-hari tatkala kaisar dikabarkan meninggal dunia.
'Aku mulai bisa merasakannya dan melihat wajah kaisar semasa hidup.'
Pada saat Andressa memejamkan mata, dia bisa melihat wajah tersenyum sang kaisar yang begitu ramah dan teduh. Suara tegasnya, badan tegapnya, dia mirip sekali dengan Lorcan. Yang membedakan keduanya hanyalah warna mata saja.
__ADS_1
Perlahan Andressa masuk semakin dalam. Dia bisa melihat jelas ada Leyna malam sebelum kematian kaisar memasukkan sesuatu ke dalam minuman kaisar. Seperti sebuah bubuk berwarna putih dan menyaksikan kaisar meminum habis minuman tersebut.
Tidak lama kemudian, saat tengah tertidur, tiba-tiba tubuh kaisar mengalami kejang dan mulutnya mengeluarkan busa. Leyna hanya menonton suaminya yang sekarat sembari tersenyum bahagia.
Lalu tangan kiri sang kaisar mencoba menjangkau lonceng untuk memanggil pelayan. Namun, Leyna malah membuang lonceng tersebut.
"Kau takkan bisa lolos dari maut! Aku sudah merencanakan ini sejak lama, jadi sebaiknya kau menurut dan matilah dengan tenang."
Senyum jahat Leyna tampak sangat menjengkelkan. Andressa nyaris meledak karena marah menyaksikan masa-masa sebelum kematian kaisar.
Kedua mata kaisar mengeluarkan air mata. Istri yang dia cintai berubah haluan mengkhianatinya. Padahal dia telah menyerahkan segalanya, tetapi Leyna tak memandang itu.
"Kenapa kau masih belum mati? Sial! Jika kau proses kematianmu terlalu lama bisa-bisa nanti pelayan dan kesatria datang kemari. Baiklah, biar aku bantu agar kau segera kehilangan napasmu. Jadi, tahanlah sedikit, paham?"
Leyna mengambil sebuah bantal lalu menekan bantal itu ke muka suaminya. Dia menekannya dengan sangat kuat sampai sang kaisar mengembuskan napas terakhir di tangan Leyna.
Andressa tersentak begitu selesai melihat apa yang dialami ayah Lorcan. Sungguh kejam perlakuan Leyna terhadapnya. Akan tetapi, sampai akhir hayatnya tidak ada sedikit pun kebencian yang mengarah pada Leyna.
'Selain warna mata, aku tahu apa lagi yang membedakan mereka berdua yaitu cara memperlakukan orang lain. Lorcan orangnya terkenal dingin, tetapi ayahnya sangat hangat. Cara mereka mengutarakan cinta juga berbeda. Lorcan beruntung tumbuh dikelilingi kasih sayang ayahnya walau sang ibu memperlakukannya dengan sangat buruk,' batin Andressa.
Menjelang ia kembali menutup peti, Andressa berdoa sejenak untuk ketenangan sang kaisar.
'Saya pastikan Anda mendapatkan keadilan. Hati Anda terlalu bersih, Yang Mulia. Seharusnya Anda tidak memperlakukan Leyna dengan lembut. Dia harus diberi pelajaran agar paham supaya tidak mempermainkan hati seseorang yang tulus mencintainya. Tolong maafkan saya juga karena telah membongkar makam Anda dan melihat sekilas masa lalu Anda. Sebagai seorang healer, hanya ini yang dapat saya lakukan. Semoga jiwa Anda tenang dan ditempatkan di tempat terindah.'
Selepas menyelesaikan doanya, Andressa menutup peti mati kaisar. Hatinya terenyuh mengingat bagaimana ketulusan mendalam kaisar kepada keluarganya. Sebagai healer, dia beruntung mempunyai kekuatan seperti ini. Namun, seringkali hal ini malah menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Anda sudah selesai, Nona?"
Andressa tersenyum tipis sambil mengangguk.
"Ya, saya sudah selesai. Tolong kubur kembali peti kaisar."
Andressa mendekati Lorcan yang melamun dan mematung sambil bersandar di pohon besar. Tampaknya dia benar-benar tak bisa melupakan sedikit pun bagaimana rupa ayahnya yang selalu memberi motivasi hidup kepadanya.
"Lorcan, aku sudah tahu bagaimana ibumu membunuh ayahmu."
Suara Andressa memecah lamunan Lorcan. Segala kesedihannya buyar seketika.
"Kau sudah tahu? Bagaimana wanita itu membunuh ayahku? Tolong beri tahu aku sekarang juga." Lorcan mendesak Andressa untuk segera bercerita.
"Nanti aku ceritakan setelah peti ayahmu selesai dikembalikan masuk ke dalam makam. Mungkin ini akan sedikit menyayat hatimu sebab wanita tua bangka itu menggunakan cara mengerikan untuk menghabisi nyawa ayahmu. Aku harap kau bisa tegar menerima apa pun penjelasanku nanti," tutur Andressa membuat mimik muka sendu.
Melihat bagaimana ekspresi Andressa, Lorcan berpikir bahwa mungkin ayahnya mengalami masa sulit saat tengah menghadapi kematian. Dia tidak siap mendengarnya, tetapi dia juga harus mengetahui fakta yang sesungguhnya.
"Baiklah, mari kita selesaikan ini lalu kembali masuk ke istana. Aku yakin penjelasanmu sedikit lebih panjang dan detail. Walau bagaimana pun, aku tetap ingin mendengar penjelasanmu."
"Ya, kuatkan hatimu. Siapa pun yang kehilangan orang yang dicintainya pasti akan merasakan kesedihan mendalam. Tolong persiapkan mentalmu mendengar penjelasanku nantinya."
Andressa menepuk pelan pundak Lorcan sembari memberi dorongan semangat. Pria itu telah melewati neraka hidup semasa kecil. Dia harus bisa bahagia seusai menjatuhkan hukuman kepada ibu suri nanti.
Sekarang Andressa fokus memikirkan apa sebaiknya yang harus ia lakukan sehabis ini. Ada banyak sekali masalah yang harus dia hadapi beberapa waktu terakhir ini. Namun, Andressa tetap berusaha menyelesaikannya sampai akhir demi membuat jiwanya mati tenang tanpa harus berpindah dimensi setiap waktu.
__ADS_1
'Aku benar-benar ingin tenang. Semoga setelah dari dunia ini aku tidak lagi berpindah ke dimensi lain dan bisa beristirahat tengah di alam sana.'