Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Marchioness Jevano


__ADS_3

Janson tersentak bukan main. Lorcan sangat menakutkan ketika sedang serius. Mendadak dia pun menjadi gugup dan gelagapan saat menjawab perkataan Lorcan.


"Tidak, Yang Mulia. Saya tidak bermaksud meragukan Anda." Janson tertunduk takut dan tidak berani menatap Lorcan.


Lorcan menghela napas panjang. Dia masih marah kepada dirinya sendiri yang terluka parah kala melakukan pertarungan sengit. Sekarang dia berutang budi kepada Andressa, sang gadis penyelamat.


"Mohon maaf, Yang Mulia. Saya sedikit menyela pembicaraan Anda. Saya rasa di kekaisaran ini memang ada seorang wanita berambut perak. Saya pernah melihatnya beberapa kali melintasi wilayah ibu kota," sela sang tabib.


Lorcan seketika menatap tabib itu untuk meminta penjelasan lebih.


"Apa? Kau pernah melihatnya? Kau dengar sendiri itu, Janson?! Sekarang aku tidak mau tahu, kau harus mencari wanita itu sampai bertemu. Aku ingin berbicara dengannya sekaligus memberi dia hadiah karena telah menyelamatkanku," titah Lorcan.


"Baik, Yang Mulia. Saya akan pergi sekarang untuk menemukan wanita itu."


Janson bergegas pergi menuju ke wilayah ibu kota. Sedangkan Lorcan berupaya untuk bangkit dari tempat tidur. Sang tabib membantunya untuk bangkit.

__ADS_1


"Di mana penutup mataku?" tanya Lorcan.


"Ini, Yang Mulia."


Mata sebelah kiri milik Lorcan tampak berbeda dari mata kanannya. Hal ini dikarenakan mata kiri Lorcan mengalami kebutaan ketika perang dua tahun lalu. Oleh sebab itulah dia mengenakan penutup mata. Kemudian kaki kanannya juga pincang akibat perang tersebut.


Selain itu, Lorcan sebagai Kaisar masih belum memiliki Permaisuri atau pun selir. Dia menolak tegas adanya wanita di sekitarnya demi menghindari pengalihan fokusnya. Ditambah lagi, dia tidak bisa merasakan adanya perasaan khusus terhadap seorang wanita.


"Wanita itu sepertinya punya kemampuan di mana tidak sembarang tabib memilikinya. Anda beruntung diselamatkan oleh beliau, Yang Mulia," ujar sang tabib.


***


Berita tentang pulihnya wilayah Selion sampai ke telinga Marchionees Jevano. Dia seperti terbakar sampai ke ubun-ubun akibat kemarahannya yang menggelegar. Ini adalah berita paling buruk yang dia dengar seumur hidup.


"Apa yang kau katakan?! Wilayah Selion membaik? Apa yang terjadi? Bukankah sebelumnya aku telah menaruh racun mematikan di wilayah itu?!"

__ADS_1


Marchionees Jevano, sebagai dalang dari kehancuran wilayah Selion saat ini merasa dikalahkan oleh seseorang. Dia tidak tahu siapa orang yang mencoba mengalahkannya. Namun, yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menggali lebih dalam lagi perihal masalah ini.


"Kami tidak tahu pastinya, Nyonya. Akan tetapi, wilayah Selion mulai membaik ketika seorang tabib berpindah tugas ke sana. Jika dari asumsi kami, kami yakin tabib itu yang memulihkan wilayah Selion.


Mendengar laporan dari bawahannya Marchioness Jevano kian dibakar emosi.


"Apa itu masuk akal? Bagaimana bisa tabib menemukan rahasia racun itu? Padahal selama ini tidak ada tabib yang dapat memecahkan masalah ini. Lalu tabib mana yang lancang menghancurkan rencanaku?!" Marchioness Jevano melempar seluruh dokumen di atas mejanya.


"Padahal sedikit lagi aku bisa menguasai wilayah Selion. Namun, tiba-tiba seseorang menghalangiku?! Sungguh lancang! Aku tidak bisa berdiam diri begitu saja melihat datangnya kehancuran ke hidupku," gumam Marchioness Jevano.


Para bawahan Marchioness Jevano hanya berdiam diri seperti patung menyaksikan amukan Marchioness Jevano.


"Sekarang kalian cari tahu siapa tabib yang berani menggagalkan rencanaku. Jangan biarkan dia lolos begitu saja," perintah Marchioness Jevano.


"Baik, Nyonya."

__ADS_1


__ADS_2