
Dua hari kemudian, Lorcan tiba-tiba datang ke klinik. Andressa saat itu sedang istirahat makan siang, ia terkejut mendapati Lorcan berada di depan klinik bersama beberapa orang kesatria bawahannya.
"Kenapa kau ada di sini? Apa ada masalah yang terjadi?" tanya Andressa.
"Begini Andressa, sebenarnya kesatria yang menjaga gerbang utama wilayah kekaisaran menemukan seseorang mencurigakan menerobos masuk melewati gerbang. Hanya saja mereka gagal menangkap orang itu dan berakhir kehilangan jejak mereka. Lalu seseorang mengatakan bahwa dia melihat orang mencurigakan itu masuk ke klinik ini. Jadi, itulah mengapa, aku ingin meminta izin darimu agar kami bisa memeriksa klinikmu."
Lorcan menjelaskan situasi tersebut secara pelan supaya tidak menyinggung Andressa. Dan pikiran Andressa langsung tertuju pada pria yang dua hari lalu ia obati.
"Kalau hanya itu saja, mengapa kau malah ikut kemari? Bukankah cukup kesatria yang datang memeriksa?"
Lorcan baru sadar. Dia menepuk pelan keningnya.
'Oh iya, kenapa juga aku ikut ke sini? Tetapi, entah mengapa aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertemu Andressa,' batin Lorcan.
Jason yang berdiri di sampingnya terkikik kecil tatkala melihat Lorcan gugup sebab kebingungan mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan Andressa.
"Ah itu, karena aku—"
__ADS_1
"Kaisar ingin bertemu dengan Anda, Nona. Beliau sangat merindukan Anda," potong Jason membuat Lorcan tersipu malu.
"Merindukan aku?"
Lorcan menginjak kaki Jason.
"Arghh, Yang Mulia, jangan injak kaki saya."
"Jangan membicarakan omong kosong!" tegur Lorcan lalu kembali menatap Andressa. "Jangan dengarkan perkataan Jason. Aku kemari sekaligus ingin berobat karena aku merasa tidak enak badan."
Begitulah dalih Lorcan. Namun, Andressa percaya begitu saja karena ia tak mau berpikir macam-macam.
"Oh ternyata orang itu benar-benar ada di sini."
Kemudian tibalah mereka di kamar rawat pria yang dioperasi Andressa. Dia masih belum sadarkan diri sampai saat ini.
Ekspresi mereka tampak kaget menyaksikan kesamaan warna rambut Andressa dan pria tersebut. Bahkan, Jason berkali-kali melirik keduanya.
__ADS_1
"Rambutnya berwarna perak," gumam Jason.
"Kalian terkejut kan? Aku pun lebih terkejut," kata Andressa.
"Rambut perak seperti rambutmu. Apa mungkin dia berasal dari tempat yang sama denganmu?" Lorcan bertanya-tanya.
Andressa mengedikkan bahu.
"Entah. Aku saja tidak tahu dari mana aku berasal karena aku dulu ditemukan di tengah hutan lalu dibawa ke panti asuhan. Ketika aku ditemukan, di keranjangku ada namaku dan kalung ini juga menempel padaku."
Andressa memperlihatkan kalung yang dia gunakan. Begitulah cerita yang dia dapatkan dari ingatan si pemilik tubuh.
"Apa kau sudah mencoba mencari tahu tentang keluargamu?"
"Sudah dan aku tidak menemukan info apa pun."
Lorcan mengangguk paham. Sejak pertama kali ia berjumpa Andressa, dia selalu merasa bahwa Andressa punya darah keturunan tidak biasa. Akan tetapi, dia tidak bisa membuktikan hal tersebut.
__ADS_1
Lalu Andressa bertanya, "Lorcan, mau kau apakan dia? Apa kau mau membawanya ke istana?"
"Tampaknya kondisinya sangat buruk. Aku tidak bisa membawanya ke istana. Bisakah kau mengawasinya sementara waktu? Setelah sadar, aku sendiri yang akan menginterogasinya."