
"Baiklah, saatnya memulai untuk memaksa gadis ini bangun dan membuatnya menuruti perintahku."
Leyna mengambil sebotol air putih. Dia bermaksud menyiram air tersebut ke kepala Andressa demi membangunkannya. Namun, tepat sebelum air itu membasahi Andressa, gadis itu bangun terlebih dahulu lalu menangkap pergelangan tangan Leyna.
Alangkah terkejutnya Leyna waktu itu. Padahal sebelumnya tangan dia terikat erat, tetapi kini ikatannya terlepas tanpa sepengetahuan Leyna.
"A-Apa? K-Kau ... bagaimana kau bisa meloloskan diri dari ikatanmu?" Sekujur badan Leyna gemetar takut.
Andressa membuang sapu tangan yang membekap mulutnya. Kini dia bisa bergerak lebih bebas dari sebelumnya tanpa harus menahan diri mendengar celotehan Leyna.
"Apa kau pikir kau sudah menang dengan mengikatku menggunakan tali murahan? Aku bisa melepasnya dan juga asal kau tahu, obat bius tidak bekerja terhadap tubuhku."
Andressa beranjak bangkit dari lantai. Cengkeramannya semakin kuat sampai membuat Leyna meringis kesakitan.
"Kau menipuku?! Beraninya kau berpura-pura tidak sadar. Jangan-jangan mau mendengar semua obrolanku barusan?!"
Andressa tersenyum miring.
"Bagaimana ya? Mungkin aku mendengarnya, tetapi tidak terlalu jelas. Lagi pula aku tidak peduli dengan siapa kau berbicara." Andressa sengaja berbohong agar ia dapat menangkap kaisar Dorton dan membunuhnya menggunakan tangan sendiri.
Leyna tampak mensyukuri Andressa tidak mendengar obrolannya bersama Thales. Setidaknya rahasianya terjaga rapat.
"Tidak bisakah kau melepaskan tanganku? Jangan harap kau dapat meloloskan diri bila kau berani melukaiku! Ingatlah bagaimana posisiku dan posisimu yang jauh di bawahku. Aku bisa saja nanti melayangkan hukuman kepadamu atas perintahku serta bantuan para bangsawan. Apabila kau tak ingin menyesal, sebaiknya kau biarkan aku pergi dari sini," ucap Leyna.
"Aku tidak takut. Aku akan melawan siapa saja yang berani berbuat gaduh di hidupku. Salah kau sendiri yang menculikku dan mencoba menggagalkan pertunanganku. Sekarang kau ingin menekanku agar aku mau memutus pertunanganku dengan Lorcan. Jangan sombong kau, dasar tua bangka!"
Andressa mendorong kasar tubuh Leyna sampai tersungkur ke atas lantai. Dia benar-benar marah atas apa yang terjadi hari ini sekaligus apa yang dia dengar tadi.
"Apa kau bilang? Tua bangka? Hei, jaga omonganmu! Kau telah menghinaku! Kau—"
__ADS_1
"Diam! Aku tidak mau mendengarmu berbicara lagi! Suaramu membuatku muak."
Andressa menyumpal mulut Leyna menggunakan sapu tangan tadi. Dia membuat Leyna tutup mulut dan tak bisa berbicara omong kosong di hadapannya.
"Sekarang mari kita bertukar posisi. Aku biarkan kau merasakan bagaimana rasanya diikat dengan tali. Aku akan mengikatmu sampai kau tak bisa melepaskan ikatannya dengan mudah."
Andressa mengikat kuat tali di tangan dan kaki Leyna. Dia sengaja memakai sedikit sihir agar Leyna tidak bisa kabur dari pengawasannya saat ini.
Leyna berusaha terus meronta-ronta, berharap talinya dapat terlepas. Andressa sangat puas melihat Leyna menderita seperti ini.
"Aku sudah bilang kau takkan bisa lepas. Hentikan segala upaya yang kau lakukan. Atau kau mau aku bunuh di tempat ini sekarang juga?!"
Andressa melayangkan ancaman serius penuh intimidasi menakutkan. Leyna terdiam dalam rasa takut yang tak berujung. Dia sudah membuat kesalahan besar karena menyulut api kemarahan Andressa. Siapa sangka segalanya bisa terbongkar secepat ini berkat ia berpura-pura pingsan dan diculik.
"Bagus! Kau memang harusnya diam seperti ini demi memperpanjang umurmu. Ya, walaupun mungkin setelah ini umurmu bisa lebih singkat karena ulahmu sendiri."
Andressa mendudukkan sejenak badannya di atas kursi seraya meneguk habis sebotol air minum yang tersedia di sana.
Di sela-sela suara bergumamnya, tiba-tiba para penculik merasa curiga karena Leyna mendadak hening tak bersuara.
"Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?"
Tidak ada jawaban dari Leyna.
"Mengapa Anda tidak menjawab kami? Apa Anda butuh bantuan?"
Masih tak ada respon apa pun.
"Aneh sekali, suasana di dalam terasa sunyi seolah-olah tak ada orang di sana. Haruskah kita masuk dan memeriksanya sendiri?"
__ADS_1
"Aku rasa memang seharusnya kita periksa. Khawatirnya ada sesuatu yang terjadi kepada ibu suri."
Ketiga penculik itu memutuskan untuk masuk ke dalam. Sebelum itu, Andressa bersembunyi di balik pintu biar tidak ketahuan kalau dia sudah bebas dan berencana menjebak mereka bertiga.
"Yang Mulia? Yang Mulia!" Mereka memanggil-manggil Leyna. "Hah? Yang Mulia! Apa yang terjadi pada Anda? Mengapa malah Anda yang jadinya terikat?"
Tanpa berpikir panjang, mereka langsung menghampiri Leyna. Namun, wanita itu mencoba memberi mereka kode untuk berhati-hati terhadap serangan Andressa. Sayangnya, mereka tidak paham yang hendak dikatakan Leyna.
'Hehe, dasar orang bodoh!'
Andressa memukul kepala ketiga penculik dari belakang menggunakan balok kayu. Mereka serentak pingsan dan terjatuh ke atas lantai.
"Wah, ternyata lebih mudah dari bayanganku. Tidak perlu buang-buang tenaga untuk menjatuhkan mereka," kata Andressa membuang balok kayu ke sudut ruangan.
Andressa segera mengikat mereka bertiga agar tak kabur ke mana-mana. Puas sekali dia karena kini ia berhasil menangkap manusia-manusia menjengkelkan ini.
"Jangan harapkan kau mendapat bantuan di sini! Sampai Lorcan tiba, aku takkan membiarkanmu berbicara walau sepatah kata pun."
Leyna lagi-lagi tersentak. Aura Andressa benar-benar sangat kuat sampai membuat bulu kuduknya merinding bukan main.
'Dia menakutkan ... mengapa aku bisa terjebak dalam permainanku sendiri? Tidak seharusnya aku bermain-main menangkap dia. Aku terlalu naif tidak menaruh curiga mengapa gadis ini lebih mudah ditangkap dari biasanya.'
Andressa lalu merampas alat komunikasi sihir milik Leyna. Wanita itu memberi perlawanan, dia mencoba melindungi segala rahasianya.
"Kau mau ini?" Andressa memamerkan alat komunikasi sihir tersebut.
Leyna mengangguk pasrah.
"Mulai saat ini, alat komunikasinya milikku. Sejak awal memang milikku karena aku sendiri yang menciptakannya walau ini adalah versi lama, setidaknya masih bisa berfungsi dengan baik," ucap Andressa sengaja mempermainkan Leyna.
__ADS_1
Dia menyimpan alat komunikasi sihir itu. Dia punya rencana licik agar ia bisa mendapatkan informasi lebih banyak lagi dari pihak lawan.
Andressa kembali berucap, "Haruskah aku tidur sebentar? Ah, sepertinya jangan. Aku khawatir mereka kabur dari sini. Mungkin aku harus menahan sampai Lorcan menjemputku. Aku harap dia paham kalau aku ada di sini. Nanti setelah bertemu Lorcan, aku akan menceritakan semuanya. Untung saja aku berhasil mengorek informasi yang aku pertanyakan selama ini. Terima kasih, Leyna, berkatmu aku bisa tidur nyenyak nanti malam dan beban pikiranku jauh berkurang dari sebelumnya."