Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Menemui Lorcan


__ADS_3

Satu per satu pertanyaan yang bersarang di kepala Andressa mulai terjawab. Kini tinggal bagaimana cara agar dia bisa menemukan lokasi persembunyian organisasi tersebut.


“Aku harus bergerak sesegera mungkin. Tidak ada waktu untuk bermain-main lagi.”


Tangan Andressa kala itu menggapai buku catatannya, tetapi tiba-tiba saja tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah kotak dari atas meja. Semua isi kotak itu berderai ke lantai. Tanpa menunggu lama, ia langsung membereskannya. Akan tetapi, ada sesuatu yang menarik perhatiannya yaitu sebuah kalung permata merah.


“Kalung ini dulunya sering dipakai oleh Andressa si pemilik tubuh. Sebenarnya kalung apa ini?”


Andressa mengangkat tinggi-tinggi kalung itu. Terpantul ukiran bintang di dalam permata merah tersebut.


“Ternyata kalungnya sangat bagus.” Andressa mengulas senyum tipis. “Tidak ada salahnya aku mengenakan kalung ini. Sayang sekali jika aku hanya menyimpannya saja di dalam kotak.”


Andressa menyematkan kalung itu ke lehernya seraya berdiri di hadapan cermin rias. Terlihat sangat cocok baginya kala memakai kalung permata itu.


Di saat bersamaan, pintu kamar Andressa diketuk oleh seseorang.


“Permisi, Nona, ini saya Calvin.” Terdengar suara Calvin di balik pintu.


“Ya? Masuklah, Calvin,” sahut Andressa.

__ADS_1


Calvin melangkah masuk ke dalam kamar.


“Mohon maaf, Nona. Saya kemari karena Kaisar meminta Anda untuk menemuinya. Tampaknya ada sesuatu yang hendak beliau bicarakan dengan Anda,” ucap Calvin.


“Lorcan ingin menemuiku? Baiklah, aku segera ke sana.”


Sementara itu, di ruang rawat Lorcan, pria itu tengah membaca beberapa hasil laporan dari bawahannya selama ia tidak berada di istana. Jason selaku kesatria pribadi sang kaisar menemani Lorcan di dalam ruangan.


“Untung saja tidak ada masalah serius di istana. Aku pikir Ibu Suri akan berbuat ulah selama aku sibuk berperang,” gumam Lorcan.


“Ibu Suri akhir-akhir ini sering berkeliaran di luar istana. Saya curiga wanita tua bangka itu mempunyai niat buruk terselubung lagi seperti sebelum-sebelumnya.”


“Aku rasa begitu. Aku tidak tahu siapa saja yang dia temui di luar sana. Semoga saja dia tidak melakukan hal yang lebih gila lagi. Aku tidak mau dia sampai melibatkan Andressa ke dalam rencana busuknya.”


Lorcan berbicara dengan intonasi sedikit emosi. Jason masih belum terbiasa menyaksikan Lorcan marah demi seorang gadis.


“Yang Mulia, jika Anda punya perasaan terhadap Nona Andressa, sebaiknya Anda bergegas mengatakannya sebelum Anda didahului oleh orang lain.”


“Hah?” Lorcan sontak mengarahkan sorot mata tajam kepada Jason. “Aku tidak punya perasaan padanya. Kau jangan berbicara omong kosong lagi! Lakukan saja tugasmu sebagai kesatria pribadiku!”

__ADS_1


Lagi dan lagi Lorcan selalu menyangkal perasaannya sendiri. Padahal jauh dari lubuk hati terdalam, dia memang menyukai Andressa. Bahkan tanpa ia sadar, ada hasrat besar ingin memiliki gadis itu seutuhnya.


Jason terdiam. Dia tidak bisa menyadarkan Tuannya yang sangat keras kepala dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya di sini.


‘Dasar Kaisar! Mau sampai kapan beliau akan terus seperti ini?’ batin Jason bergumam.


Di waktu itu pula, Andressa tiba di ruang perawatan Lorcan. Jason langsung diminta diam dan tidak membahas masalah tadi lagi.


“Lorcan, bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa lebih baik dari sebelumnya?” tanya Andressa.


Lorcan mengangguk pelan.


“Ya, aku sudah jauh lebih baik. Terima kasih, berkatmu aku bisa selamat dari maut,” jawab Lorcan.


“Tidak masalah. Ini adalah tugasku sebagai tabib. Lalu apa yang ingin kau bicarakan denganku? Aku rasa pembicaraan ini sangat serius.”


Ekspresi lembut Lorcan segera berubah menjadi datar.


“Aku ingin berbicara apa yang terjadi antaraku dan Ibu Suri sebenarnya. Aku rasa sudah saatnya kau tahu soal ini.”

__ADS_1


__ADS_2