Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Dugaan Tentang Kebakaran


__ADS_3

Teriakan amarah Andressa membuat seluruh mata dan telinga yang mendengarnya terkejut bukan main. Bahkan, para tabib sontak menghentikan aktivitasnya. Mereka ingin tahu penyebab kemarahan Andressa.


"Membunuh? Lancang! Kenapa kau menuduh kami ingin membunuh pasien-pasien ini?! Apa kau tidak bisa melihat kami sedang memberi pengobatan kepada mereka?!"


Niana teramat marah kala itu. Dia tidak terima Andressa menuding dirinya sebagai pembunuh.


"Benar! Kau jangan asal berbicara! Mungkinkah kau merasa paling hebat setelah klinikmu mulai ramai pengunjung? Bagaimana pun juga klinik Glory lebih paham soal pengobatan daripada dirimu!" timpal Chris turut menaikkan nada suaranya.


Andressa mengembuskan napas panjang. Dia melempar ke muka Niana satu kotak kecil obat oles yang tadi dia racik bersama Chris.


"Kalian bodoh! Daun hirloen yang menjadi bahan utama pembuatan obat oles itu hanya akan memperparah luka bakar pasien. Daun hirloen diperuntukkan untuk luka bakar ringan saja. Lebih dari itu, kalian tidak boleh lagi menggunakan daun hirloen sebagai bahan utama obat oles luka bakar tingkat sedang dan berat!"


Mereka berdua terdiam dalam seribu bahasa. Ini kali pertama mereka mengetahui hal tersebut. Biasanya mereka selalu memberikan resep yang sama. Tidak heran mengapa ada banyak pasien penderita luka bakar sedang dan berat malah berakhir meninggal. Dan Andressa berhasil memecahkan keanehan dari obat oles racikan baik klinik Glory maupun klinik lainnya.


"Daun hirloen memperparah luka bakar? Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" Nada suara Niana merendah seketika.

__ADS_1


"Tentu saja aku bisa mengetahuinya. Pengetahuanku tentang obat jauh lebih hebat dari kalian. Makanya serahkan masalah ini padaku karena aku sendiri yang akan menangani semuanya sampai selesai."


Andressa pun berbalik badan tanpa mendengar lebih lanjut respon mereka berdua. Dia menyuntikkan cairan pereda rasa sakit pada tubuh pasien sebelum ia melakukan penanganan lebih lanjut.


"Nona, saya telah menyiapkan apa yang tadi Anda minta," ujar salah seorang tabib yang berada di bawah naungan Andressa.


"Baiklah, biar aku cek sebentar."


Andressa memeriksa ulang bahan-bahan obatnya. Ternyata semua yang dibutuhkan sudah lengkap.


Sedangkan kala itu Niana dan Chris hanya menjadi penonton di sana. Mereka tidak diperbolehkan membantu sedikit pun.


"Selanjutnya oleskan obat itu ke tubuh para pasien berdasarkan dosis yang tadi aku berikan. Jangan sampai ada yang salah."


Pergerakan mereka benar-benar cepat. Tidak sia-sia Andressa melatih tabib-tabih itu supaya dapat mengikuti pergerakannya.

__ADS_1


"Bagaimana situasinya saat ini?" Viscount Kaidan datang, dia bertanya pada salah satu kesatria yang berjaga di depan posko tempat para korban berada.


"Nona Andressa sedang mengobati korban yang terluka, Tuan. Walau api belum sepenuhnya padam, setidaknya korban yang mengalami luka bakar bisa diselamatkan oleh beliau," jelas sang kesatria.


"Syukurlah kalau begitu. Tolong suruh tabib Andressa menemuiku nanti jika beliau telah menyelesaikan pengobatannya."


"Baik, Tuan."


Selepas Andressa membereskan seluruh pengobatan terhadap pasien, Andressa langsung pergi menemui Viscount Kaidan.


"Tuan, apakah ada sesuatu yang ingin dibicarakan?"


Ternyata di sana juga ada Marquess Gencio. Mereka berdua sepertinya ingin membicarakan sesuatu hal dengan Andressa.


"Nona, tampaknya kebakaran ini direncanakan oleh seseorang," ucap Viscount Kaidan.

__ADS_1


"Apa ada bukti terkait hal itu?" tanya Andressa.


"Tidak." Viscount Kaidan menggeleng. "Hanya saja, beberapa saat lalu salah satu pekerja di penginapan ini bersaksi bahwa dia bertemu seseorang yang mencurigakan."


__ADS_2