Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Sebuah Tempat yang Tidak Layak


__ADS_3

Pada akhirnya, Andressa, Amelia, dan Calvin meminta anak tersebut mengantar mereka ke ruangan tempat keberadaan kakaknya. Betapa terkejutnya mereka tatkala melewati gang sempit nan kumuh dan dipenuhi bau sampah. Ketika mereka menginjakkan kaki di depan sebuah gedung tua yang rapuh, mereka lebih dikejutkan lagi oleh kondisi bangunan itu.


Bangunan itu digunakan sebagai tempat penampungan wanita penghibur yang terjangkit penyakit serius. Akan tetapi, kondisi bangunannya begitu memprihatinkan. Manusia tidaklah layak untuk tinggal di sana. Ditambah lagi selain tidak bersih, ada tumbuhan liar yang tumbuh menyelimuti bangunan sehingga tidak sedikit serangga dan ulat masuk ke dalam kamar tempat para wanita tidur.


"Apakah di sini?" Andressa bertanya sekali lagi untuk memastikan.


"Benar, Nona. Kakak saya ada di lantai dua," jawab anak kecil itu.


"Ada berapa lantai di gedung ini?"


"Sekitar tiga lantai."


Andressa membuang napas sejenak menjelang melangkah jauh lebih dalam lagi.


"Amelia, Calvin, pasang masker dan sarung tangan. Tempat ini sepertinya sudah dipenuhi virus dan bakteri. Setidaknya kita harus menjaga diri agar tidak terjangkit penyakit lain," ujar Andressa.


"Baik, Nona."

__ADS_1


Andressa juga memasangkan masker kepada anak kecil itu. Dia adalah yang paling rentan terjangkit penyakit di antara mereka berempat.


Kemudian mereka pun masuk bersamaan menaiki tangga besi. Aura di sana amat suram dan sunyi. Sesekali mereka mendengar rintihan dari orang-orang yang terkurung di dalam kamar.


"Kakak saya ada di kamar ini."


Mereka berhenti di depan sebuah kamar di pojok lantai dua. Calvin mengintip melalui celah pintu. Dia mematung sesaat mendapati ada tiga orang wanita tengah terbaring lemas di atas tempat tidur.


"Di dalam ada tiga orang. Kondisinya sangat buruk. Mungkin mereka sedang berada di ambang kematian," kata Calvin.


Mereka mendobrak pintu kamar sampai membuat pintunya rusak. Para wanita yang ada di sana tersentak mendengar suara gaduh. Mereka lebih terkejut lagi menyaksikan ada orang lain yang datang.


"Kakak!" Anak kecil itu berlari menghampiri sang kakak.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah aku pernah bilang padamu untuk melarangmu datang?! Bagaimana kalau kau tertular penyakitku?!"


Bukan sebuah sambutan hangat yang dia terima melainkan sebuah bentakan dari kakaknya. Anak itu tampak sangat syok.

__ADS_1


"M-Maaf, a-aku—"


"Tolong jangan marahi dia, justru aku yang memintanya mengantarkan kami kemari," sela Andressa.


"Siapa kalian?"


Wanita itu terlihat tidak menerima kehadiran Andressa di sana.


"Kak, Nona itu adalah seorang tabib, dia akan mengobati penyakit kakak."


"Tabib? Tidak ada satu pun tabib yang bisa menyembuhkan penyakit ini. Teman-temanku sudah banyak yang meninggal, mungkin setelah ini giliranku. Aku tidak mau berharap banyak," tuturnya pasrah dan menyerah atas penyakit yang ia alami.


"Tetapi, Nona itu punya kemampuan yang luar biasa. Dia bahkan membagikan obat gratis kepada perempuan yang berada di rumah bordir. Kakak harus diperiksa oleh Nona itu. Kakak harus sembuh. Kalau tidak, dengan siapa aku hidup nanti? Aku hanya punya kakak."


Anak kecil itu mulai terisak menangis. Mereka merupakan anak yatim piatu, selama ini mereka berdua hidup dengan mengandalkan diri satu sama lain.


"Jangan menyerah sebelum aku mengobati penyakitmu. Tenang saja, aku pastikan kau bisa sembuh seperti sedia kala. Dapatkah kau mempercayakannya kepadaku?"

__ADS_1


__ADS_2