Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Dalang Kebakaran


__ADS_3

Hujan terus turun begitu derasnya selama lima menit. Alhasil, api yang menjalar di seluruh bangunan berakhir padam. Setelah itu, hujan berhenti total dan langit kembali cerah seperti sedia kala.


Fenomena tersebut tentu saja mengundang tanda tanya di otak semua orang yang menyaksikan. Mereka kebingungan, tetapi tidak ada yang dapat memberi jawaban atas hal itu.


"Hujannya berhenti. Benar-benar aneh, mungkin benar yang kau katakan bahwa ini merupakan wujud pertolongan dewa."


"Ya, ini karena Viscountess Erriel selalu berbuat baik. Jadi, dewa membantunya memadamkan api yang membakar klinik."


"Untung saja api belum menjalar terlalu jauh. Hanya sebagian kecil sisi gedung klinik yang terbakar. Namun, sayangnya gudang persediaan obat terbakar habis tanpa sisa."


Andressa mendengar berbagai macam perkataan orang-orang di sana. Dia bingung harus tertawa atau merasa prihatin atas apa yang menimpanya. Sungguh, ia menderita kerugian yang sangat banyak karena kebakaran tersebut. Persediaan obat yang susah payah ia racik siang malam malah tak tampak lagi wujudnya dan bercampur dengan abu sisa kebakaran.


"Oh, apinya sudah padam?" Andressa berlagak tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Nona, dari mana saja Anda? Tadi mendadak turun hujan lebat. Itulah mengapa api yang membakar klinik Anda sudah padam."


"Hujan? Wah, tidak disangka-sangka. Anggap saja keberuntungan bagiku. Setidaknya gedung klinik tidak habis terbakar."


Di tengah keramaian suara bising orang-orang, Andressa bergerak sendirian menyelidiki penyebab kebakaran tersebut. Ada hal yang sangat dia curigai di sini.


'Mustahil kebakaran terjadi dengan sendirinya. Aku yakin aku bisa menemukan sesuatu di balik puing-puing gudang yang terbakar. Semoga saja aku bisa tahu penyebab kebakaran ini tanpa harus melakukan penyelidikan nan panjang,' batin Andressa.


Sebuah botol kosong tergeletak di sana. Kondisinya setengah terbakar dan di samping itu ada sebuah kayu. Andressa lekas memungut botol dan kayu itu. Dia meraba-raba hingga mencium bau keduanya.


"Bau minyak tanah. Ah, mungkin ini yang dipakai untuk menyulut api. Berarti benar bahwa ada seseorang yang dengan sengaja ingin membakar klinikku. Siapa kira-kira pelakunya? Aku harus menemukannya dan membuat perhitungan dengannya."


***

__ADS_1


Pada keesokan harinya di klinik Glory, Miria terlihat semringah. Dia tiada henti tersenyum lebar dan membayangkan betapa merananya Andressa saat ini. Terlebih lagi, dia mendengar bahwa Andressa beberapa hari ini membatasi jumlah pasien yang berobat di kliniknya. Hal itu disebabkan oleh terbatasnya persediaan obat yang tersisa pasca kebakaran.


"Akhirnya rencanaku berhasil! Walaupun kliniknya tidak terbakar sepenuhnya, setidaknya gudang persedian obatnya sudah lenyap. Kenapa aku tidak melakukan ini sejak dulu ya?" gumam Miria.


Miria adalah dalang di balik klinik yang terbakar. Dia telah buta mata oleh kemarahan yang dia rasakan karena Andressa telah merebut para pasien dari kliniknya.


"Sayang sekali gedung kliniknya tidak terbakar. Lag pula mengapa bisa ada hujan yang tiba-tiba turun? Gara-gara hujan itu rencanaku tak sepenuhnya berhasil."


Miria menggerutu tiasa henti. Hatinya belum tenang karena Andressa masih bisa mengobati pasien walau persediaan obatnya habis.


Tak berselang lama, klinik Glory mendadak kedatangan tamu tak diundang.


"Hei, Miria! Keluar kau dari ruanganmu!"

__ADS_1


__ADS_2