Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Ria Terbunuh


__ADS_3

Jemari tangan Ria gemetar sesaat ia hendak menyuntikkan obat terlarang ke dalam cairan infus pasien. Dia dirundung ketakutan karena ia cemas akan ketahuan oleh Andressa.


"Aku harus cepat! Aku tidak boleh ketahuan dan sampai membuat kesalahan."


Sepersekian detik berlalu, Andressa pun datang memergoki Ria. Gadis itu terperangah mendapati Andressa tiba di ambang pintu masuk.


"Berhenti kau di sana! Aku tahu apa yang ingin kau lakukan."


Untung saja saat itu Andressa muncul di saat Ria belum menyuntikkan obat terlarang. Dia masih sempat menyelamatkan para pasien malam itu.


"Nona ... i-ini bukan s-seperti yang Anda bayangkan. Saya hanya—"


"Tutup mulutmu, dasar jal*ng!"


Andressa melesat cepat ke arah Ria. Tangan kanannya menggenggam sebilah pedang kayu. Tanpa menyelimuti pedang itu dengan aether, Andressa begitu mudahnya melumpuhkan Ria hanya menggunakan satu kali pukulan di lehernya.


Ria merintih kesakitan di atas lantai. Akibat suara gaduh Andressa, sejumlah pasien pun terbangun dan beberapa orang tabib langsung menghampiri sumber suara.

__ADS_1


"Apa yang terjadi, Nona?" tanya salah satu tabib.


"Seret wanita ini ke luar!" Nada suara Andressa terdengar murka.


"S-Seret?" Para tabib lain masih belum paham situasi tersebut.


"Iya, bawa dia ke luar sekarang juga! Dia sudah menyalahi aturan dasar sebagai seorang tabib dan bekerja di bawah perintah orang lain yang ingin mencelakakan pasien," tegas Andressa.


Kemudian mereka menyeret Ria keluar dari ruangan. Sementara itu, tabib yang tersisa di dalam menenangkan pasien yang terjaga.


Andressa sungguh naik pitam. Dia tak kuasa menahan kemarahannya akibat perbuatan Ria yang melebihi batas.


Ria bersujud di bawah kaki Andressa. Mimik muka Andressa dingin dan tak menunjukkan tanda-tanda kalau dia akan memaafkan perbuatan Ria.


"Kau lupa? Aku tidak suka dengan orang yang menganggap remeh nyawa pasien. Kau sudah salah di sini. Jadi, aku menolak untuk memberi pengampunan terhadapmu."


Ria kia dilanda kepanikan hebat. Rasa takut mendominasi di pikiran. Semakin dia mencoba lolos dari maut, semakin pula Andressa mendesaknya jatuh menuju jurang kematian.

__ADS_1


"Saya akan mengatakan kepada Anda siapa yang menyuruh saya. Dengarkan saya sebentar, Nona. Saya mohon ... saya tidak mau mati, beri saya kesempatan," ucap Ria melirih disertai bibir gemetar.


Andressa menodongkan ujung pedang nan tajam ke leher Ria seraya menyorotkan tatapan mematikan.


"Katakan padaku, siapa yang memberimu perintah?! Katakan secara detail. Aku tidak menerima kebohongan sedikit pun darimu. Apabila kau ketahuan berbohong, maka kepalamu akan langsung melayang saat ini juga," ancam Andressa terdengar tidak main-main.


Ria menganggukkan kepala. Air mata terus berderai berjatuhan. Ria lekas menyeka air matanya sebelum membuka suara.


"Sebenarnya, saya disuruh oleh—"


Tepat sebelum Ria mengungkap semuanya, sebilah anak panah yang entah ditembakkan oleh siapa melaju dari arah belakang hingga menancap jantung Ria. Kala itu Ria langsung tidak sadarkan diri dan tewas dalam sepersekian detik.


Andressa amat terkejut. Penglihatannya mengitari sekitar. Sekilas ia menangkap bayangan manusia di atas pohon yang menghilang di kegelapan malam.


"Nona, sepertinya anak panah ini mengandung racun! Ria sudah tidak bernapas lagi. Racunnya bereaksi dengan cepat."


Andressa berdecak jengkel. Meski sebelumnya dia sudah menduga hal ini akan terjadi.

__ADS_1


"Bawa dia masuk ke dalam. Aku akan mencoba mencari tahu siapa pelaku yang sudah membunuh Ria," titah Andressa.


__ADS_2