
Satu hari menjelang pesta pertunangan Miria dan Gibson diselenggarakan, Gibson tiba-tiba saja datang mengunjungi klinik Andressa. Dia memaksa untuk bertemu Andressa meski telah dilarang oleh beberapa orang tabib.
"Biarkan aku bertemu Andressa! Kenapa kalian malah menghalangiku?!"
Gibson terlihat marah besar. Dia tidak terima jalannya dihadang para tabib.
"Mohon maaf, Tuan Muda. Nona Andressa tidak mau bertemu dengan Anda. Beliau menyuruh kami untuk menghalangi dan mengusir Anda pergi dari sini."
Gibson terdiam sebentar. Dia mengambil napas sebelum bersuara kembali.
"Apa kalian tahu siapa aku? Aku ahli waris keluarga Duke Fidel. Kalian tidak ada hak melarangku masuk menemui Andressa. Sekarang cepat menyingkirlah dari jalanku!" bentak Gibson. Kemarahannya kian melonjak.
"Kami tahu siapa Anda, tetapi kami hanya menjalani perintah dari Nona Andressa saja."
Amelia tidak tahan menyaksikan keributan tersebut. Keberadaan Gibson di sana hanya membuat para pasien dan pengunjung klinik menjadi terganggu.
'Tidak bisa dibiarkan! Aku harus berbicara kepada Nona.'
__ADS_1
Amelia bergegas menuju ke tempat Andressa berada. Untung saja kala itu Andressa sedang senggang. Jadi, dia bisa berbicara secara leluasa dengan Andressa.
"Nona, mohon tunggu sebentar!"
Andressa sontak berbalik badan dan menghentikan langkah kakinya. Dia melihat Amelia berlarian di tengah koridor untuk menghampirinya.
"Ada apa, Amelia? Apakah ada masalah atau sesuatu yang lain?" tanya Andressa.
"Tuan Muda Fidel sedang mengamuk di depan. Beliau memaksa untuk masuk ke dalam bertemu Anda, Nona. Apa yang harus kami lakukan? Beliau sangat susah diusir dan bersikeras ingin berbicara dengan Anda," tutur Amelia.
Andressa menghela napas berat sambil menepuk pelan keningnya.
Andressa akhirnya terpaksa menghampiri Gibson. Pria itu dinilai tidak tahu malu sekali. Mengingat bagaimana dia memperlakukan Andressa dahulu membuat semua orang menjadi jijik menyaksikan kelakuannya. Sekarang dia dengan begitu percaya dirinya malah berniat bertemu Andressa.
"Andressa!" Gibson tersenyum lebar kala mendapati Andressa berada di depan mata.
"Kenapa kau mau menemuiku? Kita sudah tidak ada urusan dan lagi besok kau akan bertunangan dengan Miria." Andressa menanggapinya dengan amat tidak ramah.
__ADS_1
Gibson memperbaiki raut mukanya. Dia tampak lembut seperti yang selalu dia tunjukkan.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Apa kau punya waktu? Tenang saja, ini hanya sebentar dan tidak lama."
Andressa menoleh ke arah jam dinding. Waktu menunjukkan pukul dua belas siang. Artinya, sudah masuk waktu untuk beristirahat.
"Sepuluh menit. Aku memberimu waktu sepuluh menit untuk berbicara denganku."
"Baiklah, sepuluh menit sudah lebih dari cukup."
Andressa memberi isyarat kepada Gibson untuk mengikutinya ke dalam. Andressa membawa Gibson berbicara di rooftop klinik.
"Cepat katakan maksudmu menemuiku. Aku masih punya urusan lebih penting darimu," desak Andressa.
Gibson bersiap-siap untuk bicara. Sejenak ia terlihat ragu, tetapi keraguannya mendadak hilang. Kini tatapannya penuh kepercayaan diri.
"Andressa, sekarang aku sadar, ternyata aku menyukaimu. Aku tidak punya rasa apa pun terhadap Miria. Maafkan aku terlambat menyadari perasaanku. Namun, saat ini aku serius, aku ingin menikahimu."
__ADS_1
Gibson memasang muka memelas. Tangannya bergerak menggenggam kedua tangan Andressa. Akan tetapi, Andressa dengan cepat menepis tangan Gibson.
"Hahaha." Andressa tertawa kencang. "Kau menyukaiku dan ingin menikahiku? Jangan bercanda! Kau pikir aku akan luluh ketika mendengarmu berbicara seperti ini?"