
Gibson sungguh tak lagi bisa berkata-kata. Dia melihat bahwa Andressa tidaklah main-main dengan perkataannya. Gadis itu marah besar, ia tak memberi kesempatan kepada Gibson untuk memperbaiki diri sendiri.
Sekarang di mata Andressa Gibson tidak lebih dari sekedar pengganggu. Apabila dia diperbolehkan membunuh bangsawan, maka mungkin dia akan melakukannya detik itu juga.
"Andressa, aku mohon. Aku tidak tahu kenapa kau bisa seperti ini. Mungkin kau harus menenangkan pikiranmu. Setelah itu mari kita bicara lagi," tutur Gibson.
Andressa menyunggingkan senyum. Gibson rela mengemis padanya hanya demi mendapatkan kembali perhatian yang selalu dicurahkan olehnya kepada Gibson.
"Apa lagi yang mau dibicarakan? Aku rasa sudah cukup sampai di sini. Silakan kau pergi, angkat kakimu, lalu mulai sekarang kau aku larang untuk datang lagi ke klinikku. Sebaiknya kau urus saja Miria, bisa-bisa dia marah karena kau berdekatan lagi denganku."
Andressa melayangkan tatapan sinis sebelum ia benar-benar melangkah pergi meninggalkan Gibson yang mematung sendirian. Pria itu telah kehilangan sosok wanita sempurna sepenuhnya. Dia mungkin takkan pernah lagi bertemu wanita sebaik dan secantik Andressa.
"Andressa ... dia berubah. Aku merasa takkan bisa menjangkaunya kembali," gumam Gibson dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Muncul segelintir perasaan menyesal karena telah menghancurkan hati Andressa. Mungkin sebentar lagi dia akan tenggelam seutuhnya di lautan penyesalan.
Tidak berhenti sampai di sana. Seusai Gibson mengganggu Andressa di hari sebelumnya, sekarang dia harus berhadapan dengan Duchess Fidel — Ibunya Gibson.
Wanita itu terlihat sangat sombong dan memamerkan segala barang mahal yang dia kenakan. Andressa menatap datar ke arahnya sambil menunggu Duchess Fidel untuk berbicara.
"Kenapa Anda mengunjungi saya, Nyonya? Mungkinkah ada sesuatu yang membuat Anda penasaran tentang saya?"
Andressa berusaha untuk tenang walau di relung hatinya seperti hangus terbakar.
"Ya, saya adalah Andressa. Apa salahnya menjadi tabib di daerah kumuh? Justru ini takkan membawa kerugian kepada Anda kan, Nyonya?"
Andressa menanggapinya dengan lengkungan senyum yang amat menyebalkan. Duchess Fidel juga tengah berupaya untuk tidak emosi terhadap Andressa.
__ADS_1
"Aku tahu itu, sekarang maksud kedatanganku adalah untuk memberi tahumu bahwa kau harus menjauhi putraku. Gibson akan bertunangan dengan Miria. Berhentilah mengharapkannya dan sadarilah posisimu sebagai rakyat jelata."
Andressa mengambil napas dalam lalu mengembuskannya perlahan.
"Aku tidak berminat pada putramu."
Duchess Fidel tersentak. Andressa tiba-tiba mengubah bahasanya menjadi bahasa informal. Tentu saja ini sebagai bentuk bahwa Andressa telah menghina seorang bangsawan. Akan tetapi, Andressa tak peduli. Mau dia mati atau hidup setelah ini, dia benar-benar tak ada takutnya.
"Apa? Lalu mengapa putraku akhir-akhir ini sering galau? Aku yakin ini berhubungan denganmu."
"Aku tidak tahu. Tanya saja sendiri alasan dia seperti itu. Yang jelas, aku tak terlibat dalam perubahan putramu tersebut," tegas Andressa.
"Dasar rakyat jelata! Kau sangat tidak sopan! Ah aku lupa, rakyat jelata kan memang biasanya tidak sopan."
__ADS_1
Duchess Fidel memandang rendah Andressa. Dia menghina gadis itu habis-habisan.
"Entah aku yang salah atau bagaimana, tetapi menurutku, kau lebih seperti rakyat jelata dibanding aku. Apa kau tidak sadar? Kau jauh tak tahu etiket kebangsawanan."