
Andressa berdecih. Entah kenapa Lion selalu saja datang dengan cara mendadak seperti ini. Apalagi dia berbicara seolah-olah mengetahui tentang manusia berambut perak.
"Apa kau tahu sesuatu tentang manusia yang terlahir berambut perak? Di duniaku yang dulu rambut perak adalah hal biasa, tetapi di dunia ini berbeda. Cepat beri tahu aku apa yang kau ketahui soal manusia berambut perak!"
Andressa mendesak Lion untuk berbicara secara jujur. Dia benar-benar penasaran tentang masalah tersebut. Baginya mungkin rambut perak merupakan sebuah hal biasa. Namun, di dunia ini malah dianggap aneh oleh orang lain. Sungguh sebuah misteri yang belum terpecahkan sampai saat ini.
"Aku tidak tahu apa-apa." Raut muka Lion mengatakan sebaliknya, dia memang tahu sesuatu tentang orang-orang yang terlahir dengan rambut perak.
"Benarkah?" Andressa memicingkan mata, perasaannya meragukan Lion kala itu.
"Apa kau tidak mempercayaiku? Aku berkata sejujurnya. Jadi, jangan tanyakan apa pun lagi. Lebih baik kau fokus saja pada pekerjaan dan tugas yang aku berikan."
Sekali lagi Andressa berdecik seraya menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.
__ADS_1
"Dasar kau bajing*n pembohong! Aku tahu kau menyimpan rahasia. Ayo cepat katakan! Katakan apa yang kau tahu soal rambut perak!"
Andressa tiba-tiba berteriak sambil memelototi Lion. Sejenak Lion tersentak karena suara Andressa memecah gendang telinga.
"Hei, kenapa kau berteriak, sialan?!" Lion terlihat amat kesal. "Jangan membuatku naik pitam! Padahal aku hanya mencegahmu supaya tidak buang-buang waktu mencari tahu sesuatu yang tidak ada gunanya."
"Terserah kau saja!" Andressa bangkit dari sofa. "Aku akan mencari info soal rambut perak. Kau jangan mencoba menghalangiku! Awas saja kau," lanjut Andressa menekan Lion.
"Ya sudahlah, biar saja dia mencari tahu tentang keberadaan klannya sendiri. Lagi pula tugasku hanya mengawasinya agar tidak membuat keributan di bumi ini," gumam Lion menghilang dari lokasi terkini.
***
Sementara itu, di saat bersamaan, tepatnya di klinik Glory. Miria tampak frustrasi melihat catatan keuangan klinik milik keluarganya. Sang ayah mempercayakan klinik ini kepadanya, tetapi akhir-akhir ini hasilnya sangat mengecewakan.
__ADS_1
Miria segera mengumpulkan seluruh tabib yang bekerja di kliniknya. Ekspresi para tabib menggambarkan betapa khawatirnya mereka. Ya, mereka khawatir Miria marah besar lalu memecat mereka secara berbarengan.
"Bisakah kalian jelaskan kepadaku mengapa pasien klinik ini dari hari ke hari semakin berkurang? Bahkan, nyaris tidak ada satu pun bangsawan yang berobat kemari. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Miria bernada bicara emosi.
Mereka terdiam. Tak ada seorang pun yang berani menjawab pertanyaan Miria.
"Ayo jawab!" Miria berteriak, ia marah besar.
"Mohon maaf, Nona. Semua orang saat ini memilih berobat di klinik milik Viscountess Erriel. Mereka bilang kalau di sana lebih murah dan proses pemulihannya juga lebih cepat. Itulah mengapa tidak ada orang yang mau berobat di klinik kita lagi," jelas Chris.
Miria menarik napas dalam-dalam. Dia sudah menduga kalau penyebabnya adalah Andressa.
"Wanita itu ... tidak hanya menggoda tunanganku, tetapi sekarang dia malah mengambil seluruh pasienku. Apa yang sebaiknya aku lakukan supaya dia paham tentang posisinya? Uhh ...dia sangat mengganggaku."
__ADS_1