
Suasana di antara Lorcan dan Andressa terasa aneh. Hanya Lorcan yang tersipu malu kala itu, sedangkan Andressa bersikap biasa saja. Mungkin gadis itu benar-benar tidak peduli soal pria sehingga dia nyaris tidak pernah merasakan bagaimana jatuh cinta.
"Ya, tidak apa-apa. Oh, kenapa wajahmu semakin merah?"
Andressa menyentuh kening Lorcan, ia memeriksa suhu tubuh pria itu. Akan tetapi, tak ada hal janggal di tubuh Lorcan.
"Kau tidak demam. Lalu kenapa wajahmu memerah seperti kepiting rebus? Aku juga dengar jantungmu berdebar-debar," ujar Andressa sembari berpikir keras.
Spontan Lorcan menjauh dari Andressa. Dia kesulitan mengontrol dirinya agar jantungnya tidak meledak.
"Aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mencemaskan hal itu. Ya, aku sungguh tidak apa-apa." Lorcan terdengar gelagapan dan mendadak gugup.
Lorcan memalingkan tatapannya ke arah lain. Dia mencoba mengatur perlahan irama napasnya yang tidak karuan. Ditambah lagi jantungnya berpacu hingga rasanya ia kehilangan akal sehat.
'Kenapa bisa seperti ini? Apa yang salah dari diriku? Lalu apa-apaan itu? Andressa terlihat sangat cantik,' batin Lorcan menepuk kening.
Andressa memiringkan kepala. Ekspresinya sangat polos. Semua orang yang menyaksikan ikut gemas dengan Andressa.
__ADS_1
"Kau sudah bisa berjalan normal. Mungkinkah sekarang jantungmu yang bermasalah? Ayo aku periksa sebelum terlambat. Bagaimana pun kau ini adalah sahabatku. Aku tidak bisa membiarkan sahabatku jatuh sakit," kata Andressa mendekati Lorcan.
Ketika itu Lorcan menjauh dan kian menjauh dari Andressa.
"Jangan dekati aku! Aku baik-baik saja. Jantungku hanya sedikit berdebar. Nanti juga kembali seperti semula."
"Sungguh? Baiklah kalau begitu. Tolong katakan padaku jika ada yang janggal dari tubuhmu. Kau paham? Aku tak mungkin membiarkanmu menderita sakit jantung sendirian."
Jason tertawa kecil melihat Lorcan membuat ekspresi demikian dengan seorang wanita. Pria yang selalu berfokus terhadap kemakmuran rakyat, tiba-tiba jatuh cinta secara tidak sadar dengan seorang tabib muda.
'Apa yang harus aku lakukan untuk mendekatkan mereka? Mungkin aku memerlukan bantuan orang lain agar mereka bisa menjadi sepasang kekasih,' pikir Jason.
"Akhirnya, aku bisa bernapas dengan lega."
Lorcan mendudukkan diri di atas kursi. Degup jantungnya perlahan kembali normal seperti biasa.
"Kenapa rasanya aneh begini? Akhir-akhir ini juga aku sering memikirkan Andressa. Apa mungkin aku memang ada kelainan?" gumam Lorcan.
__ADS_1
"Ehem." Jason berdehem menyadarkan lamunan Lorcan.
"Ada apa?" Lorcan menyorot dingin Jason. Mimik muka Lorcan yang terlihat lucu tadi mencair dalam sekejap.
"Astaga, Yang Mulia, tolong jangan terlalu dingin kepada saya. Di sini saya hanya ingin memberi tahu apa yang terjadi di tubuh Anda saat ini."
Lorcan menoleh ke arah Jason.
"Maksudmu apa? Kau tahu apa yang terjadi terhadap diriku? Katakan! Aku ingin tahu! Aku berharap ini bukanlah kelainan yang bisa mengganggu pekerjaanku."
Jason pun tersenyum lebar.
"Yang Mulia, ini artinya Anda sedang jatuh cinta dan wanita yang Anda cintai adalah Nona Andressa," tutur Jason berterus terang.
Pupil mata Lorcan membulat sempurna.
"Jatuh cinta? Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan? Aku jatuh cinta? Mana mungkin itu terjadi." Lorcan membantah fakta yang tidak dia sadari.
__ADS_1
"Tetapi, Yang Mulia, saya yakin setiap kali Anda melihat wajah Nona Andressa, muka Anda merona dan jantung Anda berdebar kan?"