Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Reaksi Camille dan Gibson


__ADS_3

Raut muka Camille tergurat masam. Padahal ia telah dijanjikan akan bertunangan dengan sang kaisar. Akan tetapi, segalanya menjadi kacau akibat beredarnya kabar pertunangan Lorcan dan Andressa. Terpintas rasa ingin menghampiri lalu melabrak Andressa. Namun, rasa itu tertahan karena dia takut Lorcan akan memeranginya untuk membela Andressa.


Seluruh pelayan yang berada di sekitar Camille mendadak menampakkan mimik muka gelisah. Mereka khawatir Camille menghancurkan benda-benda di kamar dan melempar benda tersebut ke kepala mereka.


“Tidak bisa dibiarkan!” Camille menghempaskan surat kabar tentang berita itu. “Bagaimana ini? Apa ibu suri sudah mendengar beritanya? Aku tidak mau mereka bertunangan. Aku harus mencari cara menggagalkan pertunangan ini. Tempat itu adalah milikku, bukan milik Andressa!”


Camille mengatur irama napas sejenak seraya menjangkau cangkir berisi air teh. Tatkala ia meneguk teh itu, Camille tiba-tiba menyemburkan tehnya kembali dari mulutnya.


“Kenapa rasanya begini? Siapa yang menyeduh teh ini untukku?!” Camille tampak marah.


Sesosok pelayan menghadap Camille dengan perasaan penuh keresahan.


“S-Saya, Nona. Apakah ada—”


Belum usai ia berucap, Camille menyiramkan air teh ke wajah si pelayan.

__ADS_1


“Beraninya kau menyajikan teh dingin dan hambar! Apa kau sudah bosan hidup?! Dasar pelayan tidak becus! Bawa pelayan rendahan ini ke luar! Jangan biarkan dia masuk lagi ke kediaman ini!” perintah Camille kepada beberapa kesatria.


Pelayan itu pun diusir secara paksa. Walau sang pelayan memekik memohon pengampunan, Camille tak mengindahkannya. Sejujurnya, pelayan tersebut tidaklah berbuat salah. Camille hanya sedang melampiaskan emosi yang bergejolak di dada.


“Sial! Aku harus menemui ibu suri. Mungkin ibu suri punya solusi terkait permasalahan ini.”


Camille segera bergerak pergi ke kereta kuda. Tujuannya ialah ke istana kekaisaran untuk bertemu Leyna. Tatkala ia hendak memasuki kereta, tiba-tiba Gibson datang menyerobot ke dalam kereta yang sama dengan Camille.


“Kak, apa yang kau lakukan di sini? Aku mau menggunakan kereta ini, tolong carilah kereta lain,” ujar Camille.


Camille memasang ekspresi kesal.


“Mengalahlah dariku! Aku yang pertama masuk ke kereta ini. Memangnya apa yang membuatmu terburu-buru?”


Camille menyadari bahwasanya raut muka Gibson mengguratkan perasaan gelisah, marah, serta penuh rasa penasaran. Ada sesuatu yang membuat suasana hati Gibson menjadi kacau.

__ADS_1


“Aku berencana pergi ke istana. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kaisar.” Gibson menjawab dengan ekspresi ketus.


“Menemui kaisar?” Camille terdiam sesaat. “Mengapa Kakak ingin bertemu kaisar? Ditambah lagi datang tanpa surat pemberitahuan untuk berkunjung terlebih dahulu. Apa Kakak pikir kaisar mau bertemu dengan Kakak?”


Gibson membuang napas kasar, ia juga tidak begitu yakin menemui Lorcan. Namun, tetap harus dia lakukan demi mengajukan protes.


“Aku baru mendapatkan kabar tentang pertunangan kaisar. Sebelumnya, tidak ada satu pun bangsawan yang membahasnya. Kaisar mungkin memutuskannya sendiri tanpa persetujuan bangsawan. Aku harus menanyakan ini, aku perlu mendapatkan penjelasan dari kaisar.”


Kening Camille mengernyit. Gibson tengah berbohong kepadanya.


“Bohong! Aku tahu alasan Kakak ke istana bukan semata-mata karena alasan itu. Kakak sebenarnya tidak terima kan Andressa bertunangan dengan kaisar? Apa Kakak sudah lupa kalau Kakak itu miliknya Miria?!”


Gibson tidak langsung merespon. Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.


“Kenapa kau cerewet sekali? Ya, benar. Alasanku ke istana tepat seperti yang kau katakan. Puas?!”

__ADS_1


__ADS_2