Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Operasi Berhasil Dilakukan


__ADS_3

Semua persiapan untuk operasi telah selesai. Lorcan tampak terbaring di atas ranjang khusus operasi. Andressa berada di sampingnya sedang bersiap-siap melakukan pembiusan.


"Setelah ini kau tidak akan sadarkan diri. Lalu jika kau terbangun nanti, maka operasinya sudah selesai dilakukan. Apa kau sudah siap?" tutur Andressa.


Lorcan mengatur pacuan jantungnya yang tak beraturan.


"Ya, aku siap," jawab Lorcan.


"Baiklah. Tolong jarum suntiknya."


Amelia menyerahkan jarum suntik berisi cairan bius. Andressa menancapkan perlahan ujung jarum suntik ke permukaan kulit Lorcan.


Pria itu terlihat biasa saja. Dia tidak merasakan sakit karena ditikam jarum. Bagaimana pun dia sudah terbiasa merasakan sakitnya disayat senjata tajam selama berada di medan perang. Jadi, jarum suntik ini bukanlah apa-apa baginya.


Selepas memastikan biusnya bereaksi, Andressa segera memulai operasinya.


"Scalpel."

__ADS_1


Para tabib bergerak cepat menyerahkan apa yang diminta Andressa. Sejujurnya, mereka sangat gugup melakukan operasi terhadap Lorcan. Tingkat kecemasan akan kegagalan amat mendominasi perasaan mereka.


Seusai menyaksikan keterampilan Andressa saat ini, kecemasan itu pun berkurang. Andressa benar-benar ahli dalam melakukannya.


"Tolong pinset," pinta Andressa sekali lagi.


Para tabib pun terlihat mulai santai. Mereka bergerak sesuai arahan Andressa. Bagi pemula seperti mereka, operasi ini cukup sulit. Namun, bagi Amelia, ia sudah terbiasa melakukannya.


Hingga dua jam berlalu, operasi pun selesai mereka kerjakan.


"Ini jahitan terakhir. Selepas itu, kalian bisa beristirahat," ujar Andressa.


Begitu jahitan terakhir diselesaikan, mereka langsung menghela napas lega. Tubuh mereka serentak meluruh ke atas lantai akibat kelelahan.


"Apa Anda selalu melakukan hal menegangkan ini?" tanya salah seorang tabib.


"Iya, kenapa memangnya? Kalian tegang kan? Aku juga sama. Aku juga tegang ketika pertama kali dibawa ke ruang operasi dan menyaksikan bagaimana pisau bedah itu menyayat tubuh pasien."

__ADS_1


Andressa mengingat kehidupan pertamanya sebagai dokter bedah. Pengalaman yang takkan terlupakan kala ia masih menjadi pemula, sama layaknya para tabib tersebut.


"Tenang saja. Kalian akan terbiasa jika sudah sering melakukan operasi. Jadi, tidak ada yang perlu kalian khawatirkan soal ini," lanjut Andressa berucap.


***


Pada saat bersamaan, di klinik Glory terdengar keributan tidak biasa. Seorang wanita bangsawan bersama putranya yang terbaring lemah di atas ranjang memarahi para tabib habis-habisan. Dia datang untuk mempertanyakan mengenai luka parah yang ada di lutut sang putra.


"Bagaimana cara kerja kalian?! Aku sudah membayar mahal untuk ini. Akan tetapi, lihatlah! Luka di lutut putraku semakin parah dari hari ke hari. Apa kalian berniat untuk membunuh anakku?!"


Wanita itu adalah Baroness Yerland. Putranya yang masih berusia dua belas tahun terjatuh dari atas kuda. Kakinya menderita cedera serta luka di bagian lutut kiri dan kanan.


Baroness Yerland membawa putranya ke klinik Glory. Para tabib mengobatinya, tetapi bukannya pulih, lukanya malah bertambah parah. Hal ini menimbulkan keresahan di hati Baroness Yerland.


"Mohon maafkan kami, Nyonya, kami telah memberikan obat paling ampuh untuk Tuan Muda. Mungkin beberapa hari lagi luka Tuan Muda akan semb—"


"Beberapa hari lagi kau bilang? Hei, ini sudah lewat dua minggu. Luka di kaki putraku kian bertambah parah. Oh jangan-jangan kalian sengaja membuat luka putraku semakin parah supaya aku balik lagi kemari? Biaya pengobatan di sini mahal, hanya bangsawan kaya saja yang kalian terima."

__ADS_1


Emosi Baroness Yerland tidak tertahankan lagi. Dia marah sekaligus kecewa dengan klinik Glory yang dicap sebagai klinik penyelamat penduduk kekaisaran Emilian.


"Ibu, kakiku sakit ... tolong aku ...."


__ADS_2