
Andressa menggerakkan jemari memberi isyarat kepada para kesatria yang mendampinginya untuk membereskan pria-pria yang berani menghadang langkahnya. Dalam sekejap mereka dilumpuhkan dan tak mampu berkata apa pun lagi.
"Sial! Mereka adalah kesatria dari istana. Ayo cepat kabur dari sini sebelum tertangkap oleh mereka."
Sejumlah orang yang sedang berada di tengah rumah bordir berhamburan keluar mencoba menghindari para kesatria istana. Akan tetapi, rencana kabur mereka digagalkan seketika. Mereka semua ditangkap tanpa terkecuali.
"Bawa keluar seluruh wanita penghibur di rumah bordir ini! Suruh mereka berkumpul di hadapanku tanpa terkecuali!" Andressa memberi perintah secara tegas kepada sesosok wanita yang terlibat mengurus rumah bordir tersebut.
"Baik, Nona."
Tanpa menunggu lama, lebih dari dua puluh orang wanita muda berkumpul di depan Andressa. Ekspresi mereka mengguratkan kebingungan sekaligus rasa takut. Mereka takut Andressa akan memproses mereka untuk dijebloskan ke penjara. Namun, itu hanyalah ketakutan semata. Tidak ada niat seperti itu sedikit pun dari Andressa.
"Aku bermaksud mengadakan pemeriksaan kesehatan pada tubuh kalian. Jangan takut, aku takkan membawa kalian ke penjara," ujar Andressa.
"Benarkah?"
Andressa mengangguk seraya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ya, aku kemari hanya untuk memeriksa tubuh kalian. Jadi, bisakah kalian bekerja sama denganku sebentar? Aku hanya khawatir kalian terjangkit suatu penyakit berbahaya."
Sorot mata mereka saling bertemu pandang. Mereka meruntuhkan seluruh rasa ragu sekaligus takut di hati mereka.
"Baiklah."
Satu per satu dari mereka diperiksa oleh Andressa. Ada sekitar lima orang memiliki gejala awal dari penyakit menular mematikan. Kemungkinan mereka mendapatkannya dari pria lain yang menyewa jasa mereka.
"Nona, apa saya bisa sembuh?" Salah seorang wanita yang terkena penyakit tersebut bertanya dengan nada suara gemetar.
"Jangan khawatir, aku akan berusaha menyembuhkanmu. Untuk sekarang aku meresepkan tiga jenis obat. Satu minggu lagi tolong datang ke klinik untuk melakukan pemeriksaan lanjutan."
"Ya, kau masih bisa sembuh asalkan kau mengikuti perkataanku."
Sesudah itu, mereka membawa obat yang diberikan Andressa. Sedikit melegakan karena Andressa datang di tengah-tengah kekhawatiran mereka.
Kemudian saat hendak melangkah ke luar, seorang anak kecil datang menghampiri Andressa.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Andressa, anak kecil itu diam cukup lama.
"Apakah Anda bisa menyelamatkan kakak saya?"
"Kakakmu?"
Anak kecil itu mengangguk. Penampilannya kumuh, badannya kurus, terlihat dia tidak mendapatkan asupan makanan yang baik.
"Iya, bukankah Anda bilang kepada teman kakak saya kalau Anda bisa menyembuhkan penyakit mereka? Kalau begitu, Anda bisa menyembuhkan penyakit kakak saya juga. Tolong kakak saya, Nona," tutur anak tersebut sambil memohon kepada Andressa.
"Bolehkah aku tahu di mana kakakmu sekarang? Apakah dia sedang berada di ruangan terkunci bersama temannya yang juga sakit sepertinya?"
"Benar! Itu benar. Kakak saya dikunci di ruangan itu, jadi saya tidak bisa bertemu kakak saya. Tolong sembuhkan kakak saya agar saya bisa bertemu dia lagi."
Andressa beralih menatap Calvin dan Amelia.
"Nona, sepertinya anak ini tidak berbohong. Kita juga sedang mencari ruangan tempat dikurungnya wanita yang sedang sakit. Sebaiknya Anda suruh anak ini mengantar kita ke sana," kata Amelia berbisik.
__ADS_1
"Kau benar, mari kita minta anak ini mengantarkan kita. Percuma bertanya kepada orang lain karena mereka sendiri tidak tahu di mana keberadaan orang-orang itu."