Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Kecurigaan


__ADS_3

Lagi-lagi senyum seringai terbit di bibir Andressa. Marchioness Jevano merasa terancam hanya karena sebuah senyuman. Semakin lama dia berurusan dengan Andressa, semakin dia rasakan banyangan bahaya besar tengah mengejarnya.


"Aku tidak takut. Kaisar takkan menjatuhiku hukuman. Karena apa? Karena beliau tidak mau kehilangan orang berbakat sepertiku. Coba bandingkan otakmu dan otakku, siapa di antara kita yang lebih pintar serta berguna bagi kekaisaran Emilian?"


Marchioness Jevano menahan kegeraman terhadap Andressa. Kedua tangannya mengepal begitu erat demi menekan kemarahan berapi-api di dalam dada.


"Dasar rakyat jelata! Aku pastikan kau menerima ganjaran karena sudah menghinaku! Tidak ada gunanya aku berlama-lama di sini."


Marchioness Jevano berbalik badan menuju ke arah pintu keluar. Dia lupa mengambil kantong berisi uang. Andressa tersenyum jahil tatkala menatap kantong uang tersebut.


"Dasar bodoh! Kenapa dia tidak ingat dengan uangnya di sini? Lebih baik aku ambil beberapa. Anggap saja sebagai ganti rugi karena sudah membuang-buang waktuku," gumam Andressa menyembunyikan sejumlah koin emas.

__ADS_1


Sepersekian detik berlalu, seorang kesatria kembali ke ruangan. Dia mengambil kantong uang itu atas suruhan Marchioness Jevano.


"Kenapa dia harus ingat dengan uangnya? Padahal aku berharap dia lupa saja biar uangnya menjadi hak milikku."


Andressa geleng-geleng memikirkan kelakuan Marchioness Jevano. Berdasarkan penuturan penduduk, wanita itu lima tahun lalu pernah ribut karena ingin mengambil alih wilayah Selion. Akan tetapi, pemimpin wilayah Selion menolak setiap permintaan bangsawan. Setelah itu, mereka langsung diserang oleh wabah penyakit.


"Mencurigakan. Semakin aku pikirkan, aku bertambah yakin bahwa Marchioness Jevano patut dicurigai. Wanita itu mungkin saja terlibat dalam hal ini. Aku harus mencari tahu soal dia."


Andressa lekas bergerak menulis surat untuk dikirimkan kepada Marquess Gencio. Dia ingin pria itu mengetahui hal tersebut sebelum terlambat.


Surat itu tiba dalam beberapa jam ke kediaman Marquess Gencio. Dia langsung membuka surat itu lalu membacanya.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Marchioness Jevano? Wanita itu memang sangat mencurigakan, pendapatku sama dengan Nona Andressa. Sedari awal aku merasa ada yang aneh darinya. Dia terlihat amat berambisi mengambil alih wilayah Selion," gumam Marquess Gencio.


Pada saat selesai membaca surat dari Andressa, Marquess Gencio segera mengerahkan beberapa orang mata-mata untuk menyelidiki Marchioness Jevano sampai ke akarnya.


"Semoga saja ada titik terang mengenai dalang penyebaran wabah penyakit itu supaya aku bisa mengadili pelakunya di persidangan istana nanti," lanjut Marquess Gencio berucap.


***


Sekembalinya Marchioness Jevano dari wilayah Selion, dia terlihat sangat kesal. Dia mengingat jelas bagaimana raut muka Andressa ketika terang-terangan menghinanya.


"Apa wanita itu gila?! Berani-beraninya dia memperlakukanku dengan tidak hormat! Ternyata dia memang berbahaya. Aku tidak menyangka dia orang yang sulit untuk diajak memihak padaku," gerutu Marchioness Jevano.

__ADS_1


Kemudian dia mendudukkan diri sejenak seraya memijit pelipis kepala.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menyingkirkannya? Aku tidak boleh membiarkan dia sampai tahu bahwa akulah yang membuat wabah penyakit itu menyerang wilayah Selion. Aku harus membunuhnya, dia tidak boleh hidup lebih lama lagi. Dia bisa menjadi ancaman utama dalam rencanaku."


__ADS_2