Healer Dari Dimensi Lain

Healer Dari Dimensi Lain
Penyusup


__ADS_3

Di tengah malam nan sunyi, tampak dua orang mencurigakan mengendap-endap masuk ke hutan Selion. Mereka membawa dua botol cairan yang tak tahu digunakan untuk apa. Hanya saja, mereka berniat menaruh cairan itu di tanah dan sumber air Selion.


"Ayo cepat lakukan! Teteskan cairannya ke dalam air dan tanah!"


"Sial! Bagaimana kalau kita ketahuan? Aku khawatir tabib muda itu memergoki kita menyebarkan penyakit ini."


"Tenang saja, kita punya Marchioness Jevano. Beliau yang memberi kita perintah, jadi lakukan saja secepatnya!"


Ya, cairan itu ialah virus yang mereka gunakan untuk menyebarkan wabah penyakit. Mereka berniat jahat atas perintah langsung dari Marchioness Jevano.


"Aku pikir tadi siapa, ternyata ada tikus menyelinap dan berniat jahat." Seorang pria dari atas pohon menyaksikan niat buruk penyusup tersebut.


"Siapa kau?!"


Pria itu melompat turun dari pohon. Badannya besar dan kekar. Setelah dilihat-lihat lagi, ada bekas luka di wajahnya.


"Aku siapa? Aku Carlo, salah satu bawahan Kaisar yang diperintahkan melindungi Nona Andressa."


Carlo langsung melayangkan tendangan ke kepala si penyusup itu. Mereka berdua terpental jauh ke belakang. Kekuatan Carlo memang bukan main-main kuatnya. Badannya yang besar menjadi acuan utama bagi kekuatan miliknya itu.


"Sial! Kenapa bawahan Kaisar ada di sini? Sebaiknya kita kabur dari sini sebelum berurusan dengan Kaisar."


Mereka berdua bergegas bangkit dan berniat untuk kabur. Namun, Carlo lebih cepat dari mereka. Tubuh mereka lagi-lagi terpental dan dipukuli berulang kali sampai tidak sadarkan diri.


"Pantas saja Kaisar menyuruhku memantau situasi wilayah Selion, rupanya benar-benar ada sampah yang sengaja mengacau di sini. Mungkin sebaiknya aku serahkan saja dua botol cairan ini kepada Nona Andressa dan aku angkut bajing*n ini ke hadapan Kaisar."


Carlo menyeret penyusup itu menuju klinik Andressa. Kala itu Andressa hendak menutup klinik, tetapi dia dikejutkan oleh kedatangan Carlo.


"Carlo, siapa mereka? Mengapa kau menyeretnya kemari?" tanya Andressa.


"Mereka menyusup ke hutan dan membawa dua botol cairan ini." Carlo melempar botol cairan tersebut ke Andressa.

__ADS_1


Andressa pun merasa ada yang aneh dari cairan itu. Dia sudah menduga bahwa itu adalah benda berbahaya yang dapat merugikan orang lain.


"Oh, tadi mereka juga bilang disuruh oleh Marchioness Jevano untuk memasukkan cairan itu ke dalam sumber air dan tanah di hutan," lanjut Carlo berucap.


Mendengar itu, Andressa pun masuk ke dalam untuk meneliti zat apa saja yang terkandung di cairan tersebut.


"Aku akan memeriksanya sebentar. Kau boleh membawa mereka ke hadapan Kaisar. Nanti aku kirim surat kepada Kaisar penjelasan mengenai cairan apa ini," ucap Andressa.


"Baiklah, aku akan membawa mereka ke hadapan Kaisar."


Andressa meneliti baik-baik kandungan yang terdapat di dalam cairan itu. Pupil mata Andressa melebar saat ia tahu kandungan cairan itu.


"Virus yang sama? Tidak! Ini lebih kuat dari virus sebelumnya. Dari mana wanita itu mendapatkan virus ini? Sial! Dia benar-benar gila akan kekuasaan. Aku tidak bisa membiarkan hal ini terus terjadi."


Andressa segera menuliskan surat untuk Lorcan. Hanya pria itu yang dapat membantunya saat ini. Selain punya wewenang lebih luas, akan lebih mudah bagi Andressa menggunakan Lorcan untuk menghukum Marchioness Jevano.


"Untuk saat ini, aku harus meminta Kaisar menempatkan penyelidikan mendalam terkait Marchioness Jevano."


Berselang beberapa menit, seekor burung merpati mengetuk jendela kamar Andressa. Burung merpati itu adalah kiriman dari kediaman Marquess Gencio. Langsung saja Andressa mengambil surat yang terikat di kaki burung merpati itu.


Andressa membaca isi surat tersebut. Betapa terkejutnya ia kala membaca deretan kalimat tentang keberadaan sebuah gudang yang menyimpan ratusan cairan nan mencurigakan. Tanpa perlu dipikirkan lagi, sudah jelas kalau cairan itu adalah cairan yang sama.


"Brengs*k! Wanita itu sangat licik. Seandainya saja aku tidak berada di sini, mungkin wilayah Selion hancur dalam beberapa hari saja. Tidak hanya wilayah Selion, tetapi penjuru kekaisaran Emilian juga ikut menanggung kehancurannya."


***


Di istana kekaisaran, Carlo menyeret kedua penyusup yang sudah babak belur itu ke hadapan Lorcan. Mereka berdua baru saja sadar dari pingsan dan langsung mendapati sosok paling menakutkan di Emilian.


"Yang Mulia, kedua orang ini adalah penyusup. Mereka berkata kalau mereka orang suruhan Marchioness Jevano. Apa yang harus saya lakukan sekarang kepada mereka?"


Lorcan melirik tajam keduanya secara bergantian. Aura intimidasi Lorcan tak bisa dihindari sehingga membuat mereka tak kuasa menahan ketakutan di dalam diri.

__ADS_1


"Marchioness Jevano? Wanita itu mengirim mereka atas tujuan apa?" tanya Lorcan.


"Mereka punya niat jahat. Saya tanpa sengaja mendengar mereka mengatakan kalau Marchioness Jevano memerintahkan untuk menyebarkan wabah penyakit melalui sumber air dan tanah wilayah Selion."


Suasana sekitar pun berubah menjadi menakutkan. Lorcan sangat marah ketika mendengar ada niat jahat terselubung atas perintah seorang bangsawan yang dia kenal.


"Begitukah? Lalu kenapa kau masih membawa mereka ke hadapanku?"


Carlo merinding. Dia telah melakukan kesalahan kecil.


"Saya ingin Anda mengadili—"


"Tidak perlu mengadili mereka. Kalau kau sudah mendapatkan informasi penting, seharusnya sejak awal kau bunuh saja para bajing*n ini. Tidak ada gunanya membawa mereka kemari. Sekarang lempar mereka ke kandang peliharaanku. Malam ini mereka akan menjadi santapan hidangan utama bagi singaku."


Kedua penyusup itu sontak bersujud di bawah kaki Lorcan.


"Yang Mulia, mohon ampuni nyawa kami. Kami hanya mengikuti perintah dari Marchioness Jevano. Tidak lebih dari itu."


Mereka memohon-mohon agar nyawa mereka diselamatkan. Berusaha terus menerus meminta kerendahan hati Lorcan. Namun, sayangnya, Lorcan bukanlah tipe manusia yang pengampun.


"Berisik! Cepat bawa mereka ke kandang singa! Aku tidak mau mendengar ocehan tak berguna itu lagi," tegas Lorcan.


"Baik, Yang Mulia."


Lorcan berdecak sebal. Dia tidak menyangka harus menghadapi sesuatu yang menurutnya hanya membuang-buang waktu.


"Apa tidak ada informasi yang lebih berguna lagi? Aku perlu alasan memenggal kepala wanita sinting itu."


Tak menunggu lama, seorang kesatria datang menemui Lorcan. Dia membawakan surat yang dikirim langsung oleh Andressa.


"Surat dari Andressa? Kira-kira apa yang dia tulis?"

__ADS_1


Lorcan membaca isi surat tersebut. Darahnya mendidih tatkala melihat tulisan yang mengatakan bahwa Marchioness Jevano punya niat yang lebih buruk dari dugaannya. Betapa panasnya kepala Lorcan saat itu. Dia sungguh tidak bisa lagi membiarkan Marchioness Jevano bertindak sesuka hatinya.


"Wanita ini sungguh menjengkelkan. Dari mana aku harus memulainya? Haruskah aku membuat dia menderita terlebih dahulu atau lansung membunuhnya saja? Ah, aku pikir tidak baik membunuhnya langsung, aku serahkan saja kepada Andressa sepenuhnya."


__ADS_2